Mengenali Wajah Bangsa : Mempertanyakan Mentalitas Manusia Indonesia

Penulis : Fachri Sakti N
Mendengar kata mental, saya langsung teringat dengan makanan yang bernama tempe. Sebuah makanan yang terbuat dari bahan dasar kedelai yang biasanya dimakan oleh masyarakat desa (seringnya di Jawa). Makanan super fleksibel, bisa diolah dengan berbagai macam cara dan dapat disajikan disemua acara. Namun sayangnya pada tulisan kali ini tidak membahas tentang tempe.

Dalam tulisan ini, penulis ingin mengajak pembaca untuk mempertanyakan ulang tentang mentalitas kita, mentalitas manusia Indonesia. Meskipun hanya bertanya, penulis percaya bahwa kekuatan sebuah pertanyaan mampu merubah suatu peradaban bangsa. Dan karena sebuah pertanyaan pula, seorang Socrates dihukum mati dengan dipaksa untuk menenggak racun cemara.

Kembali dalam menyoal mental. Persoalan mental merupakan salah satu akar dari berbagai permasalahan yang kini melanda bangsa. Lambatnya laju perekonomian, politik yang carut marut, kesenjangan sosial, pengangguran, dan KKN adalah beberapa contoh masalah yang disebabkan oleh mentalitas manusia yang buruk. Persoalan mental juga menarik perhatian penguasa saat ini untuk melakukan upaya rekonstruksi mental dengan program ‘Revolusi Mental’ dari pemerintah. Sayangnya, penyelesaian masalah mentalini seperti memotong rumput liar di halaman yang tidak tuntas mencabut akarnya.

Koentjoroningrat mengatakan bahwa mentalitas manusia Indonesia antara lain adalah meremehkan kualitas, suka menerabas, tidak bertanggung jawab dan lesu. Mentalitas yang buruk tersebut sudah ada sejak jaman penjajahan dan menyebabkan kemunduran kedaulatan ekonomi di kondisi pra-negara[1]. Senada, Mochtar Lubis dalam bukunya Manusia Indonesia (Sebuah pertanggung Jawaban) mengatakan watak buruk manusia Indonesia yang hipokrit/munafik, feodal, lebih suka tidak bekerja keras kecuali kalau terpaksa, tukang menggerutu/berani berbicara di belakang, cemburu dan dengki, manusia yang sok dan plagiat.[2]

Arnold Joseph Toynbee seorang sejarawan asal Inggris mengatakan bahwa masyarakat yang berdiam di sekitar Khatulistiwa cenderung memiliki budaya yang lembek, karena alam yang kaya melenakan manusia yang tinggal di dalamnya. Menurutnya,ada hubungan “tantangan dan jawaban” antara manusia dengan alam sekitar. Alam memberikan sumber daya sekaligus tantangan kepada manusia, dan manusia memberikan jawaban dengan mengolah sumber daya alam dan melestarikannya (menghabiskan dan merusaknya)[3]. Pendapat ini diperkuat oleh Jiro Tokuyama (ekonom jepang pencetus Pasific Era) yang mengatakan bangsa agraris biasanya lebih sedentary, bersifat pasrah, ketimbang bangsa barat yang keras karena harus berburu untuk bertahan hidup.

Benarkah kita demikian adanya, seperti yang disebutkan diatas? 

Dalam perjalanan mentalitas manusia Indonesia, rangkaian peristiwa adalah fakta dan data dalam pendekatan sosiologi empiris yang membuka tabir nilai dan makna kehidupan sosial, sistem politik, dan perilaku ekonomi manusia. Secara eksplisit antropolog Indonesia asal Sulawesi Selatan, Prof. Mattulada mengatakan ada tiga pola perkauman besar dalam perjalanan bangsa yang membentuk mentalitas dalam kehidupan pra-negara. Pertama adalah perkauman Melayu di pesisir, pedagang yang egaliter karena interaksi perdagangan yang syarat akan tawar-menawar yang sejajar. Kedua adalah perkauman pola Jawa yang agraris, pedalaman, keteraturan dan harmoni dengan alam. Ketiga adalah pola Maritim yang gemar berpetualang, berlogat keras, dan memiliki karakter kuat mempertahankan kapal.[4]

Perkembangan mentalitas manusia pola Melayu berkembang dan tumbuh dalam persekutuan-persekutuan di dalam sebuah kaum (pepayungan) dan memiliki pimpinan bersama sebagai pengayom dan pelindung. Kehidupan di dalam persekutuan terpelihara secara mandiri dan kolektif serta memiliki kedudukan yang sama dalam tata tertib atau hukum adat persekutuan (equality before the law). Sedangkan interaksi antar persekutuan terjalin secara alami karena hubungan perdagangan yang egaliter. Otonomi setiap persekutuan dilaksanakan sebagai penataan wilayah teritorial, tetapi tetap mempertahankan ikatan genealogis dan keutuhan tanah kaum.

Masyarakat Melayu juga membenarkan adanya oposisi dan mengambil permufakatan dalam permusyawaratan. (seperti adanya semboyan-semboyan Melayu “Raja adil, Raja disembah; Raja lalim, raja disanggah”, “Bulat kata dalam mufakat, bulat air dalam pembuluh”). Hal ini juga dipengaruhi oleh ajaran Islam, yang mengajarkan bahwa setiap makhluk adalah sama di depan Allah. Mentalitas Melayu ini mungkin dapat digambarkan dari sosok Bung Hatta, Sutan Sjahrir dan Tan Malaka.

Selanjutnya adalah manusia Jawa. Manusia Jawa cenderung hidup mengolah bumi (yang tercukupi oleh alam), serta menjaga harmonisasinya dengan alam dan sang pencipta. Bentuk nyata relasi ini dapat kita jumpai dalam upacara adat sesaji bumi yang dilakukan tiap panen sebagai ucapan syukur terhadap sang pencipta alam. Pengelolaan pertanian mulai dari menanam (ndaut, nempah, nandur, dsb.), sampai memanen (ngerek, ngedos, derep, dsb.) yang tidak bisa dilakukan seorang sendiri memunculkan kebiasaan gotong royong (sambatan) dalam masyarakat Jawa yang pada akhirnya membentuk sebuah pola dimana posisi individu berada dibawah masyarakat dan masyarakat berada di bawah alam semesta atau sang pencipta.

Mentalitas pola Jawa yang bertemu dengan pola Dewa Raja Hindu Budha menyebabkan munculnya pola yang memusatkan diri pada Raja/Keraton. Sebagai pelaksana kedaulatan yang tunggal, dan dianggap sebagai representasi semua kawula, maka masyarakat harus menerima semua kehendak Raja sebagai wujud pengabdian. Pembagian wilayah kekuasaan dalam pola masyarakat Jawa terikat oleh kesetiaan kepada Raja/Keraton sedangkan sistem pemerintahannya mutlak bergantung pada Raja. Namun para Raja memiliki para penasehat yang juga mempengaruhi keputusan-keputusan penting. Tampaknya pola Jawa ini tergambar dengan jelas lewat kepemimpinan Soekarno dan Soeharto.

Terakhir adalah pola Maritim, yang dikenal gemar berpetualang ditengah lautan luas. Kepemimpinan dalam pola Maritim ditentunkan dari kemampuan dan pengalaman. Seseorang dapat menjadi nahkoda dengan prestasi yang didapat setelah melewati anak tangga terbawah dari kehidupan kapal yang keras. Kewajiban mempertahankan kapal menjadikan masyarakat Maritim berpendirian kokoh untuk mempertahankan kepemilikannya. Musuh-musuh/perompak yang ditemui dalam perjalanan membuat para awak kapal saling percaya pada teamwork antar awak kapal, meski hal ini juga menyebabkan mereka menjadi tertutup pada suku lain karena rasa waspada yang terlalu tinggi. Pada masa keemasannya, masyarakat Maritim pernah berjaya di nusantara, yaitu masyarakat Sriwijaya dan Gowa Tallo.

Selain ketiga faktor alamiah diatas, adapula faktor non-alamiah dan berasal dari rekayasa manusia yang ternyata mempengaruhi hasil akhir dari mentalitas sebuah bangsa. Seperti yang coba dikuak oleh Edward W. Said dalam teori Orientalisme-nya yang mengkritisi hegemoni barat (penjajah) atas negara timur (jajahan atau yang sudah merdeka). Dia menjelaskan tentang bagaimana barat mengatur kehidupan timur dengan melacak akar historis, etnografis, antropologis, bahasa, adat istiadat, kemudian memberi stereotipe terhadapnya[5]

Narasi besar Orientalisme yang dibangun beratus-ratus tahun ini disadari atau tidak telah mengubah mentalitas manusia Indonesia dan menjangkiti generasi penerus bangsa. Hasilnya adalah, adanya jejak remah-remah paternalistik dan lazimnya korupsi, kolusi, nepotisme (KKN) yang masih bisa kita temukan di 72 tahun perjalanan kemerdekaan Indonesia.

Kenyataan diatas adalah fakta, meskipun tidak bisa digeneralisir. Namun pada hakikatnya, manusia sesuai fitrahnya pastilah bergerak menuju kebenaran. Termasuk dalam hal membangun mentalitas yang sudah semestinya mensyaratkan adanya penghormatan setinggi-tingginya terhadap hikmah kebijaksanaan. Pembangunan mentalitas tidak sama dengan mengubah yang tradisional menjadi modern, seperti merubah jaipong menjadi disko atau gubug menjadi beton. 

Pembangunan mentalitas harus diukur dari perubahan manusia menuju ke arah yang lebih baik dalam segi pola pikir, perilaku dan kesadaran untuk membebaskan individu maupun kelompok dari belenggu. Lebih detail, Koentjoroningrat mengatakan bahwa sikap mental yang diperlukan dalam perubahan yaitu suatu nilai budaya yang berorientasi ke masa depan, sifat hemat, hasrat untuk mengeksplorasi dan menginovasi, penilaian tinggi terhadap karya, percaya pada kemampuan sendiri, disiplin dan bertanggung jawab.[6]

Kata ‘lepas dari belenggu’ haruslah menjadi titik tekan dalam membangun mentalitas suatu bangsa. Namun bukan sekedar spirit ‘lepas dari belenggu’ saja yang diambil. Melainkan harus ada studi yang mendalam untuk menemukan mental asli bangsa Indonesia di tengah keberagaman suku dan budayanya. Kaca mata yang dipakai dalam memandang keberagaman dan kondisi sosial haruslah orisinil berasal dari khazanah ke Indonesiaan. 

Menggunakan metode Barat, tidak hanya berbahaya tetapi juga rentan adanya pengkaburan makna dan disusupi misi-misi pengkerdilan yang dilakukan oleh bangsa Barat kepada bangsa Timur. Jika tugas untuk membangun mental ini terlalu berat untuk dilakukan oleh pemerintah, maka berhentilah untuk mengimpor budaya, serta sumber daya dari bangsa lain. Dan biarkan manusia Indonesia menembus rimba dan belantaranya sendiri dengan caranya sendiri. 

Pada akhirnya, kita pun bertanya, ‘Siapakah kita?’. Apakah kita memiliki mental juara yang siap menaklukan tantangan masa depan. Atau kita hanya bermental hamba, yang cuma bisa berharap belas kasihan orang lain untuk membayar kita sebagai upah dari menjual kekayaan bangsa. 


[1] Koentjoroningrat, Rintangan-Rintangan Mental dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia, 1971. 
[2]Mochtar Lubis, Manusia Indonesia (Sebuah pertanggung Jawaban), 1977. 
[3]Arnold Joseph Toynbee, A Study of History ditulis dalam 12 jilid, 1934-1961. 
[4]Matullada, Kepemimpinan dan Demokrasi dalam Tradisi Masyarakat Nusantara, 1992. 
[5]Edward W. Said, Orientalism, 1978 
[6]Koentjoroningrat, Bunga Rampai Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan, 1974

No comments:

Powered by Blogger.