Perempuan Katanya....?

Penulis : Annisa Nurjannah 
“Dia main tangan”
“Gue sayang.. gue sayang.. tapi.. gue harus gimana ?”
“Dia selingkuh lagi, tapi..”
“Gue di bully...”

Sepenggal curhatan orang kembali terngiang. Yap, curhat perempuan. Sorry, bukan mengerucutkan bahwa laki-laki seperti di atas, ini hanya curhatan perempuan yang sebenernya tulisan ini justru sindiran untuk para perempuan. Cinta. Segampang itu sebenernya perempuan jatuh cinta. Tapi banyak perempuan di luar sana yang kemakan sama cinta, tidak bisa mikir pake logika, perasaan terus yang diutamain. Sampe lupa perempuan juga manusia, dikasih akal sama tuhan, bukan CUMA perasaan.

Mau sampai kapan perempuan dicap sebagai makhluk tak berlogika dan hanya memakai perasaan? Mau sampai kapan perempuan mengiyakan itu yang justru itu bukan perempuan! Perempuan seharusnya justru bisa menjadi makhluk yang sangat luar biasa, yang seimbang antara logika dan perasaannya, di setiap kondisi. Bukannya Tuhan saja bilang harus seimbang antara hubungan dunia dan hubungan denganNya?

Akhirnya banyak kasus perempuan menjadi lemah karena justifikasi orang-orang yang menganggap bahwa perempuan lemah, gampang tersakiti, gampang dibodohi. Akhirnya jadilah lemah seorang perempuan, padahal perempuan bisa sama kuatnya ketika memakai logika dan bisa tetap lembutnya ketika dia menyeimbangkanya.

Pada akhirnya bukan terkait apakah dia perempuan atau laki-laki namun terkait kemanusiaan. Akhirnya semua akan kembali kepada norma, moral, agama, dan hak sesama manusia. Kekerasan bukan suatu hal yang bisa dimaklumi jika pelaku lelaki dan korban perempuan, bukan suatu hal yang biasa jika terdapat pelecehan. Apapun kasusnya jika sudah kekerasan dan pelecehan, siapapun korbannya baik perempuan ataupun laki-laki tetap namanya kekerasan dan pelecehan! Dua hal itu harus diusut hingga tuntas.

Lalu misalkan perselingkuhan, bukan karena itu perempuan atau laki-laki yang melakukannya, namun ada manusia yang memiliki habbit yang buruk. Sama halnya pelecehan, bukan apakah pelaku perempuan atau laki-laki, tapi karena ada manusia yang tidak memiliki pengetahuan tentang moral dan bagaimana ia harus bersikap terhadap sesama yang lain.

Berbicara mengenai perbedaan antara perempuan dan laki-laki jelas beda. Fisik saja berbeda, kebutuhan saja berbeda, maka ada hal-hal yang tidak bisa disamakan antara perempuan dan laki-laki. Saya berpendapat justru perempuan dan laki-laki memiliki garisnya masing-masing, tidak bisa disamakan atau disetarakan kecuali di hadapan Tuhan.

Tidak bisa perempuan selalu menganggap dirinya lemah, menjadi korban kekerasan, tapi tidak melawan. Speak up girls! Kita diganggu di kereta yang penuh? Teriak! Ada yang melakukan pelecehan? Lawan! Ada yang mengkerdilkan perempuan? Tunjukkan perempuan bisa melakukan apapun. Jangan mau jadi seseorang sesuai apa yang dilabelkan selama ini. Jangan mau ditindas oleh siapapun!

Jangan sampai justru stigma negatif itu ada karena kita perempuan yang mengamini kita lemah. Seimbangkan perasaan dan logika, jangan mau kalah dengan sedih, galau, nangis, takut atau ga enak. Belajar menyeimbangkan itu, lawan perasaan negatif dengan logika. Seimbangkan logika dengan perasaan, bangun komunikasi dengan sesama, dengan semua.

Dari rahim ibulah seorang anak lahir dan dari ibulah pendidikan pertama anak dalam melihat dunia. Dan tanpa peran ayah seorang anak tidak akan ada di dunia dan tidak akan sempurna tumbuh kembang seorang anak. Begitulah dunia, dimana laki – laki dan perempuan memiliki peranannya masing-masing dengan setara yang sama sebagai manusia.

Jadi, apakah kamu perempuan hebat? Atau justru perempuan lemah?

No comments:

Powered by Blogger.