Cerita yang Terlupa dari Revolusi Troelstra

Penulis : Aldian
Seringkali saya mengunjungi bangunan kolonial di tiap kota yang saya kunjungi. Melihat bangunan-bangunan tua zaman Belanda mengingatkan saya peristiwa penting yang banyak dilupakan orang. Salah satu peristiwa sejarah yang menurut saya harus diketahui adalah peristiwa Revolusi Troelstra yang gagal di Belanda dan berpengaruh pula ke pergerakan di Hindia Belanda.

Revolusi Troelstra adalah gerakan revolusi yang berakhir dengan kegagalan di negeri Belanda pada tahun 1918. Nama revolusi ini sendiri diambil dari pemimpin gerakan tersebut yang bernama PJ Troelstra seorang tokoh Partai Buruh Sosial Demokrat Belanda.

Troelstra tampaknya latah melihat revolusi yang terjadi Jerman tahun 1918-1919 dan berpendapat saat itu waktu yang tepat pula Belanda untuk melakukan revolusi. Maklum kala itu teori Karl Marx tentang keruntuhan kapitalisme nampak menemui gaungnya di tengah krisis ekonomi yang melanda Amerika dan sebagian besar negara Eropa dimana sektor industrinya sudah menemui tingkat kematangan.

Nama Troelstra di Belanda sendiri bukanlah tokoh yang muncul tiba-tiba di dunia politik Belanda. Dia seorang politisi yang terkenal karena jasanya memperjuangkan hak pilih universal serta isu-isu kelas buruh di parlemen Belanda lewat partainya.

Politisi yang aktif mengkritik pemerintahan Belanda tersebut juga terpukau dengan keberhasilan Revolusi Rusia yang notabene negara yang masih terbelakang secara industri namun juga berhasil meruntuhkan dinasti Tsar Rusia yang sudah berdiri ratusan tahun lewat gerakan revolusi buruh dan tani.

Meski populer, seruan revolusinya yang diawali di kota Rotterdam ditanggapi adem oleh masyarakat Belanda termasuk partainya sendiri, dan tentara kerajaan langsung bersiaga di kota-kota besar Belanda lainnya untuk mencegah meluasnya revolusi. Pemberontakan Troelstra untuk meniru Revolusi Rusia dan Jerman pun cepat dipadamkan dan dinyatakan gagal tanpa membawa perubahan yang berarti.

Berita revolusi yang terlanjur menyebar tidak saja dirasakan di Belanda tetapi juga di negeri kolonial milik Belanda jauh di seberang lautan yaitu Hindia Belanda. Komunikasi yang sempat terputus antara negeri induk dengan Hindia Belanda membuat informasi yang diterima di Hindia Belanda begitu absurd dan kacau.

Banyak kabar burung yang diterima di Batavia bahwa Ratu Belanda berhasil digulingkan oleh Troelstra dan Gubernur Jenderal beserta sistem pemerintah Hindia Belanda akan segera diganti imbas dari revolusi. Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang saat itu dipegang oleh Van Limburg Stirum pun bereaksi dengan adanya kabar yang beredar.

Stirum yang dikenal dekat dengan para tokoh pergerakan kemerdekaan Hindia Belanda mengambil inisiatif tanpa sepengetahuan Kerajaan Belanda dengan menjanjikan di depan Volksraad (Dewan Rakyat di era Hindia Belanda) kedaulatan yang lebih besar untuk rakyat Hindia Belanda dan pemerintah kolonial akan bersikap lebih demokratis di tanah jajahan.

Kelak janjinya di depan Volksraad ini dikenal dengan nama Janji November atau November Belofte. Sebelumnya kondisi politik Hindia Belanda memang sudah memanas dengan adanya isu milisi Hindia Belanda yang terdiri dari masyarakat pribumi untuk membantu Belanda jika terlibat Perang Dunia I. Isu ini membuat Volksraad yang saat itu masih sangat terbatas keanggotaannya dari kalangan pribumi menjadi hangat perdebatannya baik di dalam maupun di luar parlemen.

Namun Janji November tinggallah janji, pasca diketahui bahwa Revolusi Troelstra berakhir dengan kegagalan justru pemerintah kolonial lebih agresif mengatasi berbagai aktivitas pergerakan di Hindia Belanda. Gubernur Jenderal Stirum diganti dengan Dirk Fock yang dikenal konservatif dan tidak mau tahu tentang kondisi dunia yang sudah berubah termasuk aktivitas pergerakan di Hindia Belanda pasca pemberlakuan politik etis.

Dirk Fork menerapkan sikap represif terhadap setiap aksi politik yang ada dengan membentuk satuan khusus (intelijen) yang dijalankan oleh kepolisian Hindia Belanda. Selain itu Dirk Fork mencabut izin melakukan Vergadering (perkumpulan). Akibatnya berbagai aktivitas pergerakan pun mulai lebih frontal melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial.

Dengan semakin jelasnya bahwa pemerintahan kolonial tidak ingin memberikan kemerdekaan kepada Hindia Belanda dengan tidak dilaksanakannya Janji November, bersama itu pula lahirnya generasi pergerakan kedua yang lebih jelas menyuarakan kemerdekaan Hindia Belanda yaitu generasi Soekarno, Hatta dan Sjahrir.

Troelstra sendiri pasca revolusi yang gagal akhirnya memilih berdiam di rumah dan tidak aktif lagi di dunia politik. Meski dia sempat mengatakan di depan parlemen Belanda bahwa partainya tidak berniat melakukan kudeta, namun nama Troesltra sudah terlanjur jelek akibat usaha revolusinya yang berakhir pahit.

Di kalangan buruh meski telah gagal melakukan revolusi nama Troelstra tetap dikenal dan menginspirasi politisi dan aktivis kelas buruh di Belanda lainnya. Setelah kematiannya pada tahun 1930 para pendukungnya mendirikan monumen untuk mengenang perjuangannya.


Bacaan lebih lanjut :
- Sejarah Indonesia Modern - Ricklefs
- Polisi Zaman Hindia Belanda - Marieke Bloembergen
- Wikipedia Revolusi November
- Zaman Bergerak - T. Shiraisi

No comments:

Powered by Blogger.