Kartini Indonesia : Wanita yang Mana?

Penulis : Layla Windy
Kewanitaan macam apa yang mendera mereka?


Milik siapa raga dan daya juang yang dipunya?

Berapa air mata yang menuai dusta dirinya?

Kali apa dunia mencerca nurani dan insannya?

Jangan lagi menanyakan kuasa pada mereka yang tak mampu mencari celah untuk memahami arti merdeka.


Sejak masanya sirna, berbagai mimpi sudah diputuskan untuk memendam diri dan menangisi sunyi.

Setiap tanggal 21 April rasanya sangat berharga hingga setiap tahunnya menjadi ajang unjuk kebolehan bagi mereka wanita-wanita dari berbagai usia dalam menunjukkan mana yang paling berempati pada wanita yang meninggal lebih dari 10 dekade yang lalu. Berbagai atraksi dilakukan terutama yang mengklaim diri mempunyai jenis kelamin yang sama sehingga katanya akan lebih bermakna. Hal tersebut mengisyaratkan adanya suatu perayaan atau bahkan peringatan yang rutin digelar tiap tahun demi membangun mahligai bahagia yang sesungguhnya.

Sang wanita legenda yang banyak didamba dan diagungkan dunia harusnya merasa terlena dengan dunia yang kini begitu memujanya meski telah tiada. Indah berseri, wangi, baik dan suci, tak cukup kata dalam kamus bahasa untuk mendeskripsikan dirinya yang begitu agung di mata wanita Indonesia. Namun belakangan Ibu kita mungkin tak merasa bahwa bangsanya tak lagi sama seperti ketika dia masih hidup di kota Jepara.

Ibu, siapa wanita Indonesia?
Kini Indonesia tak lagi sama, peran perempuan di Indonesia sudah mulai menuai banyak perubahan. Tapi entah perubahan dari mana yang mereka bawa dan terapkan? Tentu bangsa ini dijamin kebebasannya oleh negara, konstitusi menyebut itu dengan jelas. Namun sayangnya, perubahan itulah yang membuat mereka bingung akan dirinya. Perdebatan antara jenis wanita yang menggunakan kebebasan sebagai senjatanya dalam membenarkan perilakunya atau mereka yang menjejalkan norma agama sebagai standar dosa pada diri wanita lainnya?

Wanita Indonesia masa kini konon katanya sedang berjuang mencari keadilan, entah keadilan macam apa yang sedang dicarinya. Apakah mereka juga tahu salah satu tujuan negara hukum menurut teori prioritas baku Gustav Redbruch adalah menciptakan keadilan? Atau keadilan seperti yang dikatakan Sudikno Mertokusumo bahwa adanya hukum untuk mewujudkan keadilan? Ataukah mereka terus mencari keadilan sesuai dengan teori Benjamin Cordozo yang mendoktrinkan bahwa keadilan itu proses yang tidak akan pernah terselesaikan?

Bahkan Sang Wanita berbicara dalam bukunya yang mulia “Habis Gelap Terbitlah Terang” bahwa “banyak hal yang bisa menjatuhkanmu, tapi hal yang benar-benar bisa menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri”. Setidaknya kata demi kata tersebut mampu memahamkan wanita bahwa tidak hanya pria, namun mereka juga bisa binasa karena selalu me-mahabenar kan dirinya sendiri. 

Wanita itu apa sebenarnya?
Dalam dunia Barat perempuan didefinisikan : A woman is a female human being. The term woman is usually reserved for an adult, with the term girl being the usual term for a female child or adolescent. Dalam Islam, wanita adalah kaum yang sangat dimuliakan dengan berbagai alasan. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia, wanita adalah orang (manusia) yang mempunyai puki, dapat menstruasi, hamil, melahirkan anak, dan menyusui.

Berbicara soal wanita, mahakaya ia dengan segala keleluasaannya dan keistimewaannya. Dalam Islam wanita diriwayatkan dari Abi Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda "Apabila seorang wanita telah melaksanakan sholat lima waktunya, menjalankan puasa, menjaga kemaluannya, dan taat pada suaminya, maka dia akan masuk surga dari pintu manapun yang disukainya.

Dalam lingkaran lain yang juga memperjuangkan kewanitaan sejati, kaum feminisme yang bermuara di Barat menggaungkan adanya ketidakadilan antara dua jenis kelamin yang disebutkan kini sedang tak baik-baik saja karena ada kesenjangan antara hak dan kewajibannya, atau sebaliknya. Dunia murka. Wanita dan pria itu seharusnya sama, maka mereka menyuarakan itu dengan lantang dan mengajak semua manusia dengan jenis kelamin sama untuk melawan kaum pria yang semena-mena terhadap mereka.

Fakta-fakta yang ada kini begitu menggaduhkan pikiran, jadi sebenarnya wanita ini mau apa? Apa yang mereka mau dengan embel-embel wanita Indonesia? Buya Hamka dalam bukunya mengatakan perempuan adalah tiang negara. Jika perempuannya baik, baiklah negara, dan jika mereka bobrok, bobrok pulalah negara. Mereka adalah tiang; dan biasanya tiang rumah tidak begitu kelihatan. Namun, jika rumah sudah condong, periksalah tiangnya maka tandanya tianglah yang lapuk. Berikutnya Buya menyebutkan satu peraturan dalam Islam yang tidak terdapat dalam agama lain ialah memandang perempuan yang telah menyusukan kita di waktu kecil sama hukumnya dengan ibu kandung kita sendiri. Hubungannya apa ya?

Kini manusia secara umum mendaku diri telah mengalami kemajuan dalam pola pikir dengan mesin-mesin teknologi dan alam pikir otak yang selalu berinovasi dalam setiap detiknya. Sehingga rasionalitas manusia kini berdasarkan ilmu pengetahuan dan tak jarang norma agama pun menjadi sasaran suara kebebasan. Bagaimana kini realita Indonesia meneriakkan kehancuran persatuan yang disebabkan alasan yang mengatas namakan hak dan agama. Wanita Indonesia kini mengimani simbol. Masing-masing mempunyai karakter yang sama sekali tidak sama untuk menyatakan diri mereka dengan dunia.

Wanita mau apa?
Dengan berhasil melakukan demikian, jadi apa yang akan mereka dapatkan? Bagi mereka yang mendemonstrasikan kebebasan dan kesetaraan, apakah dengan begitu mereka sudah merasa sama lalu berkuasa? Bagi mereka yang mendakwahkan surga apakah dengan begitu mereka mengerti makna wanita yang sesungguhnya? Lalu apa yang wanita damba, terutama dikau wahai wanita Indonesia? Bagaimana wanita yang memperjuangkan kebebasan namun diterkam mereka yang menyalahkan simbol terbuka sehingga menggugah gerahkan kelamin lain? Bagaimana wanita yang mendakwahkan nilai surga namun dihardik mereka yang membenci wanita berkelahi dengan urusan rumah tangga saja? 

Mereka ini yang sesama kaum wanita tetapi menghardik satu sama lain dengan bencian, makian dan hinaan. Yang melaksanakan agama katanya menakutkan yang bebas katanya menjijikkan. Namun, masih ada pula yang bahkan tidak peduli sama sekali. Xixixi… Jadi bagaimana wanita Indonesia seharusnya? Kok jadi bingung. Katanya wanita Indonesia sudah mempunyai pola pikiran yang terbarukan. Berarti ada dua pilihan : Menjadi bebas atau menjadi terbatas. 

Namun perlu digarisbawahi bahwa negara mempunyai hukum untuk membatasi tindakan manusia agar sesuai dengan norma. Begitu pun makna terbatas bagi wanita. Bukan berarti terbatas yang menjadikan wanita sepenuhnya hanya tunduk pada otoritas keluarga. Namun lebih ke arah mengerti apa yang harus dilakukannya dan apa yang tidak seharusnya. 

Kartini sebagai wanita yang hidup “kembenan” terbatas pada usianya yang disegerakan untuk berkeluarga sehingga membuat dirinya tak banyak berdaya. Bukankah itu juga terbatas? Namun Kartini yang juga seorang beragama tidak berarti melanggar agamanya karena dia kembenan. Bangsa Indonesia saat itu bangsa yang belum berbagai macam pemikirannya, sehingga konon tak bermuatan murka pria. Namun Kartini sudah mengerti apa-apa yang harus diperjuangkannya. 

Buku Habis Gelap Terbitlah Terang juga belum habis dimaknai wanita Indonesia. Lalu darimana mereka bisa begitu memuja atau bahkan menghardik Kartini? Wanita muslim mana yang masih kembenan? Wanita Indonesia mana yang mau dikekang? Semua ada pada pilihanmu sendiri wahai wanita. Bagaimana kau membentuk dirimu atau menentukan apa yang kau mau dan bagaimana mewujudkan itu tergantung pada bagaimana akal sehatmu memandu. Apakah kau memaknai melalui dirimu yang sempit atau kau gunakan akalmu bekerja dengan mencerna apa-apa yang ada di sekitar dengan tanpa paksa?

Jadi siapa wanita Indonesia? Merekalah yang mempunyai jiwa raga dengan segenap hati dan rasa hingga daya untuk menentukan dimana dirinya bertumpu dan bagaimana dia memahami segala arti dan nilai inti sari segala karunia yang ada sehingga memacu dirinya menggapai luasnya masa.

No comments:

Powered by Blogger.