Siapa Itu Kafir? Mendefinisi Ulang Makna Kafir Menilik Dari Sejarah Perjuangan Islam

Penulis : Fachri Sakti N
“… orang-orang kafir dalam arti yang sesungguhnya adalah orang-orang yang menumpuk kekayaan dan terus membiarkan kedzaliman dalam masyarakat serta merintangi upaya-upaya menegakkan keadilan…” (Asghar Ali Engineer, 1987).

“Jangan pilih pemimpin kafir!” Ajakan untuk tidak memilih pemimpin kafir ini kok sering banget dilontarkan ketika Pemilu tiba. Apalagi jika di kawasan tersebut ada orang yang agamanya berbeda dari yang dianut mayoritas. Pasti ramai banget bertebaran di selebaran, mimbar-mimbar diskusi dan timeline media sosial tentang ajakan untuk tidak memilih pemimpin kafir tersebut.

Beberapa berdalih jika sah-sah saja untuk mengajak orang tidak memilih pemimpin kafir, alasannya adalah soal iman. Jika sudah masuk ke ranah iman ini, biasanya sukar adanya ruang-ruang untuk berdialektika. Program kerja dan janji-janji kampenye di nomor duakan, yang penting milih yang seiman dulu. Ya begitulah cara kerjanya iman, dipercaya saja, dan tidak perlu diprotes.

Ngomong-ngomong soal kafir, penulis jadi teringat pada buku kecil tulisan Asghar Ali Enginer yang berjudul ‘Islam dan Pembebasan’. Sesuai dengan judulnya, Asghar Ali banyak mengulas tentang teologi pembebasan dalam buku tersebut. Ia merekonstruksi ulang makna kafir yang pada zaman dulu diperangi oleh Nabi Muhammad (Islam).

Ashgar Ali memulai pendekatannya pada sejarah Makkah di masa lalu, saat kemunculan Islam pertama kali. Pada akhir abad kelima, Makkah menjadi pusat perdagangan dan pusat pertemuan para pedagang dari kawasan Laut Tengah, Teluk Parsi dan Laut Merah sehingga membuat Makkah berkembang pesat. 

Uniknya, pada masa itu masyarakat Mekkah berdagang berdasarkan pada sirkulasi produk, bukan pada sirkulasi produksi. Lambat laun, masyarakat Mekkah mulai mengembangkan lembaga-lembaga kepemilikan pribadi atau menumpuk kekayaan.

Penumpukan kekayaan inilah yang menjadi cikal bakal masalah di Mekkah. Pemusatan kekayaan menyebabkan sebagian masyarakat kecil semakin tertindas dan terjebak dalam proses sosial yang tak terhindarkan, di mana yang kaya semakin kaya, sedangkan yang miskin semakin miskin. 

Di tengah kondisi yang semrawut tersebut, Tuhan mengutus seorang pembimbing atau seorang pemberi peringatan guna mengentaskan manusia dari masalah krisis moral dan krisis sosial. Dan dipilihlah Muhammad sebagi konduktor instrument kemaha-bijaksanaan Tuhan untuk melepas belenggu krisis sosial yang terjadi di Mekkah.

Namun kehadiran Muhammad tidak serta merta diterima begitu saja. Penolakan keras terutama datang dari kaum hartawan yang merasa kepentingannya terganggu atas ajaran yang di bawa oleh Muhammad. 

Kaum hartawan Mekkah tidak mau menerima ajaran ketauhidan yang disampaikan oleh nabi bukan karena urusan aqidah mereka yang harus meninggalkan berhala. Mereka enggan bertauhid karena ajaran Muhammad berimplikasi pada bidang sosial ekonomi yang menghalangi kepentingan-kepentingan para hartawan Mekkah tersebut. 

Pasalnya, dengan tegas Al-Quran mencela penumpukan (monopoli) kekayaan yang dilakukan oleh hartawan Mekkah (Lihat QS. Al Humazah :1-7). Selain itu masih banyak dalil Al-Quran yang melarang adanya monopoli dan penjajahan dalam berbagai bentuk

Mereka yang menolak bertauhid inilah yang akhirnya dipanggil sebagai kafir. Mereka lah yang diperangi oleh nabi. Peperangan tersebut bukan hanya tentang tauhid, melainkan juga tentang perjuangan sosial dan ekonomi yang diusung oleh sang revolusioner Muhammad. 

Ajaran Muhammad tentang pengentasan kemiskinan, pemerataan kekayaan, dan pembebasan budak sangat mengganggu kepentingan para hartawan saat itu. Hingga akhirnya mereka berkongsi untuk menghentikan ajaran Muhammad dengan berbagai cara, salah satunya lewat embargo barang dagang yang memaksa Nabi dan pengikutnya untuk hijrah ke Madinah. 

Jika menilik dari sejarah tersebut, penulis rasa kita perlu merefleksi ulang makna kafir itu sendiri. Jangan-jangan kita sudah kafir karena melakukan monopoli dan penumpukan harta, jangan-jangan kita sudah menjadi kafir karena menutup mata atas penindasan yang ada.

No comments:

Powered by Blogger.