Negeri Ini Bukan Hanya Tentang Jokowi dan Prabowo

Penulis : Fachri Sakti N
Tak dinyana, Novel Ghost Fleet akan menjadi narasi pembuka panggung pertunjukan politik di negeri ini. Berlandaskan dari kisah yang disuguhkan dalam novel tersebut, Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto mengatakan dalam pidatonya jika Indonesia akan bubar di tahun 2030 kelak.
"Saudara-saudara! Kita masih upacara, kita masih menyanyikan lagu kebangsaan, kita masih pakai lambang-lambang negara. Gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini," ucap Prabowo dalam Konferensi Nasional dan Temu Kader Partai Gerindra. "Tetapi, di negara lain, mereka sudah bikin kajian-kajian, di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030. Bung! Mereka ramalkan kita ini bubar," imbuhnya.

Prabowo tidak menampik jika dirinya memang mengutip novel fiksi tersebut dalam pidatonya. Mantan Danjen Kopassus tersebut mengaku bahwa apa yang disampaikannya semata-mata hanya untuk memberikan 'peringatan'. "Saya sampaikan ke lingkungan kita untuk kita waspada jangan kita anggap enteng persoalan karena ya seperti itu dari awal lahirnya republik kita, sudah banyak yang iri sama kekayaan kita," kata Prabowo saat ditemui Tribun di Hotel Milenium Sirih, Jakarta, Selasa (22/3/2018).

Terlepas dari pidato politik Prabowo tersebut, ada baiknya kita mengetahui isi sebenarnya dari apa yang tertulis dalam novel karya Peter Warren Singer dan August Cole tersebut. Supaya kita dapat melihat lebih jernih polemik yang terlanjur ramai di ruang publik ini.

Membahas Novel Ghost Fleet
Ghost Fleet adalah novel techno-thriller yang keluar pada tahun 2015. Penulisnya, Peter W. Singer dan August Cole adalah pakar strategi yang ternama. Dilansir dari laman pribadinya, www.pwsinger.com, Peter W. Singer merupakan seorang ahli strategi New America Foundation. Selain itu, ia juga tercatat sebagai editor di majalah Popular Science. Pria berkebangsaan Amerika Serikat ini juga tercatat telah mendapatkan selusin penghargaan lewat buku-buku yang ditulisnya. 

Dalam karir profesional, Singer juga mencatatkan torehan yang tak main-main. Ia pernah bekerja di Kantor Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) hingga menjadi direktur pendiri Center for 21st Century Security and Intelligence di Brookings. Saat itu, Singer yang berusia 29 tahun merupakan sosok intelektual paling muda dalam 100 tahun sejarah Center for 21st Century Security and Intelligence.

Singer juga sempat menjadi koordinator pasukan kebijakan pertahanan kampanye Barack Obama di tahun 2008 dan direkomendasikan sebagai anggota komite dalam Kelompok Penasihat Transformasi militer AS saat Obama menjabat sebagai presiden. Dia juga mendapat penghargaan sebagai 100 inovator terkemuka, dan salah satu dari 100 orang paling berpengaruh dalam masalah pertahanan. Tentunya masih banyak lagi sederet prestasi yang ditorehkan oleh pria kelahiran 1974 ini.

Tak kalah dengan Singer, August Cole juga memiliki segudang prestasi yang mentereng. Dilansir dari laman pribadinya, Cole disebut sebagai seorang penulis, futuris dan analis yang mengeksplorasi masa depan konflik. Dia merupakan non-residen senior fellow di Brent Scowcroft Center tentang Keamanan Internasional di Dewan Atlantik. Di Dewan Atlantik tersebut, Cole menjadi pengarah proyek seni masa depan yang mengeksplorasi karya kreatif dan narasi untuk wawasan tentang masa depan konflik dari tahun 2014-2017. 

Cole juga seorang yang ahli di bidang industri pertahanan dan pernah turut membantu memecahkan berbagai masalah keamanan nasional AS, seperti mata-mata cyber asing yang meretas ke dalam program Joint Strike Fighter AS.

Perang Timor Kedua dan Jejak di Sulawesi Utara
Berbekal kemampuan mereka di bidangnya masing-masing, penulis Ghost Fleet menyuguhkan cerita tentang perang dunia di masa depan (2030) antara Amerika Serikat melawan China yang bersekutu dengan Rusia. Perang teknologi dan senjata canggih antara dua kubu yang berseteru ini pun disuguhkan secara menarik bak kisah di futuristik di film-film Hollywood.

Mulai dari aksi meretas situs keamanan, melumpuhkan pesawat F-35 milik Amerika Serikat, hingga mengambil alih sistem satelit yang berfungsi untuk komunikasi dan pengintaian. Di dalam novel, China yang memiliki teknologi supercanggih, akhirnya berhasil menyerang Amerika Serikat dan menduduki Hawaii.

Saat semua teknologi yang dimiliki tak berdaya melawan serangan cyber China dan Rusia, Amerika mau tak mau hanya menggunakan kapal perang kuno yang ada. Di sinilah 'Ghost Fleet' hadir sebagai kunci dari perlawanan Amerika atas dominasi China dan Rusia. Di mana sosok Jamie Simmons, sang kapten kapal yang menjadi tokoh utama novel dikisahkan bersama dengan sejumlah veteran militer AS, termasuk ayah Jamie, Mike Simmons berjibaku merebut Hawaii dari tangan China dan Rusia.

Secara khusus, novel ini tidak membahas tentang Indonesia di tahun 2030. Namun, nama Indonesia sempat beberapa kali muncul dalam novel. Disebut dalam novel, Indonesia tak lagi menjadi sebuah negara yang berdaulat. Singer dan Cole menyebut wilayah Indonesia sebagai bekas negara Indonesia 'the former Republic of Indonesia'. 

Tak dijelaskan secara pasti, apa yang menjadi penyebab runtuhnya kedaulatan Indonesia. Singer dan Cole hanya menyebut jika Indonesia hancur akibat Perang Timor kedua. Perang Timor kedua itu juga tak dibahas apa yang menjadi sebab-musababnya. Namun ada sebuah petunjuk yang bisa ditelusuri, yaitu saat tokoh yang bernama Admiral Wang menyinggung soal perintah eksekusi mati bagi Jenderal Feng karena menjual ratusan ton senjata kepada kelompok separatis di Sulawesi Utara dengan harga yang yang tidak sesuai dengan kesepakatan.

Selain itu, Indonesia disebut dalam novel sebagai kawasan yang penting, yakni sebagai jalur lalu-lintas bagi keberhasilan misi Jamie Simmons. Indonesia juga dikisahkan sebagai salah satu tambang energi untuk China dalam novel setebal 400 halaman tersebut.

Pidato Prabowo Menjadi Pembuka Panggung Perpolitikan Jelang Tahun Pemilu
Mirisnya kondisi Indonesia sebagaimana dikisahkan dalam novel tersebut membuat Prabowo gusar dan mencurahkan kekhawatirannya dalam bentuk pidato di depan kader-kader Gerindra serta ditayangkan di media sosial. "Kewajiban saya sebagai anak bangsa, saya harus bicara kalau melihat suatu bahaya," kata Prabowo.

Niatan Prabowo tersebut justru membuat publik menjadi risau dan mengkritik literasi Sang Ketua Umum Gerindra yang bersumber dari sebuah novel fiksi. Meski di sisi lain banyak pula pihak yang mendukung argumentasi Prabowo, mengingat latar belakang penulis novel yang tercatat sebagai ahli strategi dan futuris. 

Faktanya kemudian, pidato Prabowo tentang Indonesia bubar 2030 telah membuka pertunjukan di atas panggung perpolitikan Indonesia menyongsong tahun politik 2018 dan 2019. Ibarat pantun ‘loe jual gue beli’, kubu penguasa dan oposisi kini terang-terangan beradu dan berbalas argumen untuk merebut simpati massa.

Bahkan Presiden RI, Joko Widodo juga angkat bicara sendiri menyikapi pidato Prabowo. Pria yang akrab disapa dengan nama Jokowi ini pada awalnya hanya tertawa ketika ditanya wartawan mengenai Indonesia bubar 2030. Usai tawanya mereda, Jokowi mengatakan jika seharusnya masa depan dipandang dengan rasa optimisme, bukan sebaliknya. Meski diakuinya jika Indonesia pasti akan menghadapi sejumlah tantangan dan hambatan.

"Kita memandang ke depan itu harus memandang dengan rasa optimisme. Kita memandang ke depan itu harus juga memberikan sebuah harapan yang lebih baik kepada anak-anak muda kita, kepada rakyat kita," kata Jokowi. "Sesulit apa pun tantangan yang ada, sesulit apa pun hambatan yang ada, itu harus memberikan rasa optimisme, rasa harapan ke depan lebih baik, memang harus seperti itu," lanjut Presiden.

Ditertawai oleh Jokowi, koalisi lantas berhenti mengkritik penguasa negeri ini. Prabowo kemudian kembali berpidato di depan pendukungnya dan membeberkan jika para elit di negeri ini belum berhasil mensejahterakan rakyat. Bahkan cenderung menimbulkan ketimpangan ekonomi karena kebijakan yang diambil oleh elit cenderung neolib dan bermental maling, menurut Prabowo.

"Terutama elit, kita terus terang saja minta ampun, deh. Gue sudah kapok sama elit Indonesia," kata Prabowo dalam pidatonya di acara kampanye calon gubernur-wakil gubernur Jawa Barat Sudrajat-Ahmad Syaikhu di Depok. Tak jelas siapa elit yang dimaksud oleh Prabowo, namun jika merujuk pada kata ‘pengambil kebijakan’ yang dilontarkan Prabowo, bisa jadi yang dimaksud Prabowo adalah elit penguasa saat ini.

Panasnya perpolitikan Indonesia juga merembet ke dunia maya. Di Twitter, mencuat tagar #2019GantiPresiden yang dipelopori oleh kubu oposisi. Bahkan kubu oposisi sempat membuat kaus yang bertuliskan #2019GantiPresiden dan kerap dikenakan di berbagai kesempatan. Kubu pendukung penguasa yang tak mau kalah dengan kubu oposisi, kemudian memunculkan tagar #2019TetapJokowi untuk menandingi tagar #2019GantiPresiden.

Riuhnya panggung perpolitikan, akhirnya memancing Jokowi untuk membalas pidato-pidato Prabowo. Jokowi yang biasanya dikenal lembut, sekejap berubah menjadi garang dan menyampaikan pidato berapi-api di depan relawannya. Di depan para relawannya, Jokowi menepis semua tudingan dan kritikan yang disasarkan kepadanya, mulai dari tudingan PKI, isu antek asing, tukang utang hingga membahas kaus ganti presiden.

Narasi yang disampaikan oleh Prabowo dan Jokowi dalam pidato-pidato mereka jelas menyasar satu sama lain dan kode keras jika mereka akan kembali berkompetisi di Pemilihan Presiden 2019 nanti. Dari sisi modalitas politik, keduanya juga memiliki bekal cukup untuk maju memperebutkan tampuk kekuasaan negeri ini. Jokowi sudah mengantongi restu dari beberapa partai koalisi pemerintahan dan Prabowo sudah dimandatkan oleh Gerindra dan didukung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk maju melawan Jokowi di Pilpres 2019. 

Negeri Ini Bukan Hanya Tentang Jokowi dan Prabowo
Kompetisi pada dasarnya adalah sesuatu hal yang positif, apalagi kompetisi untuk mempimpin negeri ini. Cuma, sayangnya kompetisi politik yang ditonjolkan dari kedua kubu masih jauh dari kata dewasa. Pasalnya, isu SARA masih saja dipakai di negara demokrasi terbesar di dunia ini, sedangkan penguasa yang minim prestasi hanya bisa menunjukkan sensasi dan pencitraan. Masyarakat dibelah menjadi dua kubu dan digiring untuk menyaksikan pertarungan abadi antara penguasa dan oposisi, seolah yang penting hanya tentang mereka saja. 

Padahal ada hal lain yang lebih penting, masalah sawit misalnya. Sektor yang diyakini sebagai penyumbang devisa terbesar Indonesia ini ternyata hanya dikuasai oleh segelintir konglomerat belaka. Sedangkan para petani sawit yang tak selamanya tak akan bisa memetik keuntungan dari jerih-payahnya karena laba mereka tak sebanding dengan mahalnya biaya mengolah sawit mulai dari tanam hingga panen. 

Jadinya, yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Belum lagi masalah lingkungan yang ditimbulkan oleh limbah pengolahan sawit yang dibuang sembarangan oleh perusahaan-perusahaan besar. Potret ironi perkebunan sawit ini disuguhkan faktanya secara apik dalam film dokumenter berjudul Asimetris buatan Watchdoc yang diproduseri oleh Indra Jati dan Dandhy Laksono.

Belum lagi dengan Pekerjaan Rumah (PR) lama kita, seperti menggilanya praktik korupsi (KKN), luasnya jurang kesenjangan sosial, konflik agraria, kasus HAM, dan monopoli kekayaan nan kapitalistik oleh para konglomerat yang belum juga mampu dicari solusi pemecahannya.

Kita patut curiga, jangan-jangan politikus yang acuh pada rakyat dan gila kuasa adalah sebab utama dari pecahnya Perang Timor kedua. Mereka yang terlalu asyik berebut kekuasaan hingga melupakan masalah yang sebetulnya di hadapi oleh Indonesia hari ini cukup masuk akal untuk membuat masyarakat marah. Kemudian, masyarakat yang marah bisa saja muak dan memilih jalan separatis untuk menentukan nasibnya sendiri.

Seyogyanya, para politikus yang menjadi representasi kekuasaan rakyat ini sudi kembali mengurus hal-hal yang lebih substansi dari pada berkoar-koar yang tidak penting, kontra-produktif dan destruktif. Karena masyarakat yang lapar dan tidak percaya lagi pada pemerintah bisa menjadi liar dan meminta Jenderal Feng (tokoh fiksi dalam novel 2030) untuk menyuplai ratusan ton senjata dan makar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bukankah kita tidak mau melihat bangsa ini pecah dan bubar? Negeri ini terlalu indah untuk dihancurkan dan kedamaian bangsa ini lebih berarti dibanding segenggam kekuasaan. Pada akhirnya, 2030 Indonesia bubar tetaplah menjadi fiksi dari sebuah novel. Sedangkan yang fakta adalah menjaga kedaulatan negara, melindungi segenap warga yang berpeluh jagung mengais hidup dari tanah Indonesia. 

Bangunlah jiwanya, bangunlah raganya untuk Indonesia Raya.

No comments:

Powered by Blogger.