Menjadi Millennial yang Kaffah dan Kekinian

Penulis : Fauzie Nur Ramadhan
Segelas kopi yang sudah dicampur aduk dengan susu dan gula, ditambah sedikit caramel menjadi teman bercinta malam ini. Tapi, malam ini tidak ada pembicaraan mengenai cinta, puisi yang mendayu-dayu, atau bahkan kata-kata merayu, yah walau sejak beberapa tahun terakhir, karya sastra yang bertemakan cinta mempunyai tempat khusus di hati para penikmatnya.

Bahkan ada beberapa kawan yang pada akhirnya memutuskan untuk menulis mengenai cinta hanya karena mereka merasa bahwa pasar dari penikmat tema cinta itu sangat banyak, yang akhirnya mengehambat diri mereka dalam mempunyai perspektif lebih luas.

Ironi, karena mereka menulis hanya untuk menuruti permintaan pasar. Padahal, pasar itu sendiri bisa diciptakan, jangan hanya cipta yang dipasarkan.

Baiklah, cukup nyiyirnya malam ini. Mari kita mulai.


Globalisasi dengan pengaruh perkembangan teknologi dan juga munculnya internet menjadikan penyebaran informasi yang tak terbendung. Dengan terhubungnya jutaan komputer diseluruh dunia, akses terhadap informasi menjadi lebih mudah.


Allan Cochrane dan Kathy Pain (2004) memberikan definisi mengenai globalisasi yaitu mengglobalnya batas-batas kultural antar bangsa di berbagai kawasan dunia, yakni munculnya sebuah sistem ekonomi dan budaya global yang membuat manusia di seluruh dunia menjadi sebuah masyarakat tunggal yang global.

Globalisasi bukan merupakan barang baru yang terjadi di dalam kehidupan kita yang sederhana. Hal itu sudah menjadi bagian dari hidup yang kita jalani setiap hari. Selalu ada unsur globalisasi, mulai dari makanan yang kita makan, musik yang kita dengar, film yang kita tonton, bahkan media yang kita gunakan setiap hari dalam melakukan komunikasi.

Informasi yang bisa kita dapatkan tentunya bisa dimanfaatkan. Penyebaran informasi tersebut tidak hanya sebatas di laman web saja, namun penyebarannya bisa juga melalui media sosial yang dibagikan oleh satu akun dengan akun yang lainnya.

Sebagai suatu fenomena yang kekinian, media sosial menjelma menjadi hal penting dalam kehidupan. Media sosial adalah medium di internet yang memungkinkan pengguna merepresentasikan dirinya maupun berinteraksi, bekerja sama, berbagi, berkomunikasi dengan pengguna lain, dan membentuk ikatan sosial secara virtual, setidaknya itulah pendapat menurut Rulli Nasrullah.

Pada tahun 2016 Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (disingkat: APJII) melakukan survey, dan hasilnya adalah pengguna internet di Indonesia pada tahun 2016 didominasi oleh generasi muda dalam rentang usia 20-24 tahun dan 25-29 tahun yang memiliki angka penetrasi hingga lebih dari 80 persen. Pada kategori usia 20-24 tahun ditemukan 22,3 juta jiwa dan pada kelompok 25-29 tahun, terdapat 24 juta pengguna internet.

Berdasarkan profesi, profesi yang paling banyak menggunakan internet adalah mahasiswa. Media sosial merajai konten internet sebagai yang paling sering diakses oleh pengguna. Tercatat 97,4 persen orang Indonesia mengakses akun media sosial saat menggunakan internet, ya gelombang generasi millennial dan generasi Z adalah yang paling besar, seperti dilansit di dalam laman cnn.com

Apa sih Millennial itu? Dalam beberapa riset yang dilakukan, ada beberapa indikator dari generasi Millennial yang adalah mereka yang lahir dalam rentang waktu tahun 1978-1995, dan juga mempunyai pemikiran yang lebih terbuka dengan ide-ide yang terus bermunculan sehingga menciptakan iklim yang dinamis, tidak stagnan dalam suatu isu.

Terkejut, jangan? Jangan. Saat ini Indonesia memang memiliki penduduk dengan kelompok umur produktif yang banyak, atau bisa dikatakan mereka yang termasuk ke dalam generasi Millennial dan pada tahun 2045, Indonesia dapat memiliki suatu bonus demografi yang bisa menguntungkan negara ini, jika dijaga dengan baik, atau malah menjadi suatu malapetaka.

Di dalam masa pertumbuhan dari kaum Millennial ini juga terjadi perubahan yang berbagai macam, berkembang pesatnya internet, hadirnya media sosial yang ternyata membawa dampak sangat besar, bahkan bisa dijadikan lahan yang menarik untuk nyinyir. Nangkring sambil liat profil orang lain, terus nyinyir, ah indahnya hidup ini.

Menjadi kaum Millennial yang dimudahkan dengan berbagai hal harusnya juga bisa mempengaruhi kita dalam membawa dampak yang lebih positif kepada keadaan sekitar. Memanfaatkan teknologi dengan efektif dan dengan cara yang kekinian, kemudian membawa perubahan. Terdengar utopis namun sebenarnya sangat mungkin untuk direalisasikan.

Mencurahkan ide, dituangkan dalam suatu konsep, dan tahap selanjutnya melakukan ekeskusi. Hidup kita tidak hanya sebatas sibuk dengan gawai sambil nyinyir profil orang lain kok. Bahkan media sosial dapat dimanfaatkan dengan sangat simple dan bermanfaat. Melakukan kegiatan entrepreneur atau bahkan melakukan kampanye sosial dengan harapan masyarakat bisa aware suatu isu.

Kekinian yang menyeluruh adalah dengan cara peka terhadap isu sosial, mencoba menjawabnya dengan solusi dan berdampak secara luas. Kekinian dengan cara mengikuti perkembangan yang ada, memanfaatkan semua teknologi dengan efektif yang mampu menjawab problematika yang pastinya akan terus ada.

Kepekaan kita tentang hal-hal yang terjadi disekitar kita kemudian bisa ditransformasikan menjadi suatu hal yang bermanfaat. Menciptakan perusahaan start-up yang menjawab problematika yang ada di masyarakat, membuat strategi untuk menjadikan kampanye sosial yang bisa menjadi viral dan bermanfaat untuk masyarakat.

Pesan terakhir malam ini. Jadi lah kaum Millennial yang kaffah dan kekinian. Jangan hanya hidup untuk nyinyir, jangan hanya hidup untuk sekedar mengharapkan like dan comment yang banyak.

Jangan lupa minum kopi. Jangan sambil misuh. Jangan lupa move on.

Tetap muda dan progresif.

No comments:

Powered by Blogger.