Resensi Film Roman J. Israel, Esq : Idealisme Dalam Persimpangan

Penulis : Arif Budi P
Danzel Washington yang memerankan tokoh utama Roman J. Israel merupakan pengacara sekaligus aktivis hukum. Dia bersama rekannya, William bekerja pada firma hukum kecil di Kota Los Angles, Amerika Serikat. Israel bertugas mempersiapkan memo dan memberikan pengarahan bagi rekannya ketika bersidang di pengadilan.

Terdapat kata tambahan “Esq” di balik nama Roman J. Israel. “Esq” adalah singkatan dari Esquire atau nama lain dari Juris Doktor. Gelar pascasarjana profesional tertinggi di bidang hukum ini merupakan gelar Doktoral Hukum atau Doctor of Law atau Doctor of Jurisprudence. Program Juris Doktor mengambil pendekatan ilmiah terhadap hukum, mempelajari logika, dan analisis berlawanan. Program pendidikan ini dipersiapkan untuk karir sebagai pengacara, konselor, atau karir profesional hukum lainnya.

Selama 36 tahun berkarir Israel dan William berfokus pada pembelaan terhadap hak-hak terdakwa dalam persidangan. William yang juga Managing Partner dalam firma hukum tersebut mendadak mendapatkan serangan jantung. Hal ini membuat tugas-tugas William dalam mendampingi terdakwa, diambil alih oleh Israel. Namun Israel memiliki problem dalam keterampilan interpersonal, yang membuat dia bermasalah di persidangan.

Keponakan Willian suatu ketika datang ke kantor. Dia memberitahukan kondisi terkini William dan rencananya untuk menutup kantor. Dia meminta bantuan George Pierce, yang diperankan oleh Colin Farrell, salah satu murid dari William yang telah menjadi pengacara sukses. Israel tidak senang dengan rencana penutupan firma hukum tersebut. Dia juga menganggap Pierce sebagai pengacara yang hanya memburu keuntungan bagi dirinya sendiri.

Singkat cerita, Israel kemudian bekerja di firma hukum Pierce, setelah penolakan yang ia terima dalam semua lamaran pekerjaan yang ia ajukan. Israel memiliki daya ingat yang sangat baik. Dia juga memiliki pemikiran dan konsep dalam reformasi sistem peradilan di Amerika Serikat. Idealisme dalam memperjuangkan hak-hak terdakwa dimuka pengadilan serta penilian yang baik dari klien-klien yang dibelanya, membuat Pierce tertarik untuk mengajaknya bergabung. 

Dalam kasus pertamanya di kantor hukum milik Pierce, dia tersangkut dalam pusaran kasus kliennya yang bernama Ellerbee yang ditangkap karena kasus penembakan seorang kasir. Ellerbee mengelak, bukan dia yang melakukan penembakan, melainkan temannya bernama Carter Johnson. Israel memberikan penawaran terhadap Ellerbee untuk menegosiasikan kasusnya tersebut dengan jaksa distrik. Namun negosiasi tersebut gagal dan Ellerbee dibunuh sebelum kasusnya disidangkan.

Di sinilah awal mula pendirian Israel mulai goyah. Setelah dia kehilangan kliennya karena dibunuh, dia diserang oleh tunawisma yang ingin merampok Ipod miliknya. Pendiriannya mulai berubah dan Israel mulai bersikap sinis dan oportunis. Dia menjual informasi rahasia tentang keberadaan Carter Johnson ke kerabat korban penembakan. 

Dengan sayembara bernilai $ 100.000 dia memberitahukan tempat persembunyian Carter Johnson. Keteguhan seorang lawyer dan aktivis hukum yang senantiasa membela hak-hak terdakwa dimuka peradilan, berjuang dalam kasus-kasus fair trial, tergoyahkan oleh kejadian demi kejadian yang dia lewati. 

Kehilangan partner hidup karena meninggal oleh serangan jantung, membuat dirinya tidak memiliki pegangan dalam menjalani karirnya sebagai seorang lawyer. Dia merasa sendiri dengan keteguhan pemikirannya. 

Dalam konteks kehidupan sosial di Amerika yang individual, apa yang dialami oleh Israel adalah suatu masalah. Dia tidak akan mampu merealisasikan ide-idenya jika dia hanya mengandalkan seorang teman atau bahkan bekerja sendiri. Terlebih dengan masalah keterampilan interpersonalnya yang buruk. 

Dia membutuhkan masyarakat, membutuhkan relasi sosial dalam menjaga dan memperjuangkan idealismenya. Israel terlena dengan kehidupan barunya yang dia dapat secara sesaat. Mendapatkan banyak uang, dia mengahambur-hamburkannya untuk menikmati hidup layaknya seorang jutawan.

Namun pada akhirnya, Israel sadar, bahwa apa yang dia perbuat itu salah. Dia telah melanggar hukum dengan memberikan informasi rahasia hanya untuk kesenangan yang sesaat. Dia tidak berlaku seperti dirinya. Dan dia pun akhirnya tewas tertembak peluru dari orang suruhan yang dia jebloskan ke penjara, Carter Johnson.

Setiap orang memiliki idealisme. Setiap orang juga memiliki masalah untuk mempertahankan idealismenya. Lingkungan pergaulan sedikit banyak mempengaruhi idealisme seseorang. Sebagai makhluk sosial, menjadi suatu keniscayaan kita membutuhkan pertolongan orang lain. Kita tidak dapat hidup sendiri dan memenuhi kebutuhan hidup dengan daya dan upaya pribadi. Pergeseran akan idealisme yang selama ini dijaga pastilah akan menemui titik jenuh. 

Kita membutuhkan orang-orang yang mampu memberikan support kita untuk senantiasa berpegang teguh terhadap idelaisme yang kita perjuangkan. Berkumpul dengan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama merupakan salah satu cara menjaga idealisme dan tidak lupa untuk terus memperjuangkannya.

No comments:

Powered by Blogger.