Resensi Film Black Panther : Ga Sesuai Ekspetasi Saya

Penulis : Aldian

Mumpung lagi hangat tentang film terbaru besutan Marvel yaitu Black Panther, maka saya jadi ingin menulis pendapat saya setelah kemarin menontonnya. Berangkat dengan harapan tinggi karena sebelum menonton film ini banyak artikel resensi yang saya baca baik luar maupun dalam negeri memuji film Black Panther dengan judul resensi: film kulit hitam pendobrak Holywood, film sesungguhnya yang berhasil mengangkat isu ras dan gender, film superhero kulit hitam terbaik dan lainnya lagi (berbagai macam resensi tentang film ini bisa baca di sini).

Jalan cerita filmnya secara singkat begini : alkisah zaman dahulu di negeri Wakanda terjadi perang antar suku yang berkepanjangan untuk memperebutkan sumber daya alam utama daerah tersebut yaitu logam bernama vibranium. Pada akhirnya semua suku bisa disatukan di bawah satu pemimpin yang mendapat kekuatan Black Panther dan bertugas melindungi semua suku di sana. 

Dari sini negeri Wakanda berkembang dengan pesat dengan memanfaatkan ilmu dan teknologi dengan bahan utama vibranium. Cerita berlanjut ke tahun 1990 di kota California, Amerika Serikat dimana T'Chaka (Black Panther senior) mendapati adiknya sendiri sebagai orang yang berbahaya karena mempunyai keinginan membebaskan warga kulit hitam di seluruh dunia dengan cara revolusi bersenjata.

Ide sang adek didapat saat melihat kenyataan warga kulit hitam hanya menjadi warga yang termajinalkan dan seringkali ditindas oleh penguasa di seluruh dunia. Menurutnya Wakanda bisa membebaskan warga kulit hitam di dunia dengan teknologi dan senjata yang dimiliki. Rencana revolusioner inilah yang digagalkan oleh T'Chaka dan menyuruh adiknya untuk kembali ke Wakanda.

Beberapa waktu kemudian kematian T’Chaka saat mengisi pidato di PBB (kisah ini diceritakan di film Marvel sebelumnya yaitu Captain America : Civil War) mengharuskan sang anak yaitu T'Challa menggantikannya sebagai raja. Meski demikian perjalanan T'Challa menjadi seorang raja tidaklah mulus karena di tengah cerita terungkap rahasia bahwa sang ayah T'Chaka yang di awal cerita bertugas membawa pulang adiknya ke Wakanda justru dibunuhnya.

Jalinan cerita semakin komplek karena sang adik yang dibunuh ternyata mempunyai seorang anak bernama Killmonger dan mempunyai keinginan membalas dendam kematian ayahnya serta ingin melanjutkan keinginan sang ayah yaitu membebaskan warga kulit hitam di dunia dengan cara menuntut tahta kerajaan kepada T'Challa.

Seperti film Hollywood superhero lainnya, konflik tahta antara Blackpanther dan Killmonger pada akhirnya dimenangkan Blackpanther. Nah disinilah rasa kecewa saya untuk film ini yang digembar gembor sebagai film superhero Marvel terbaik tahun ini. 

Memang banyak sekali wacana yang ingin dibawa oleh film Black Panther terutama isu rasial yang sedang hangat di Amerika Serikat pasca kemenangan Donald Trump. Hal ini dapat dilihat dari dialog-dialog yang dibangun antar pemerannya sepanjang film.

Namun demikian wacana yang coba diangkat tentang ketertindasan kulit hitam, justru menjadi kontradiktif di bagian akhir film karena permasalahan itu terjadi karena konflik internal antar kulit hitam itu sendiri.

Tidak ada cerita revolusi untuk membebaskan kulit hitam dari kulit putih, yang ada hanya pertempuran antar kepala suku yang merasa berhak menduduki tahta.

Negeri Wakanda akhirnya tetap tersembunyi dengan kekayaannya dan membiarkan dunia berjalan timpang sebagaimana sediakala, kecuali jika ingin menghitung kehadiran Black Panther di depan forum PBB dan mendirikan yayasan di Amerika sebagai suatu wacana gerakan revolusioner.

Mungkin satu-satunya kalimat yang saya ingat setelah menonton Black Panther adalah di bagian akhir saat Killmonger memilih dibunuh daripada dijadikan tawanan, begini kata-katanya : "Bury me in the ocean with my ancestors who jumped from the ships, because they knew death was better than bondage".

No comments:

Powered by Blogger.