Petrichor

Penulis : Fauzie Nur Ramadhan

Ibukota selalu menjadi candu bagi setiap penikmatnya. Berbondong-bondong orang dari segala penjuru mendatanginya setiap tahun. Di sana ada tambang emas katanya. Mengadu nasib di ibukota menjadi gairah bagi banyak orang. Dengan modal apapun bisa saja nekat berangkat ke sana, tak terkecuali hanya modal nekat! Entah apa jadinya nanti saat tiba, yang penting sudah sampai di ibukota dan bisa mengabari sanak saudara di kampung halaman.

Ibukota selalu punya kesan tersendiri bagi setiap orang yang lalu lalang di dalamnya. Ada kisah di setiap harinya, di setiap detik yang berlalu. Saat bangun pagi untuk bergegas ke sekolah, saat terburu-buru memakai sepatu untuk mengejar kereta karena takut akan penuh sesak penumpang, saat menyantap makan siang di restoran dengan harga yang menguras kantong, saat menyeruput kopi di kedai kopi sambil melihat banyaknya aktivitas unik yang terjadi, dan saat menikmati rutinitas yang tak mungkin hilang, yaitu bercengkrama dengan kemacetan. Suara bising klakson dan padatnya kendaraan di jalan raya memang tak ubahnya kerumunan disertai sejuta harapan. Bahkan saat hujan datang pun tidak menghilangkan semangat warga ibukota untuk menerobos walau dengan konsekuensi basah kuyup.
Dari sekian banyak kisah yang terjadi di ibukota, ada kisah tentang seseorang yang masih bertumpu pada harapan. Baginya, hari yang baru selalu hadir dengan harapan, dengan senyum dibalik setiap sedihnya, dengan mimpi dibalik setiap kenyataan. Hari minggu memang menjadi surga bagi sebagian orang, dan baginya sedikit lain pada hari itu. Kopi sisa semalam yang sudah dingin masih tergeletak di meja, pakaian dalam yang sudah dilucuti sejak beberapa jam yang lalu berserakan, dan bunyi alarm yang membuat telinga sakit terdengar nyaring. Namun yang membuatnya membuka mata kecilnya pagi itu bukan suara alarm, kicauan burung, maupun bau kopi nusantara yang menyengat, melainkan kecupan hangat dari seseorang yang membuatnya berharap bahwa masih ada matahari setelah malam gelap, bahwa masih ada pelangi setelah hujan lebat, bahwa masih ada tawa setelah tangisan semalam suntuk.
Cerita yang terjadi pada malam sebelumnya memang membuatnya lupa diri, tak peduli akan suara hujan deras yang bising maupun angin yang berhembus sangat dingin, yang ada hanya aroma kisah kasih pasangan penuh kasmaran. Setelah dia terbangun pagi itu, kemudian dia bergegas menggamit kopi sisa semalam yang sudah dingin, diliriknya lagi pria yang membuatnya hanyut, yang membuatnya mencinta, dan membuatnya berharap. Rupanya pria itu kembali terlelap, dan dia kembali bersiap untuk membersihkan kekacauan yang membuat apartemennya seperti kapal pecah. Matahari mulai terik, suara gemuruh kendaraan mulai terdengar, dan harapannya masih ada.
Kekasihnya sudah pergi beranjak keluar, ada urusan mendadak yang harus segera diurus katanya. Apartemen yang sebelumnya adalah kapal pecah berubah seketika menjadi rapih. Kemampuannya dalam menata kembali sesuatu yang hancur memang bukan main-main, seperti maestro yang sangat lihai, tapi hal tersebut tidak berlaku jika dia sedang patah hati, jangankan menata hatinya kembali, mencoba menyentuhnya saja tidak. Hanya diratapi, dan kemudian hanyut. Kemudian dia melihat buku novel yang sudah berkali-kali dibaca tergeletak berserakan tidak karuan, dia kebingungan buku apa yang akan dibacanya hari itu.
“Setelah sekian lama membaca, mungkin tidak buruk juga jika memulai untuk menulis. Mungkin sepatah dua kata tidak apa. Kali ini mari kita bicara tentang sesuatu yang jujur.”
Pikirnya pagi itu. Akhirnya niat untuk membuka lemari yang isinya adalah koleksi buku lama dibatalkan. Kemudian komputer jinjing kesayangannya dipangku dengan sumringah, tidak lupa ditemani kopi hangat yang baru saja dia seduh. Disaat dia ingin mulai mencurahkan isi pikiran dan perasaannya pagi itu, tiba-tiba telepon genggam miliknya berdering, terdengar keras suara nada deringnya dengan alunan khas Brendon Urie. Dari seberang sana, terdengar suara pria yang dirindunya itu.
“Maaf, tidak bisa kembali hari ini. Besok saja ya? Tenang, kue kesukaanmu tidak akan lupa kubawakan. Kali ini, satu saja ya. Nanti diabetes kamu”, kata pria itu.
Kemudian dia membalas sambil tersenyum, “Iya, bawel”.
Sejenak kemudian hening. Tak terbayang semua afeksi yang telah hadir, cukup untuk membuatnya merasa bersyukur dengan setiap hadinya.
Kemudian terdengar suara dari seberang sana,
“Jangan bicara tentang rindu ya, biarkan saja. Jangan pula bicara tentang hal-hal yang kau harapkan, baiknya kita usahakan saja”.
“Iya”, balasnya.
“Sudah dulu ya, sampai ketemu besok! Jangan terlalu sering cemberut, lebih baik senyum saja. Lebih cantik”, kemudian pria itu menutup teleponnya.
Perlahan-lahan kata yang dia coba susun pada hari itu mulai rapih, mulai menemui maknanya. Mulai menjadi tulisan yang paling jujur dari semua tulisan yang pernah dia tulis. Tulisannya pada hari itu adalah tentang kejadian beberapa bulan terakhir yang telah merubahnya menjadi pribadi yang lebih tulus. Merubahnya menjadi sosok yang lebih kuat dengan setiap senyumnya, yang mampu mengikis bekas luka lama yang sudah lapuk. Luka lama yang sudah saatnya hilang, cukup dibiarkan di masa yang sudah lalu.
Aku selalu suka semua hal tentang harapan. Mempunyai harapan, menjadi harapan, merasakan harapan, dan mebiarkan harapan.  Dengan hadirnya menjadikan semesta lebih tenang dan jujur. Walau terkadang bagi sebagian orang, harapan bisa menjerumuskan mereka ke dalam hal gelap tak berujung dan kemudian terjebak oleh rasa nyaman tanpa arah. Tapi selayaknya anugerah yang dihadirkan oleh sang Maha Segala Sesuatu, harapan menjadi pintu baru yang bermuara pada sebuah tawa, bahkan senyuman tulus dari seseorang yang sedang bersyukur terhadap segala sesuatu yang terjadi di dalam hidupnya.
Harapan, itu adalah hal yang selalu aku suka. Layaknya aroma alami yang dihasilkan saat hujan jatuh di tanah. Hasratku tak terbuai, cintaku tak terurai, hanya tertata dan menetap, tercipta dari proses penyatuan dua unsur yang berbeda, menjadi sesuatu yang nyata, juga penuh harap, layaknya Petrichor.

No comments:

Powered by Blogger.