Resensi Lagu This Is Me : Mari Lawan Diskriminasi

Penulis :  Annisa I

When the sharpest words wanna cut me down
I'm gonna send a flood, gonna drown them out
I am brave, I am bruised
I am who I'm meant to be, this is me
Look out 'cause here I come
And I'm marching on to the beat I drum
I'm not scared to be seen
I make no apologies, this is me

Penggalan lirik lagu This Is Me versi Keala Seattle yang menjadi soundtrack di film the Greatest Showman selalu memberi semangat dan berkali-kali juga membuat saya menangis haru saat mendengarnya. Bukan tanpa alasan selain iramanya yang menggugah memainkan emosi para pendengar, lirik dari lagu ini menurut saya juga tidak bisa dianggap remeh atau sebelah mata.

Tak berbeda dengan pesan film The Greatest Showman, lirik lagu ini juga menceritakan perjuangan para makhluk Tuhan yang berani muncul ke dunia luar meskipun Tuhan membentuk mereka ‘sedikit’ berbeda.

Dalam filmnya ada banyak tokoh yang diceritakan manusia- manusia yang dianggap sebelah mata karena ‘bentuknya’ berbeda dengan manusia lain seperti perempuan berjenggot, manusia raksasa atau pria dewasa yang ukuran tubuhnya tetap seperti anak kecil.

Mereka ini yang dikucilkan, diolok-olok, didiskriminasi karena memiliki bentuk fisik berbeda dari orang kebanyakan dan dianggap menyeramkan. Di lirik This Is Me mereka bangkit dari diskriminasi dan berani menunjukkan bahwa mereka sama dengan manusia lainnya.

Lirik lagunya juga sering mengingatkan saya pada teman yang semasa sekolah dulu sering menjadi korban diskriminasi. Dia didiskriminasi karena postur tubuhnya tidak proposional seperti yang lain. Ya, proporsional yang menurut orang kebanyakan adalah artis iklan sabun mandi yang jelas-jelas tidak mencerminkan realitas.

Kasus lain dari diskriminatif adalah cercaan makian yang sering tampil di acara televisi kita. Secara sengaja kerap kali acaranya dipenuhi dengan hujatan tidak mendidik, mencerca fisik satu sama lain atau bahkan melakukan adegan fisik yang membahayakan.

Meskipun kita tahu acara televisi dibuat untuk kepentingan hiburan namun patutkah kalimat dan tindakan diskriminasi disajikan secara berulang-ulang hanya untuk mengejar rating? Sementara kita ketahui masih minim sekali pendidikan literasi media di kalangan masyarakat terutama untuk anak-anak.

Adalah fakta yang sering mendapat efek negatif dari perilaku diskriminatif akhirnya menjadi semakin tidak percaya diri, depresi, ketakutan, merasa terancam kehidupannya bahkan yang terparah hingga melakukan bunuh diri.

Hal itu bisa terjadi karena tidak semua korban dari diskriminasi akan berani melawan ketika menjadi korban atau perilaku diskriminatif, kebanyakan justru diam dan pasrah. Mereka inilah yang harus kita beri perhatian lebih agar tidak banyak lagi yang menjadi korban perundungan.

Seringkali kita tidak sadar saat bercanda ternyata didengarkan seksama oleh orang lain, dianggap serius atau bahasa anak jaman now ‘dimasukkin ke hati’. Nah supaya kita tidak menjadi pelaku bullying lebih baik mencegah daripada mengobati bukan? Jadi Stop ! Stop diskriminasi terhadap sesama. Berhenti mencerca, berhenti mencela.

Semua manusia layak hidup dengan baik, layak didengarkan, layak merasa aman. Hak setiap manusia pula untuk hidup dengan rasa aman dan terlindungi. Manusia tidak dibedakan hanya karena ukuran fisiknya, yang membedakan manusia adalah sifat dan perbuatannya terhadap sesama.

Sama seperti lirik lagu This Is Me

When the sharpest words wanna cut me down
I'm gonna send a flood, gonna drown them out
I am brave, I am bruised
I am who I'm meant to be, this is me

Jangan takut tunjukkan diri, beda adalah seni. Jangan mau didiskriminasi !

No comments:

Powered by Blogger.