Hikmah Isra’ Mi’raj dalam Dimensi Kemanusiaan

Penulis : Anis Syarifah
Isra’ Mi’raj diperingati setiap tanggal 27 Rajab dalam kalender Hijriyah yang di tahun ini bertepatan dengan tanggal 14 April 2018 lalu. Isra’ Mi’raj ditetapkan sebagai PHBI (Peringatan Hari Besar Islam), sehingga hari tersebut termasuk ke dalam hari libur nasional. Sebagai intermeso muncul guyonan di masyarakat mengenai hari libur nasional. Ada celetukan begini, “Seharusnya agama yang diakui di Indonesia ada 100, jadi kan liburnya banyak”. 

Tapi pada tulisan ini saya tidak akan membahas mengenai hari libur nasional dan segala lelucon-leluconnya. Saya akan mencoba mengajak pembaca dan tentunya diri saya sendiri untuk mengetahui lebih dalam makna Isra’ Mi’raj yang ternyata sangat sayang jika hanya dimaknai sekedar peringatan rutin tahunan yang tidak memiliki unsur spirit dan pesan tertentu di dalamnya.

Isra’ Mi’raj sendiri merupakan dua peristiwa yang berbeda, terdiri dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Isra’ ialah peristiwa dimana Nabi Muhammad SAW “ditamasyakan” oleh Allah SWT dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsha, kemudian dalam peristiwa Mi’raj Nabi Muhammad SAW dinaikkan ke langit sampai ke Sidratul Muntaha, tempat tertinggi. Pada peristiwa inilah Beliau mendapat mandat langsung dari Allah SWT untuk shalat lima waktu, berbeda dengan perintah ibadah lain semisal puasa yang tidak diperintahkan secara langsung melainkan melalui wahyu.

Dalam Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad melalui perjalanan yang sulit dinalar. Beliau dihadapkan dengan “al-musyahadah”, dunia yang tidak kasat mata, seperti halnya dialami oleh Nabi Musa AS yang diperintahkan Allah SWT untuk berguru kepada Nabi Khidir. Meskipun demikian, Isra’ Mi’raj bukanlah peristiwa yang mengandung makna melangit, justru Isra’ Mi’raj memiliki makna membumi yang berkaitan dengan dimensi kemanusiaan. Hal ini ditunjukkan dengan perintah shalat yang diperintahkan secara formal-yuridis sejak Isra’ Mi’raj, bukanlah ibadah yang semata-mata ibadah murni (ibadah mahdhah) yang melangit. 

Shalat memiliki fungsi kemanusiaan, dimana shalat dapat melatih manusia untuk membersihkan jiwanya (tazkiyatun nafs) setiap waktu. Dengan kesucian jiwa manusia diharapkan mampu berperilaku mulia (al-akhlaq al-karimah). Dengan adanya individu-individu yang memiliki ketahanan mental, kebersihan jiwa dan perilaku yang mulia, merupakan modal utama dalam membentuk kehidupan kolektif dalam masyarakat, sehingga tertib sosial yang manusiawi dapat terbentuk.

Meskipun begitu, shalat tidak dapat menjamin seseorang tidak akan mudah melakukan tindak kriminal (penyimpangan), korupsi misalnya, bahkan pelaku-pelaku korupsi yang berasal dari salah satu partai Islam dengan tanpa rasa risih menggunakan istilah-istilah dalam Al-Qur’an dalam berkomunikasi untuk melancarkan aksi korupsi mereka. Padahal idealnya, seseorang yang telah menjalankan riyadlatun nafs atau pelatihan diri secara kontinu, tentu ia akan selalu sadar secara sepenuhnya bahwa tindakan korupsi akan menyengsarakan rakyat, melanggar hukum dan termasuk dosa yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. 

Namun ide kerap kali berbenturan dengan realita, kenyataannya banyak politikus atau pejabat muslim yang terjerat kasus tindak pidana korupsi. Lalu siapa atau apakah yang seharusnya dipersalahkan? Manusia atau agamanya? Agama hanya menyediakan sekumpulan petunjuk tentang perintah dan larangan bagi kemaslahatan umat manusia, aktualisasi nilai-nilai agama sangat tergantung pada manusianya. 

Menurut Muhammad Iqbal, Al-Qur’an tidak mempunyai kaki. Maksudnya berjalannya petunjuk agama membutuhkan usaha manusia. Dan, manusia adalah makhluk multidimensi, dalam dirinya terdapat silang sengkarut antara yang baik dan yang buruk. Nurani, akal dan syahwat tak henti saling bertarung dalam dirinya. Sehingga dapat dikatakan ujian-ujian kehidupan, bisa berupa godaan melakukan korupsi demi memperkaya diri misalnya, merupakan ujian yang harus dilewati seseorang untuk tetap berjalan pada prinsip-prinsip keilahian dan kemanusiaan. 

Isra’ Mi’raj sebagai Kawah Candradimuka
Potensi menyimpang dari nilai-nilai keilahian pada diri manusia akan terus ada dan bertumbuh seiring dengan ujian-ujian yang dihadapi. Isra’ Mi’raj dapat diibaratkan sebagai kawah candradimuka bagi Nabi Muhammad SAW, karena untuk melalui perjumpaan langsung dengan realitas keilahian Nabi Muhammad SAW memerlukan kematangan jiwa. 

Dengan kata lain, Isra’ Mi’raj dapat dimaknai sebagai bagian perjalanan kemanusiaan Nabi sebagai uswatun hasanah bagi umatnya agar senantiasa melatih diri guna menyikapi dan menghadapi segala tantangan hidup. Seperti halnya yang dikatakan Efek Rumah Kaca dalam Lagunya yang berjudul Merah (bagian 3: Ada Ada Saja) : //Mukjizat//Hanya di zaman Nabi//Tak bisa langsung sehat//Dihadapi, dikelahi.

Sebagai penutup, hikmah Isra’ Mi’raj yang dapat dipetik adalah bahwasanya pelatihan diri (riyadhatun nafs) dalam hal ini salah satunya melalui pengamalan ibadah shalat, menjadi penting untuk dilakukan guna mencapai derajat spiritual yang utama (al-maqamatul ‘ulya) seperti halnya yang dicapai Nabi Muhammad SAW. Meskipun terkesan sangat mustahil untuk menyamai derajat spiritual Beliau, bukan berarti manusia berputus asa dalam mencapainya, karena manusia sesungguhnya dianugerahi potensi untuk mengangkat kualitas kediriannya melalui riyadlatun nafs yang konsisten. 

Di samping itu, terdapat catatan penting dalam beragama, pemahaman agama yang sepotong-potong akan melahirkan salah tafsir dan salah bertindak. Pelatihan diri seharusnya beriringan dengan pemahaman keagamaan yang menyeluruh dan mendalam, jika keduanya dapat berjalan secara kontinu manusia akan mampu mereformasi dirinya menjadi individu-individu yang unggul sehingga mampu membangun nilai-nilai yang bersifat konstruktif bagi kemanusiaan dan peradaban. Semoga kita termasuk orang-orang yang dapat memetik hikmah Isra’ Mi’raj.

No comments:

Powered by Blogger.