Mempertahankan Pasar Tradisional di Era Kekinian

Penulis : Hikmah Bima Odityo
Globalisasi sudah berkembang di ruang politik, sosial budaya, teknologi informasi, transportasi dan ekonomi. Penulis coba menangkap permasalahan yang muncul akibat globalisasi khususnya terhadap eksistensi pasar tradisional, karena pasar tradisional yang mayoritas diisi oleh pelaku UKM, keberadaannya kini semakin tergeser dengan pasar modern.

Berdasarkan Pasal 1 Angka 2 Peraturan Presiden (PERPRES) No 112 tahun 2007 tentang Penataan dan pembinaan pasar tradisional, pusat perbelanjaan dan toko modern, pasar tradisional adalah “Pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Swasta, Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah termasuk kerjasama dengan swasta dengan tempat usaha berupa toko, kios, los dan tenda yang dimiliki/dikelola oleh pedagang kecil, menengah, swadaya masyarakat atau koperasi dengan usaha skala kecil, modal kecil dan dengan proses jual beli barang dagangan melalui tawar-menawar."

Sedangkan pasar modern atau Toko Modern pada Pasal 1 Angka 5 PERPRESNo 112 tahun 2007 tentang Penataan dan pembinaan pasar tradisional, pusat perbelanjaan dan toko modern adalah “Toko dengan sistem pelayanan mandiri, menjual berbagai jenis barang secara eceran yang berbentuk Minimarket, Supermarket, Department Store, Hypermarket ataupun grosir yang berbentuk Perkulakan.”

Ini artinya keberadaan pasar tradisional dan pasar modern sudah diatur dengan jelas dan bisa saling menopang perekonomian di masyarakat. Bahkan untuk mempertahankan eksisistensi pasar tradisional dari maraknya pasar modern juga diterapkan kebijakan  baik di tingkat pusat maupun daerah. 

Seperti dibuatnya PERPRES No 112 tahun 2007 tentang Penataan dan pembinaan pasar tradisional, pusat perbelanjaan dan toko modern, Permendag No. 70 Tahun 2013 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Pasar Modern menjadi Permendag No. 56 Tahun 2014 dan peraturan daerah lainnya.


Permasalahan dan Solusi

Solusi permasalahan ini tidak cukup selesai di hulu tapi juga harus sampai juga ke hilir. Membangun fisik pasar saja tidak cukup oleh karena itu manajemen pedagang harus didampingi mulai dari pembukuan yang sederhana seperti pencatatan uang yang keluar masuk, kualitas SDM di pasar tradisional juga harus ditingkatkan.

Pengawasan terhadap pengelolaan pasar tradisional juga harus ditingkatkan dan sifatnya harus berkelanjutan, mengingat sejumlah pasar tradisional yang sudah direvitalisasi kondisinya ada yang kembali menjadi kumuh, bau, dan semrawut saat tidak diawasi. Tindakan tegas juga diperlukan untuk menghukum pasar modern yang melanggar aturan yang sudah ada terutama saat berbenturan dengan kepentingan pasar tradisional.

Pemaparan diatas dirasa cukup untuk mengatasi kegelisahan yang dihadapi pelaku UKM pada umumnya dan pasar tradisional pada khususnya untuk mampu bertahan dari perkembangan pesat pasar modern pada era pasar bebas ASEAN ini. 

Justru dengan adanya globalisasi kita dapat memanfaatkan potensi lokal yang ada seperti jajanan khas pasar tradisional yaitu klepon, tiwul, getuk, grontol, dsb menjadi produk perdagangan yang bisa bersaing di pasar internasional. Kita bisa belajar dari Pasar Sanur Bali yang mampu mempertahankan ke tradisonalannya namun juga menarik wisatawan asing untuk berkunjung

Terakhir tapi bukan yang akhir, pasar tradisional di beberapa daerah juga masuk ke dalam cagar budaya, artinya selain alasan ekonomi pasar tradisional juga haruslah dipertahankan sebagai pengingat dan pembentuk budaya nasional kita.

No comments:

Powered by Blogger.