Polaris

Penulis: Fauzie Nur Ramadhan
Dimulai saat waktu masih menunjukan pukul tujuh pagi. Saat itu langit masih gelap. Awan mendung masih gemar menetap dengan tenang di langit. Tidak ada matahari pagi itu. Sunyi. Yang terdengar hanya suara daun yang perlahan gugur karena angin yang berhembus kencang. Pelan. Begitu pelan sehingga daun yang gugur mampu berpuisi dengan bijak. Suara angin yang berlalu masih betah berbisik dengan anggun, menjadi nada yang tak ternodai sedikit pun.

Alarm pagi itu seperti sedang tertidur pulas. Jam yang ditempatkan di meja kesukaannya ternyata rusak. Entah disadari atau tidak. Lampu tidur yang redup masih menyala, suasana remang pun tercipta. Mesra, bagi sebagian orang. Ya, jika kau lewatkan masa-masa itu dengan orang yang katanya kau sayangi itu. katanya. Menjadi suatu pengalaman yang lain jika kau nikmati sendirian. Banyak pikiran yang lewat begitu saja, atau mungkin perasaan yang tidak mampu dijelaskan hingga yang mampu menjelaskan hanya tawa kecilmu, atau bahkan hanya terdengar isak tangis yang menderu. Saat yang dirasakan hanyalah suatu perasaan lega karena kau mampu memeluk dirimu sendiri saat itu.

Dengan barang yang berserakan dimana-mana, entah malas untuk membuat keadaan yang rapih atau memang keadaan yang berantakan menjadikannya nyaman. Berbicara mengenai nyaman, suatu ketika seorang kawan pernah berkata;
Nyaman yang kau rasa tidaklah menjadi abadi, yang mana suatu saat hanya membawamu jauh ke dalam ruang kosong, yang gelap, kemudian menjadikanmu buta. Hanya terbawa imajinasi. Tidak peduli akan hal-hal lain yang membawamu menjadi lebih, dan lebih. Hanya terdiam. Lalu mati perlahan, menjebakmu hingga kelam.
Gelas berisi kopi hitam yang sudah dingin masih menunggu dengan sabar untuk diminum. Sisa-sisa piring kotor semalam masih duduk santai di meja makan, setia ditemani bau yang membuat orang malas untuk sekedar mendekatinya. Mungkin ada idiom selain kapal pecah yang lebih mampu mewakili keadaan tempat itu.

Terkadang sebagian dari kita suka mendefinisikan sendiri arti dari suatu kata, suatu kalimat, suatu keadaan, suatu gestur tubuh, suatu pesan singkat yang terdapat di setiap perangkat elektronik, atau bahkan suatu pesan yang tertulis di atas kertas. Dengan penuh percaya diri seseorang mengartikan ajakan-ajakan untuk menikmati waktu berdua sebagai bukti ketertarikan seseorang, yang mungkin saja di sisi lain terjadi pengartian yang sebaliknya. Cerita lain tentang munculnya amarah yang enggan untuk dibendung, seseorang mengartikan pesan yang diterima tanpa tambahan ber-haha-hihi adalah pesan singkat yang tidak ramah. Berhentilah sok tau.

Tapi; kata yang menjadi kesukaan sebagian orang untuk digunakan di dalam keadaan yang tidak menyenangkan, seperti mencoba meredakan keadaan di tengah suatu pertengkaran misalnya. Namun, nyatanya yang datang bukanlah senyum namun hanya menambah kata-kata sumpah serapah. Mencoba memposisikan dirinya sendiri diantara hal yang benar dan salah. Yang kemudian memunculkan polemik lagi mengenai benar atau salah. Benar menurutmu atau benar menurut siapa? atau hanya tentang kebenaran mutlak? Benar dan salah atas dasar apa?

Kemudian, hening.

Mimpi semalam memang tidak layak untuk diceritakan. Terbangun dengan mata yang masih sayu menjadi alasan untuk kembali memeluk guling dan terlelap lagi. Menikmati kembali romantisme masa lalu dan membayangkan tentang berbagai penyesalan atas berbagai hal. Rasanya sangat malas untuk beranjak dan menjadi baik. Hanya saja jangan lupa untuk jadi baik, walau malas. Setidaknya baik lah pada dirimu sendiri.

Tiba-tiba telepon genggam yang ada di sampingnya berbunyi. Dilihatnya pesan yang masuk. Tersenyum. Hanya itu yang bisa dilakukannya. Setidaknya di hari yang mendung itu tidak semuanya buruk. Tahu bahwa masih saja ada seseorang yang tak henti mengingatmu memang terasa manis. Tiap orang memang suka mengingat dan membuat seseorang diingat dengan cara yang bahkan Tuhan tidak ingin kita tahu.

No comments:

Powered by Blogger.