Surat Kabar Pagi Hari

Penulis : Fauzie Nur Ramadhan
Senyum manis tersimpul di bibir mungil itu, sebuah kecupan diberikan sebagai buah tangan.

“Selamat malam”, katanya.

Gadis centil yang berparas dewi itu perlahan meninggalkannya, menaiki anak tangga dengan irama riang, lambaian tangan dari pintu kembali menegaskan perpisahan aneh pada malam itu. Lelaki muda, tampan, berbadan tegap, seorang pemuda yang kaya. Ya, cukup untuk selalu berada dalam garis terdepan dalam setiap pembayaran setiap kali mereka kencan. Apa yang menarik pemuda se-menarik dia untuk lebih tertarik pada perangai ceria yang ada pada gadis itu? ah, hanya Tuhan yang tahu.

Suara tetesan hujan yang ramah pagi itu, ia terbangun, teringat perempuan muda yang dalam beberapa waktu terakhir selalu membuatnya merasa lebih bahagia. Ini bukan tentang pemuda yang depresi akibat kehancuran rumah tangga atau kekurangan kasih sayang, hanya saja perempuan itu begitu indah untuk dibiarkan begitu saja. Digamitnya segelas teh pagi itu, mengecek berita di surat kabar yang baru saja dilemparkan sang loper koran. 

“Seperti biasa, hanya berita yang membuat orang mendengki dan mengumpat. persetan dengan media massa. tahan kah bila orang-orang bodoh terus membacanya?” Ibunya yang mencoba mengintip dari ruangan sebelah hanya tersenyum.

Malam ini, kencan yang kesekian. Perempuan cantik itu tanpa sabar menunggu memberikan pelukan terhangat yang tidak akan bisa kau bayangkan. Lebih hangat dari selimut berharga mahal, lebih hangat dari api unggun perkemahan. Kecupannya kali ini membuat pemuda tampan itu tidak bisa melepaskan tatapannya ke mata gadis mungil itu. Bibir hangat itu menyentuhnya perlahan. Ada yang sedang mabuk cinta rupanya. Bulan pun ikut berbahagia, sinarnya menerangi mereka malam itu.

“Dan apakah hanya dalam kenyataan aku bisa berbohong, dia manis. tidak buruk, sangat tidak buruk untuk gadis seperti dia”.

Apakah Tuhan tahu sedikit, atau setidaknya semua hal yang telah dan akan terjadi? Pemuda itu begitu kebingungan pagi itu. Berita terbaru dari surat kabar pun diperiksanya, dan hanya isak tangis yang terdengar keras pagi itu. Hujan pun tidak, padahal matahari cukup baik untuk memberikan semangat pada bunga-bunga di pekarangannya. Seperti kesetanan ketika ia menemukan namanya dalam kasus pembunuhan dirinya, satu tahun yang lalu.

No comments:

Powered by Blogger.