Juuling? Sebuah Tren Rokok Baru

Penulis : Hikmah Bima Odityo
Membahas rokok di Indonesia, tentu menjadi sebuah hal yang menarik bagi kita semua. Banyak diantara kita yang mengamini bahwa pemakaian rokok dapat membahayakan kesehatan umat manusia. Menurut WHO, Indonesia merupakan negara ketiga dengan jumlah konsumen rokok terbesar di dunia setelah Cina dan India. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, merokok dapat menimbulkan berbagai komplikasi penyakit, seperti: kanker paru-paru, sakit jantung, hingga yang terparah kematian. The Tobacco Atlas menegaskan sebanyak 217.000 penduduk Indonesia meninggal dunia akibat mengkonsumsi rokok pada tahun 2015.

Maka tak heran, jika keberadaan rokok di Indonesia menuai banyak pertentangan dan diskusi yang cukup panjang. Ditambah lagi dengan stigma bahwa setiap perokok adalah orang yang “nakal”, “malas” dan “tidak berpendidikan”, karena kebanyakan diantaranya merupakan kelas menengah kebawah, pekerja kasar, seperti: buruh dan tani. Terlebih jika yang dimaksud perokok perempuan.

Di negeri yang kental dengan sistem patriarki ini, perbedaan antara laki-laki dan perempuan begitu kontras. Beberapa hal telah menjadi stigma tentang apa yang boleh dan tidak boleh dikerjakan serta apa yang baik dan tidak baik dilakukan oleh perempuan seperti salah satunya kebiasaan rokok atau kretek.

Menyadari hal tersebut, perempuan yang tergabung pada Komunitas Kretek dari berbagai daerah di Indonesia berinisiatif melakukan pledoi dengan menerbitkan buku berjudul “Perempuan Berbicara Kretek”. Buku tersebut berusaha mendobrak pandangan negatif masyarakat tentang perempuan yang merokok. Sebagai contoh pada bagian kedua, Perempuan di Simpang Stigma, secara historis menceritakan sebuah roman kuno Indonesia bernama Roro Mendut yang juga merokok. Buku ini mengajak para pembaca untuk tidak menghindari dan melabeli perempuan yang merokok namun juga perlu memahaminya. Memahami bukan pula sebagai suatu kewajaran tapi sebagai suatu pilihan dewasa yang diambil oleh seorang perempuan.

Kembali pada topik awal, rokok seiring dengan perkembangan zaman mengalami inovasi dalam berbagai bentuk. Beberapa tahun terakhir kita mengenal istilah “Hookah” atau “Shisha”, hingga yang terbaru dan sering kita jumpai pada golongan anak muda ialah “Vape”. Di Amerika muncul tren baru dalam merokok dengan istilah “Juuling”, berasal dari kata “Juul” yang merupakan nama dari rokok itu sendiri. Juul merupakan rokok elektronok atau e-cigarette yang berbentuk seperti USB. Juul dapat di-charge di laptop maupun benda portabel lainnya seperti power bank. Juul juga terdapat dalam beberapa varian rasa, seperti: mango, fruit medley dan creme brûlée.

Di Amerika, Juul banyak dipakai oleh pelajar berusia 18 hingga 21 tahun. Pengawasan Juul menjadi sulit karena bentuknya yang ramping dan mudah dibawa kemana-mana. Juul menjadi berbahaya karena di setiap pod-nya mengandung nikotin setara dengan satu pack rokok biasa. Walaupun belum ada penelitian kesehatan secara ilmiah mengenai dampak penggunaan Juul, sudah selayaknya pengguna rokok aktif berhati-hati untuk memilih Juul sebagai alternatif merokok untuk menghentikan candu terhadap rokok.

Apabila konsisten dengan komitmen kesehatan, sudah seharusnya Pemerintah membuat regulasi sebelum distribusi Juul masuk ke Indonesia. Regulasi tersebut bersifat precautionary atau hati-hati terhadap uncertainty factor yang dapat ditimbulkan akibat penggunaan Juul. Tindakan tersebut merupakan upaya preventif yang dapat diterapkan secara proporsional dan non diskriminasi.

Terlepas dari hal diatas, terdapat side-story menarik terkait pro-kontra rokok di Indonesia. Rokok merupakan salah satu warisan budaya bangsa. Biar bagaimanapun, sektor kretek menyumbang lebih dari 6 juta jiwa pekerja. Negara memperoleh keuntungan dari cukai rokok sebesar 145,53 triliun rupiah pada tahun 2016, belum lagi devisa negara yang diperolah dari setiap ekspor rokok. Upaya penghancuran rokok di Indonesia, diam-diam, merupakan sebuah konspirasi kapital global untuk menguasai industri ini.

Belajar dari buku “Membunuh Indonesia: Konspirasi Global Penghancuran Kretek”, hadirnya regulasi anti-tembakau seperti: Undang-Undang Kontrol Tembakau di Amerika, menghambat impor rokok dari luar negaranya dengan alasan kesehatan. Anehnya, regulasi ini tidak menyentuh produksi dan peredaran rokok mentol yang diproduksi di Amerika Serikat.

Jika Amerika dapat melakukan tindakan protectionism, mengapa Indonesia tidak terhadap Juul. Lagipula pemakaian rokok tradisional (kretek), dapat mempengaruhi aspek psikososial, sebuah bentuk penghormatan dan kesetiakawanan kita dengan teman sejawat.

No comments:

Powered by Blogger.