Menemukan Platform Bersama Mengantisipasi Keretakan Sosial

Penulis : Anis S
Dampak dari kampanye politik berbau politik SARA masih terasa hingga saat ini. Bermula dari brutalnya kampanye pada pemilihan presiden (Pilpres) 2014 lalu antara Joko Widodo yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Prabowo Subianto, pendiri Partai Gerindra yang kemudian mengusung namanya sebagai capres saat itu.

Pasca pilpres tersebut masyarakat terpolarisasi ke dalam dua kutub yang berseberangan dalam memandang sebuah isu, kebijakan, hingga ideologi. Tidak sedikit kabar yang terdengar pertemanan menjadi terputus, sesama saudara saling bertikai, bahkan dengan orang yang tidak dikenal bisa adu argumen dengan di media sosial. 

Tren polarisasi ini rupanya berlanjut pada pemilihan gubernur DKI Jakarta tahun lalu dan sepertinya akan berlanjut pada pemilihan presiden 2019 yang akan datang. Jika ini terus berlanjut, dikhawatirkan rakyat semakin terpecah belah dan sulit untuk mewujudkan persatuan.


Mendalami Makna Persaudaraan
Persaudaraan (atau ukhuwwah dalam bahasa Arab) lahir diilhami oleh eksistensi manusia sebagai makhluk sosial. Istilah ukhuwwah sendiri sudah lazim didengar, seperti ukhuwwah Islamiyah (persaudaraan umat islam), ukhuwwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan) dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan kemanusiaan). 

Di antara ketiganya yang paling sering ditekankan di khutbah-khutbah dan ceramah-ceramah adalah ukhuwwah Islamiyah. Pertanyaan yang kemudian muncul, Bagaimana mewujudkan persaudaraan kebangsaan dan persaudaraan umat manusia yang bersifat universal, lintas etnis serta agama/kepercayaan dalam bingkai ukhuwwah Islamiyah

Apakah pemahaman kita selama ini terhadap ukhuwwah Islamiyah sudah benar? Karena menurut sejarah tak satupun umat Islam yang menggunakan jubah sektarian Islam mampu menyatukan visi kebangsaan dan kemanusiaan yang universal.

KH. Said Aqil Siraj dalam bukunya yang berjudul Tasawuf sebagai Kritik Sosial menyebutkan bahwa satu-satunya bentuk persaudaraan yang disinyalir dalam kitab suci kaum muslim adalah “ukhuwwah imaniyah”, yakni satu bentuk persaudaraan lintas iman atau persaudaraan antar umat beriman. Pola persaudaraan semacam inilah yang dikembangkan Nabi Muhammad Saw dalam membangun negara Madinah yang kemudian diteruskan oleh Al-Khulafaur Rasyidin.

Jadi, ukhuwwah imaniyah berbada dengan ukhuwwah Islamiyah yang lebih parsial dan sektarian. Ukhuwwah imaniyah merupakan jaringan persaudaraan yang dilandasi persamaan keimanan seseorang terhadap Tuhan, tanpa memandang bentuk-bentuk agama dan kepercayaan mereka. Pagar-pagar yang bernama Islam, Nasrani, Yahudi, Majusi, dan lainnya bukanlah penghalang bagi terbentuknya ukhuwwah imaniyah. Ia bersifat batini, namun universal, yang mencakup segenap umat manusia yang mempunyai keyakinan dan keimanan terhadap Yang Transenden.

Ibnu ‘Arabi punya pandangan lebih mendalam mengenai ukhuwwah imaniyah ini yang dikemukakan dalam karyanya Fushushul Hikam, bahwa proses penciptaan Adam sebagai asal-usul manusia, bermula dari kehendak Tuhan untuk mengenal diri-Nya dan memperkenalkan diri dalam kesendirian-Nya. Kemudian terjadilah emanasi terhadap alam semesta. Emanasi ini ibarat benda yang bercermin pada cermin buram, sehingga masih sulit dikenal. Maka, Adamlah makhluk Tuhan yang mampu menjernihkan cermin tersebut. 

Artinya, prototipe Adam yang mampu menghimpun semua karakteristik Tuhan. Dengan kata lain, bahwa seseorang baru mampu mengimplementasikan rasa persaudaraan yang sejati, apabila mampu memposisikan dirinya sebagai cermin jernih Tuhan. Upaya semacam ini mustahil terjadi pada jiwa yang kering dan gersang dari keimanan kepada Tuhan.

Dalam Islam, manusia diciptakan sebagai khalifah (mandataris) Tuhan di muka bumi. Manusia juga mengemban misi tauhid atau monoteisme sebagai misi pengayoman terhadap seluruh umat manusia. Kalimat “La ilaha illallah”, tiada Tuhan selain Allah, meskipun ringkas namun memiliki substansi yang hakiki sebagai peneguh sikap, bahwa semua realitas, penguasa, majikan, etnis, ras, golongan, harta benda dan lainnya sebenarnya adalah semu. Karena yang hakiki hanyalah Allah. Oleh karena itu, semua usaha yang tidak disandarkan atas nama Tuhan haruslah ditolak.


Menemukan platform bersama mewujudkan persatuan
Praktik memperjual belikan agama dan politisasi agama merupakan bukti bawa beragama saja tidak cukup, karena agama tidak menjamin keimanan seseorang. Umat beragama yang formalis cenderung mempersoalkan hal-hal parsial yang bersifat lahiriah seperti cara beribadah dan bersembahyang, sementara esensi ibadahnya itu sendiri sering dilupakan. Tentu kita tidak menginginkan agama dipolitisasi sedemikian gila sampai memainkan keimanan dengan dengan simbol-simbol formal belaka, dengan kata lain agama tinggal soal “kulit” saja.

Sehingga ukhuwwah imaniyah menjadi penting karena istilah “umat beriman” bukan hanya monopoli segolongan komunitas penganut agama tertentu saja. Semua orang yang tak mengingkari eksistensi Tuhan tercakup dalam bingkai “umat beriman”. Dengan demikian, sifat adil, jujur, dapat dipercaya, amanah (komitmen), kasih sayang, dan kebebasan berekspresi adalah karakter dasar umat beriman. 

Segala bentuk kedzaliman, memperjualbelikan agama, korupsi, penyebaran berita bohong dan masih banyak bentuknya merupakan penyimpangan dari amanah Tuhan. Dengan ukhuwwah imaniyah, persatuan bisa diwujudkan secara lintas agama dan kepercayaan, lintas etnis serta lintas kebudayaan.

Perbedaan adalah realitas kehidupan lahiriah manusia, sedangkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah dimensi batiniah yang tertanam dalam jiwa manusia tanpa mengenal atribut lahiriah manusia. Esensi inilah yang akan memperkuat tali persaudaraan sebangsa dalam koridor keimanan, bukan persatuan keropos yang dikaitkan dengan penampilan lahiriah seperti uang, jabatan, kakayaan, termasuk agama secara formal.

No comments:

Powered by Blogger.