Upaya Pelemahan Gerakan Buruh Menjelang May Day 2018

Penulis : Anis Syarifah
Menjelang Hari Buruh 1 Mei 2018, beredar meme Hari Buruh dimana Hari Buruh merupakan momentum sakral yang setiap tahun diperingati oleh buruh sedunia. Kita bisa bekerja selama 8 jam sehari dan 40 jam seminggu adalah salah satu buah keberharilan gerakan buruh. Meme menyakitkan yang beredar itu bertuliskan, "Daripada pusing mikirin UMK, lebih baik pikirin bagaimana cara skak mat" Terdapat meme lainnya. "Daripada ikut demo, mending ikut mancing". Lucunya meme ini diunggah oleh akun instagram @kapolrestatangerangofficial, meskipun saat tulisan ini dibuat, meme itu sudah lenyap. Tidak mengherankan jika pihak kepolisian tersebut dianggap sebagai bentuk intimidasi dan provokasi agar buruh mengalihkan kegiatan peringatan May Day dengan kegiatan lain yang sifatnya menyenangkan.

Parahnya lagi Kementerian Tenaga Kerja (kemenaker) sebagai pihak yang seharusnya melindungi dan memperjuangkan hak-hak buruh mencoba mereduksi makna Hari Buruh dengan menggelontorkan tema May Day is a Fun Day. Terlihat di akun instagram @kemnaker yang mengunggah sebuah video bersama mahasiswa IAIN Salatiga dan dengan kompaknya mengucapkan selamat Hari Buruh Internasional lengkap dengan teriakan yel-yel May Day is a Fun Day. Cukup disayangkan para mahasiswa itu masuk dan larut dalam tema itu, atau mungkin saya yang berekspektasi berlebihan terhadap mereka. Alangkah kerennya jika mereka turut serta atau syukur-syukur menjadi garda depan yang menggugat pemerintah untuk memenuhi hak-hak buruh, petani dan rakyat tertindas.

Tahun 2016 yang lalu Menteri tenaga kerja bersama Walikota Bandung yang hari ini juga merupakan salah satu calon gubernur Jawa Barat kompak mengenakan kaos yang bertuliskan, "Mayday is a Holiday". Dalam kesempatan itu mereka turut merayakan Hari Buruh dengan para buruh di Kota Bandung, acara itu berisi pertunjukan seni dan budaya serta bagi-bagi hadiah. Tampaknya Kemnaker ingin mengubah kesan Hari Buruh yang menakutkan, anarkis dan identik dengan aksi demonstrasi, menjadi hari yang menyenangkan dan layak untuk dirayakan dengan cara yang menyenangkan pula.

Tidak berlebihan kiranya jika saya menilai apa yang dilakukan oleh Kemnaker dan kepolisian itu adalah buah kedangkalan pikiran pemerintah atas persoalan kaum buruh di Indonesia. Tugas pemerintah sebagai pembuat kebijakan seharusnya berbuat lebih dari sekedar mengajak para buruh lomba catur, mancing dan senam. Jangan sampai buruh dibuat seolah-olah baik-baik saja, hak-haknya sudah terpenuhi dan tidak perlu mengkhawatirkan kontrak kerja yang hampir habis. Kepolisian juga seharusnya cukup menjalankan tupoksinya dalam mengamankan aksi demonstrasi buruh, bukan malah menjadi pihak yang seakan-akan menghalangi buruh untuk melakukan aksi. Pihak kepolisian harus menyadari bahwa hak-hak yang mereka dapatkan saat ini juga hasil dari perjuangan kaum buruh.

Dalam aksi demostrasi pada puncak May Day nanti, terdapat beberapa poin tuntutan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya seperti pemenuhan upah sesuai UMK, mengingat masih banyak dijumpai perusahaan yang memberikan upah murah yang tidak mencapai UMK. Selanjutnya tuntutan penghapusan PP No. 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan yang sejak diterapkannya upah buruh hanya naik rata-rata 8 persen tiap tahunnya. Tentunya besaran kenaikan itu terlalu kecil mengingap setiap tahunnya kebutuhan kaum buruh dan pekerja lainnya semakin meningkat dan tidak sebanding dengan herga kebutuhan pokok seperti beras, listrik dan BBM yang mengalami kenaikan harga. 

Selain itu beberapa persoalan yang masih marak terjadi seperti kontrak jangka pendek, outsourching, dan pemagangan. Skema Labour Market Flexibility (fleksibilitas pasar tenaga kerja) seperti ini sangat menguntungkan imperialis dan borjuasi besar. 

Di tahun ini, kebijakan tentang TKA (Tenaga Kerja Asing) juga menarik perhatian kaum buruh, terutama tenaga kerja asing kasar (unskill) yang mengancam ketersediaan lapangan kerja bagi buruh dalam negeri. Pelarangan izin TKA kasar ini menjadi tuntutan yang sangat realistis mengingat tidak sebandingnya jumlah tenaga kerja dan lapangan kerja yang tersedia. Hadirnya TKA kasar hanya akan memperburuk keadaan.

Problematika serius seperti ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah dan terus melakukan evaluasi atas kebijakan-kebijakan yang berjalan. Mengalihkan perhatian kaum buruh dengan kegiatan lain seperti bagi-bagi hadiah tidak akan menyelesaikan masalah. Meme May Day yang telah beredar itu mungkin tidak akan memberikan efek yang besar dan mempengeruhi secara siknifikan terhadap tekad buruh untuk tetap turun ke jalan, akan tetapi jika ini dibiarkan dan berkelanjutan, dikhawatirkan pemerintah melakukan pelarangan peringatan Hari Buruh sama dengan apa yang dilakukan di masa Orde Baru, meskipun itu dalam kemasan lain. 

Kembali ke tuntutan buruh, mengenai upah (UMK) misalnya, bukan tanpa alasan, mereka harus bekerja untuk mendapatkan upah demi menjaga keberlangsungan hidup keluarganya. Jika menuntut upah saja dilarang, itu artinya pemerintah tidak peduli dengan nasib hidup rakyatnya. Kalau sudah begini hanya ada satu kata, Lawan!!!

No comments:

Powered by Blogger.