Peran Perempuan dalam Perubahan Iklim

Penulis : Hikmah Bima Odityo
Masih dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional pekan lalu, saya merenungkan tentang pola diskriminasi dan relasi gender terhadap refleksi efek rumah kaca yang kian hari semakin mengkhawatirkan.

Tak dapat dipungkiri bahwa suhu bumi saat ini terus meningkat, pun juga dengan permukaan air laut, banjir hingga kekeringan di beberapa wilayah yang kita alami. Semua berasal dari aktivitas manusia penggunaan energi tak ramah lingkungan, limbah, hingga deforestasi dan degradasi hutan yang menghasilkan zat antropogenik, .

Dampak dari aktivitas manusia yang tidak ramah dengan alam tersebut dapat menyebabkan kemiskinan akut. Disparitas ekonomi antara kaum kaya dan si miskin yang semakin luas mengakibatkan perpindahan penduduk serta mempengaruhi pola relasi gender antara laki-laki dan perempuan yang berujung pada ketidaksetaraan gender.

Tak hanya secara ekonomi, berubahnya iklim yang ekstrim juga mempengaruhi secara sosial dan budaya. Di bidang kesehatan misalnya, kondisi fisik manusia semakin rentan karena penyebaran penyakit, seperti malaria, diare, kolera yang dapat menyebabkan kematian.

Perempuan juga masuk sebagai kelompok masyarakat yang paling rentan, dan seringkali menjadi korban terbanyak dalam bencana alam yang berskala besar. Contohnya seperti yang terjadi pada bencana tsunami di Aceh atau badai yang terjadi di Honduras dan Amerika Serikat.

Berangkat dari pemahaman bahwa ketidaksetaraan gender sebenarnya telah ada di masyarakat sebelum bencana alam terjadi. Argumen ketidaksetaraan menjadi sangat jelas ketika terjadi bencana yang menyebabkan perempuan sebagai mayoritas korbannya.

Ketidaksetaraan gender dalam konteks ini sangat berkaitan dengan kemampuan perempuan dan laki-laki dalam mengakses sumber daya, informasi, mobilitas, dan proses pembuatan kebijakan hingga menentukan siapa yang paling merasakan dampak dari bencana alam.

Berdasarkan data yang diberikan oleh Solidaritas Perempuan, perempuan di daerah pedesaan memikul beban yang sangat besar terhadap dampak perubahan iklim. Karena selain harus memikul tanggung jawab domestik untuk memenuhi kebutuhan keluarga, mereka juga terancam menikmati kemiskinan akibat hilangnya pekerjaan yang mayoritas profesinya sebagai petani.

Kebanyakan perempuan yang bekerja di sektor pertanian dan sektor informal lainnya notabene merupakan golongan rentan secara ekonomi terhadap bencana alam. Keduanya sektor tersebut tergolong sebagai korban dengan tingkat kerusakan terparah ketika terjadi suatu bencana alam.

Akibat bencana, perempuan yang menggantungkan hidupnya di sektor tersebut menderita kerugian yang luar biasa karena kehilangan pekerjaan dan jatuh miskin. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya kegagalan panen akibat kekeringan. Belum lagi ketika perempuan adat di daerah tertentu sulit mengakses barang-barang penunjang untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, seperti kayu bakar.

Selama ini pelibatan perempuan belum optimal dalam hal mitigasi karena minimnya tindakan precautionary. Perempuan belum bisa merasakan program-program pemerintah (REDD+ sebagai contoh) yang seharusnya bisa menjamah mereka untuk melakukan adaptasi terhadap bencana dan perubahan iklim.

Sudah saatnya perempuan mewakili negosiasi iklim yang selama ini cenderung stagnan dan didominasi laki-laki. Pelibatan tersebut dapat diterapkan pada implementasi Paris Agreement 2020 pasca selesainya rezim Kyoto Protokol.

Perempuan juga harus dilibatkan dan melibatkan diri dalam pengarusutamaan gender dalam kebijakan lokal maupun internasional. Perempuan dapat merubah kebijakan terutama menyangkut bencana yang selama ini masih tendensius terhegemoni tafsir agama konservatif dan budaya patriarki yang tumbuh sumbur di negeri ini.

Sebagai penutup saya meyakini bahwa ke depan permasalahan manusia tidak hanya dihadapkan pada perbedaan visi politik dan identitas milik masing-masing pemimpin laiknya yang terjadi dewasa ini. Satu hal yang perlu disadari, diam-diam ancaman besar menanti, berasal dari alam kita sendiri, akibat perbuatan kita sendiri.

Apakah kamu merasakannya?

No comments:

Powered by Blogger.