Sejarah Kopi Indonesia yang Sepahit Rasanya

Penulis : Aldian
Sepertinya cuma bumi nusantara yang bisa mencampurkan kopi Arabica dan Robusta jadi satu varian minuman baru. Begitu juga dengan kopi Luwak, minuman yang berasal dari kotoran binatang yang saat ini menjadi salah satu minuman termahal di dunia. Di balik nikmatnya tradisi minum kopi yang sedang naik daun di kalangan generasi milenial ada cerita menarik dari sejarah kopi di Indonesia.

Kita patut berterima kasih sekaligus mengutuk sosok Adrian Van Ommen seorang kapten angkatan laut Belanda yang ditugaskan melakukan percobaan penanaman kopi di Batavia. Van Ommen yang saat itu ditugasi mencari tanaman yang cocok untuk ditanam di Hindia Belanda sebagai komoditas perdagangan, maklum saat itu VOC sedang mencari sumber uang baru selain rempah-rempah.

Eksperimen penanaman biji kopi itu awalnya dilakukan di rumah seorang pejabat Belanda yang sekarang dikenal dengan daerah Pondok Kopi Jakarta Timur. Jangan bayangkan Pondok Kopi seperti kondisinya sekarang, waktu itu Batavia masih kaya akan tanah lapang dan penduduknya masih sangat sedikit sehingga kolonial bisa melakukan banyak eksperimen.

Percobaan itu mulanya tidak berhasil di Batavia, alasannya tanah di sana terlalu rendah sehingga menghasilkan kegagalan. Namun para koloni tidak patah semangat, mereka yakin kopi dapat menghasilkan keuntungan besar jika ditanam di Hindia Belanda. Setelah dilakukan penelitian di negeri induk Belanda dan ternyata berhasil barulah kemudian kopi dibawa kembali kesini dan menemui sukses besar. Biji kopi diputuskan kopi akan ditanam di wilayah kerajaan yang menyebar di Jawa, Flores dan Sumatra hingga Sulawesi.

Kopi Hindia Belanda saat itu sukses besar di dunia, hingga terkenal istilah "a cup of Java" atau secangkir Jawa untuk minuman penahan kantuk ini. Kepopuleran kopi Jawa adalah salah satu alasan yang kemudian melahirkan kebijakan tanam paksa di wilayah Hindia Belanda untuk memenuhi kebutuhan pasar kopi dunia. Emas hitam julukan lain untuk kopi menjadi komoditas utama pemerintah kolonial dengan mengeksploitasi habis-habisan baik lahan maupun penduduk asli lewat tangan-tangan raja mereka masing-masing dengan kebijakan tanam paksa.

Cerita tanam paksa yang memilukan sering kita dengar saat sekolah dulu lewat tulisan Multatuli dalam buku Max Havellar. Dia menulis novel roman dengan latar belakang kekejaman kebijakan tanam paksa di Lebak, Banten Jawa Barat. Puluhan tahun berjalannya kebijakan tanam paksa yang mengharuskan penduduk menanam kopi dan gula menjadikan banyak penduduk kelaparan karena lahan yang tadinya diperuntukkan tanaman pangan menjadi terbatas sebab harus ditanami kopi.

Dengan penerapan sistem kerja paksa dan terbangunnya insfrastruktur jalan di Pulau Jawa, maka produksi kopi di Jawa bisa mencapai 26.000 ton. Bahkan antara tahun 1830-1834 produksinya telah menembus angka 79.000 ton. Hingga mencapai puncaknya pada abad ke-19, tepatnya pada tahun 1880-1884, produksi kopi di Indonesia telah mencapai angka 94.000 ton. Tentu angka ini dibayar dengan puluhan ribu penduduk asli yang menderita dan meninggal dunia akibat kebijakan tanam paksa demi berjayanya VOC dan kemakmuran Belanda.

Tak selamanya kejayaan kopi di Hindia Belanda berlangsung, kepopuleran kopi Jawa menurun saat seluruh perkebunan kopi di Hindia Belanda terkena wabah tanaman yang mematikan. Biji kopi jenis Arabica yang ditanam kemudian berganti jenis menjadi Robusta yang dikenal lebih tahan hama penyakit. Setelah Indonesia merdeka perkebunan - perkebunan kopi itulah yang sekarang diteruskan oleh pemerintah Indonesia dan segelintir pengusaha swasta.

Saat ini Indonesia merupakan eksportir terbesar kopi di dunia setelah Brazil dan Vietnam. Ironis karena luas lahan kopi kita sebetulnya lebih besar dibanding Vietnam namun kita kalah secara teknologi pertaniannya. Tentu butuh kebijakan yang mendukung dari pemerintah untuk para petani kopi agar kejayaan kopi dari Indonesia tidak hanya menjadi sejarah saja.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan pemerintah seperti pemberlakuan subsidi dan insentif bagi petani kopi, modernisasi teknologi pertanian dan pembukaan pasar baru. Hal ini harus dilakukan segera agar kejayaan kopi kembali terulang demi terwujudnya masyarakat adil makmur di Indonesia.

Referensi :
id.wikipedia.org/wiki/kopi
kopidewa.com
dongengkopi.id

No comments:

Powered by Blogger.