Memoar

Penulis: Fauzie Nur Ramadhan


Perempuan itu berkata,
“Kamu pun selalu hadir, tidak ingin pergi. meresahkan ku! apakah aku adalah sebuah dosa bagimu?”

Sejenak menjadi hening, bahkan angin pun berbisik. Kemudian pemuda itu mencoba membuka mulutnya, entah untuk mengindahkan pernyataan yang membuatnya bingung, ataupun untuk kembali menyatakan hal yang paling hina.

“Menjadi dosa bagimu, kadang menjadi indah, meskipun hanya bagiku. Walau hanya sesaat. Jika begitu, tidak apa. Mungkin hal yang ada tidak akan membuat bibir manismu menyimpulkan senyum itu kembali”, pikir pemuda itu.

Di tengah padatnya ibu kota, kembali lampu-lampu malam membuka matanya. Kadang di sini semuanya dimulai, kadang di sini semuanya menjadi kebahagiaan. Namun, sesaat ia termenung, kadang di sini pun semua nya menjadi tangis, kadang di sini semuanya menjadi kesedihan. Ditatapnya keadaan sekitar, penuh dengan asap kendaraan dengan teriakan supir bus yang sudah membuat jalanan seakan itu neraka! Sekitar pukul tujuh malam, di salah satu terminal yang menjadi pusat perekonomian Batavia dulu, di bilangan Jakarta Selatan. Dinaikinya bus yang akan melaju dengan ketidakpastian ke arah tempat dimana ia bisa melepaskan semuanya. menuju rumahnya. Rumah dalam arti sesungguhnya. Rumah dimana ia menemukan kebahagiaan yang nyata.

Disambut dia dengan penuh senyum oleh perempuan yang paling mulia yang pernah ia temui. Perempuan yang paling pantas ia banggakan. Perempuan yang akan selalu membuatnya sadar bahwa hidup akan selalu membuatnya tersenyum. Perempuan yang akan selalu menguatkan nya. Dicium lembut tangan perempuan itu sambil mengucapkan salam. Tiada hal yang bisa membuatnya merasa indah selain senyuman dari perembuan itu, malam itu. Bahkan, selama Tuhan masih mengizinkannya.

Lalu dilihatnya sesosok pria yang akan selalu menjadi panutannya, dengan tegap ia beridiri. Dicium tangan pria itu dan ia tatap dengan penuh harap akan selalu dalam membuatnya tersenyum. Dengan penuh kesadaran akan tanggung jawab sebagai orang yang bisa membahagiakan orang yang memang pantas untuknya kelak. Tidak kurang dan akan selalu lebih, seperti yang pria itu tunjukan padanya dulu, saat ini, dan seterusnya. Selamanya.

Malam itu terlalu pilu baginya. Didengungkan lagu-lagu indah yang membuatnya ingin kabur dari kenyataan dunia. Jika dunia sepahit itu.. ah tidak, dunia itu indah. Mungkin dia hanya harus melihatnya dari sisi yang lain. Mencoba membuka pintu pintu yang lain, pintu yang akan menunjukannya kepada hal-hal yang akan selalu membuatnya bersyukur. Sekitar pukul sebelas malam, ibu kota masih mengaung dengan jalan-jalan yang disesaki kendaraan. Orang-orang penuh mimpi masih mencoba menggapainya ternyata.

Sudah beberapa tahun sejak kejadian itu, kejadian yang sungkan untuk diingat lagi. Jika ada aturan bahwa dilarang napak tilas ke tempat-tempat yang punya kenangan, itu artinya dia tidak akan bisa keluar rumah. Artinya dia hanya akan terkurung dengan hal yang seharusnya sudah dilupakan. Semua tempat yang dikunjungi selalu punya memori tersendiri baginya, jika ditanya dengan siapa? Siapa lagi kalau bukan perempuan yang dulu sering dia puja-puja.

“Toh, sejatinya setiap memori yang tercipta bukan hadir untuk sekedar kau kutuk begitu saja, yang kemudian kau beri sumpah serapah dengan tidak tahu diri. Di setiap keputusan yang telah ada pun tidak lepas dari campur tangan dirimu sendiri. Sudahlah, jangan kau tiru dia. Dia hanya sebuah contoh dari manusia yang tidak selesai dengan dirinya sendiri”, begitu pikirnya, sambil menatap cermin di kamarnya itu, sambil menunjuk dirinya sendiri. Ternyata dia masih saja gemar mengutuk dirinya sendiri.

Tidak ada agenda apapun hari itu, dia hanya menyusuri tempat-tempat yang bagi sebagian orang haram dikunjungi, tempat yang hanya bisa membuatmu bersendu. Setelah seharian penuh, ada satu hal yang ternyata sudah dilupakan, perasaan nikmat yang tidak akan ditemukan jika menghabiskan hari untuk bermuram durja, perasaan nikmat ketika berjalan santai di sepanjang jalan protokol Ibukota yang mana itu lebih baik dari sekedar berdiam dan mengurung diri di bawah selimut tempat tidur, mencari perlindungan paling aman, tanpa ingin melihat dinamika hidup yang ada di luar sana. Mengamati setiap hal yang dilakukan orang lain ketika sedang berada di tempat umum memang selalu unik. Entah itu selama perjalanan di dalam bus kota, atau sambil duduk tenang di kursi kereta commuter yang selalu penuh sesak, atau bahkan sembari bersantai di Kota Tua ditemani tawa anak-anak kecil dengan mimpi yang terbentang luas di hadapan mereka.

Dan kau tidak akan pernah bisa menebak tentang bagimana setiap masing-masing orang yang kau temui telah melewati harinya, kau tidak akan pernah tahu cerita dibalik tawa dan murungnya orang-orang itu. Dan meskipun kau berjalan dengan dirimu sendiri, tetapi kemudian kau menyadari ketika kau sendiri, tidak berarti kau sendirian. Biarlah memoar itu tersimpan dengan damai, tidak usah dibuka kembali, apalagi mencoba untuk mengulangnya. Tutup memoarmu itu dan kembali nikmati kopi yang sudah kau seduh itu.

No comments:

Powered by Blogger.