Petrichor: Sebut Saja, Mawar.

Penulis: Fauzie Nur Ramadhan

Tipe akan kekaguman terhadap seseorang kadang membuatku mati suri. Saat ia berargumen tidak sedikitpun berkedip. Lugas dan sepertinya ia punya dasar-dasar di setiap kata yang ia pakai. Unik. Senyumnya menjadi gula, dan kopi hitam itu sedikit pudar. Setidaknya, menjadi manis, bercampur dengan nikmatnya rasa pahit. Pahit yang kerap menjadi tawa dan senyum yang tidak bisa dijelaskan.
Pikiran yang tidak karuan itu masih datang dan pergi. Mungkin terlalu banyak memikirkan tentang perasaan memang membawa suatu malapetaka. Kuliah tidak karuan, masih saja mencoba memikirkan hal itu dan berandai-andai tentang perempuan yang membuatnya begadang semalam suntuk. Kejadian di apartemen saat akhir pekan kemarin memang tidak disangka-sangka olehnya.

Mari kita menulis saat masih pagi-pagi buta, karena hanya pada saat seperti itu pikirannya bisa sedikit tenang, dengan bantuan kafein yang overload dan beberapa batang kretek. Terbangun di dalam kamar dari sebuah bangunan yang dijadikannya pelarian setiap perasaannya dibolak-balik, di sudut kamar ada jaring laba-laba, terlihat laba-laba itu asyik mengikat mesra mangsanya dengan penuh sumringah. Pandangan pertama yang cukup romantis pagi ini. Tersadar dengan sedikit rasa sakit, ternyata gunting yang tadi malam digunakannya untuk menggunting sebuah artikel di koran masih tergeletak manis di tempat tidur. Sedikit bercak merah di tempat tidur. Sedikit panik rasanya. Ternyata tumpahan minuman dengan karbonasi, sisa tadi malam. Tidak ada jam dinding di sana, hanya ada sebuah jam tangan pemberian seseorang yang masih dikaguminya sampai saat ini. Digamit dengan cepat dan dilihatnya jam tangan itu, jarum pendek menunjuk ke arah angka delapan. Masih terlalu pagi rupanya. Dipejamkan kembali mata itu. Mata yang saat ini terlalu banyak melihat dosa.

Telepon genggam yang bergetar daritadi, dilihatnya sekilas. Barang yang menjadi candu bagi kebanyakan manusia sekarang. Narkoba dalam bentuk baru sepertinya. Pesan singkat, tidak sesingkat maknanya, dan tidak sesingkat namanya. isinya jauh lebih panjang. Makin tidak karuan saja otaknya pagi itu. Memang, sinar matahari yang terbiaskan pagi itu sudah menyelinap masuk daritadi, tetap saja pikirannya gesrek. Ya, gesrek. Akhir-akhir ini banyak orang yang berucap dengan sindiran yang sedikit gesrek kepadanya. Bertanyakan tentang arti dari sebuah hal yang rancu. Makna dari sebuah hal yang dianggap sakral, bahkan oleh Shakespeare itu sendiri yang mengabadikannya di dalam sebuah karya roman abadi. Seperti sebuah hal yang bodoh terlihatnya, kau meminum racun untuk meninggalkan hidup yang bagimu tidak menjadi hidup ketika orang yang menjadi penjelasan bagi setiap pertanyaanmu itu mati. Ya, mati. Tubuh nya dingin, walau tidak membeku. Raut wajahnya hampa.

Sebotol air mineral diteguknya, sedikit lega tenggorokan yang sudah kering dari semalam. Deskripsi atas hal yang terjadi belakangan ini tidak mampu menjelaskan secara mendalam. Rumit menjadi kambing hitam dan pelarian atas kejadian yang membuatnya ingin memuntahkan kata-kata sarkas kepada setiap orang yang terlalu mencampuri hal yang membuatnya senyum itu. Setidaknya, setelah sekian waktu tidak dirasanya lagi keindahan dan anugerah dari seorang mahluk Tuhan itu. Dan cerita terus mengalir setiap harinya, dengan plot yang berbeda, dengan konflik yang berbeda, seakan semuanya tidak pernah menjadi klimaks dan selalu mengubah arti dari setiap cerita yang ada.

Potongan rambut yang tidak karuan. Ditatapnya cermin dan dilihatnya ekspresi dari seorang manusia dan masih punya daging, dan semoga masih punya otak. Ya memang otaknya masih bermusuhan dengan perasaannya. Ketika perdebatan tentang hal yang muncul dari sebuah perasaan yang bagi sebagian orang tabu untuk dibicarakan, apalagi dilogikakan. Perdebatan itu mengenai apakah logika atau perasaan yang lebih dulu hadir. Diam menjadi emas saat itu. Jika dikatakan bahwa diam itu lebih baik, hal itu benar-benar dirasakannya. Deskripsi soal ini pun masih menjadi keputusasaan. Setidaknya, mahluk Tuhan dengan lekuk tubuh indah itu masih ada baginya. Dengan segala feminisme yang ia ciptakan hampir setiap harinya. Rasanya abstrak.

Tidak lupa bahwa ia telah menjanjikan kue kesukaan perempuan yang ia puja belakangan ini, setelah bersiap-siap, menyemprotkan parfum kesukaannya, mengancingkan kemeja berwarna hijau tua, dan memakai jam tangan kesayangannya, kemudian bergegas ia berangkat ke toko kue langganannya.

"Selamat siang! wah, seperti biasa ya, aromanya selalu harum", sapanya kepada penjaga kasir toko kue itu.

"Seperti biasa kan? Tapi, rapih sekali hari ini, dan bau parfum yang menyengat. Ingin pergi kencan ya?", balasnya penjaga kasir.

"Tidak, hanya saja, setiap bertemu rasanya ingin memberikan sesuatu yang terbaik, serendah-rendahnya adalah dengan tidak membiarkan dia mencium bau badan yang ingin membuatnya mual", timpalnya, diikuti gelak tawa mereka berdua.

Setelah mendapatkan kue kesukaan kekasihnya itu, bergegas ia ke toko buku yang berada di ujung jalan. Toko buku itu menyimpan banyak koleksi yang membuatnya betah berlama-lama di sana, jika sedang ada waktu bersama, mereka berdua memang lebih sering menghabiskan waktu di sana daripada menonton film di bioskop. Hal tersebut semata-mata dilakukan hanya karena mereka merasa pikiran mereka lebih suka membayangkan sesuatu yang luas dan abstrak ketika membaca buku-buku yang tersusun rapih di rak buku.

Di saat sedang memilih buku yang akan dibelinya hari itu, ia menggamit telepon genggamnya dan menghubungi perempuan yang dirindunya itu. Sesaat kemudian terdengar suara merdu yang jadi kebahagian baginya.

"Halo? Sedang di mana? Hari ini jadi mampir kan? Kemarin sudah janji, jangan ingkar. Kue yang ku tunggu itu sudah manis, jangan ditambah lagi dengan janji manismu yang kemudian kau langgar".

Sambil tertawa, lelaki itu menimpali ocehan kekasihnya,

"Tumben, hari ini kenapa sangat bawel? Kalau rindu, bilang, tapi jangan dibicarakan terlalu banyak, seperti yang ku bilang kemarin".

"Memangnya kenapa? Apa yang salah?", gumam perempuan itu.

"Tidak salah, hanya saja aku lebih memilih untuk memberitahumu sekali saja, kemudian saat bertemu bisa menikmati senyum mu sampai puas", timpalnya.

"Baiklah, kau akan mendapatkannya hari ini", balas perempuan itu sembari menutup panggilan telepon itu.

Lelaki itu hanya terdiam keheranan, setelah lama mencari akhirnya ia menemukan buku yang dicarinya. Buku yang setelah dibaca membuatnya diam. Diam karena ia mencoba mengerti kisah yang coba disampaikan oleh penulisnya. Victor Hugo memang tidak sembarangan menulisnya, entah dengan imajinasi dan isi otak yang seperti apa, setiap orang yang membacanya hanya akan dibuat terkagum-kagum. 

Ada salah satu alasan mengapa ia bermaksud memberikan buku itu sebagai hadiah ulang tahun kepada perempuan yang membuatnya mabuk kepayang itu, yaitu salah satu kutipan dari buku karya Victor Hugo yang berjudul Les Miserables tersebut:

“To love or have loved, that is enough. Ask nothing further. There is no other pearl to be found in the dark folds of life.”

Dengan sumringah ia bergegas membayar ke kasir dan menuju apartemen yang hanya berjarak satu blok dari toko buku tersebut. Tidak perlu naik bus atau kereta, cukup ditemani  setangkai mawar yang ia beli di ujung jalan dan angin yang berhembus lembut sore itu. Tidak lupa ditemani oleh rasa syukur yang selalu ia pertanyakan kepada sang Maha. Mungkin memang ada hal-hal yang tak perlu dipertanyakan, karena hanya cukup disyukuri dan dijaga. Tidak kurang dan tidak lebih.

1 comment:

Powered by Blogger.