Sajak Tentang Lara

Penulis : Fachri Sakti N
Istirahatlah dunia
Dari putaran bianglala semesta
Meleburlah beban-beban
Lepaslah dari badan

Menyepilah sejenak
Menepilah sementara
Kosongkan segalanya
Hingga tiada apa-apa

Kini aku dan laraku telah terpisah
Laraku yang tak terkira
Laraku yang seberat rindunya punuk pada purnama
Laraku yang terlalu luas hingga mataku tak mampu melihat ujungnya

Lara
Memikirkanmu saja sudah membuatku puyeng
Menyentuhmu saja membuat tubuhku lumpuh seketika
Lalu bagaimana caraku untuk melalui waktu bersamamu?

Lara, sekarang Aku dan Kamu duduk di padang pasir
Dan engkau laraku, tersenyum kecut meledekku seraya berkata, 
"Aku adalah Kamu, Kamu adalah Aku, Aku dan Kamu satu, 
tapi Aku dan Kamu bukan seperti Kamu dan bayanganmu, 
Aku adalah Kamu yang Aku."

Sial benar Aku, bersama denganmu di sini
Bersama lara yang sok bersilsafat seperti Rocky Gerung

Dan laraku semakin menjadi-jadi
Berisik seperti ular derik
Bising, tak pernah membiarkanku istirahat lama
Apa ada yang lebih buruk dari ini? Di padang pasir bersama lara.

Angin timur berhembus perlahan, lara
Meniupkan panas yang berdebu
Memancing protes dari tenggorokanku yang seret karena kehabisan ludah
Tanpa bekal tanpa apa-apa, keadaan ini semakin buruk saja, lara

Angin timur mulai berhembus kencang, lara
Kini tak hanya debu saja yang diterbangkannya
Omong kosong dan kotoran dunia ikut terbawa dihembusannya
Ada tainya juga, sial, Lara

Di ujung timur muasal angin timur
Cakrawala tampak seperti badai lautan sampah Bantar Gebang
Melumat tanpa ampun, apapun yang ada di hadapannya
Melaju kencang ke arahku yang sedang duduk bersamamu, lara

Ternyata duduk bersamamu bukanlah yang paling buruk, lara
Badai omong kosong di timur sana lebih menjijikkan daripada umpatanmu lara
Aku harus berjalan lagi jika tak ingin mati, lara
Berjalan lagi memikulmu, lara

Baiklah lara, Aku tak tahu sampai kapan ini berakhir
Namun ku sadari lara, tanpa umpatanmu aku pasti tak akan terjaga
Tanpa kutukanmu, was-wasku pasti akan terlena
Tanpa nyinyiranmu, Aku mungkin memilih mati ditelan badai sampah lara

Begitulah akhirnya lara, Aku dan Kamu melewati waktu
Berjalan tak tahu arah yang dituju
Hanya menghindar dari badai, dari waktu ke waktu
Seperti kisah-kisah orang biasa di masa lalu

No comments:

Powered by Blogger.