Perangai Kasmaran

Penulis : Fauzie Nur Ramadhan
Terkadang, semuanya tak usah kau pikirkan. Tak usah kau hiraukan. Nikmati saja hujan yang menari sore itu. Lihat saja terik matahari yang menemani siang itu. Hingga datang saat malam dimana kau menjadi diam. Bisu seketika. Apa yang kau harap tak sekedar omong kosong.

Bukankah malam selalu jadi teman terbaikmu? Dengan segala keindahan manisnya senyuman bulan dan juga pasir bertabur di langit yang gelap itu, "Hanya perasaan yang menghanyutkanmu dan juga pikiran yang mengacak segala tatanan yang coba kau bangun", begitu kata seorang kawan.

Tapi malam ini aku tidak ingin menjadi naif. Mencoba menjadi seperti langit siang bolong, terbakar api rindu. Mencoba seperti angin malam, menusuk perih ke dalam sukma. Tapi hanya memang simpul manis di bibirnya itu yang menjadi penawar segala pilu. Ah, saat ini aku hanya berkhayal. Ia jauh disana.

Terkadang jarak memang suka usil. Bermain-main dengan perasaan manusia. Seenaknya menghadirkan rindu yang tak kunjung jadi tatap mata yang katanya penuh kasih.

Terkadang waktu memang kejam. Terus berjalan, tanpa sudi menunggu yang tertinggal. Padahal tidak ada kereta selanjutnya untuk menyusul. Tidak dihargai sepeser pun begitu hilang! Begitu cara waktu mengajari makna dalam menjaga sesuatu. Sebelum milikmu itu hilang dengan cara yang tak akan kau duga-duga.

No comments:

Powered by Blogger.