Dua Puluh Tahun Reformasi Dan Tantangan Millennials Di Era Media Sosial

Penulis: Fauzie Nur Ramadhan
Apa yang ada di pikiranmu ketika kau melihat seseorang yang akan beranjak dewasa, yang beranjak berumur kepala dua? Apakah yang terbayang seseorang dengan pencarian identitas? Rasa ingin tahu yang bergejolak? Seseorang yang gemar bertikai hanya karena hal sepele? Atau hanya anak kecil yang masih labil? Akan muncul berbagai jawaban tentunya, dan sebuah momentum bersejarah yang dulu tercipta di nusantara ini ternyata sudah berumur kepala dua. 

Sejak reformasi sudah banyak peristiwa yang terjadi, dan sebagai generasi muda, peristiwa tersebut dapat menjadi pelajaran yang bisa direfleksikan dan dievaluasi demi terciptanya Indonesia yang berdaulat kelak. Semoga. Dan kita harus siap.

Prolog
“Perubahan secara drastis untuk perbaikan (bidang sosial, politik, atau agama) dalam suatu masyarakat atau negara”, setidaknya itulah pengertian reformasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Reformasi punya hubungan erat dengan sejarah bangsa Indonesia. Dia lahir ketika negeri ini sedang dalam keadaan tidak menentu. Di berbagai penjuru negeri rakyat menangis, rakyat berteriak, dan rakyat menuntut. 

Dia lahir ketika rakyat menderita, ketika rakyat mengalami apa yang dinamakan krisis kepercayaan terhadap pemerintah saat itu. Mungkin sudah jadi takdir yang akan dipikulnya karena dia diharapkan dan dikiranya dapat menjadi kebahagiaan rakyat. Menjadi malaikat penolong, dan mungkin bisa saja dewi fortuna berpihak padanya. Mungkin.

Hari kelahirannya dibumbui peristiwa tragis dan manusia yang berulah menjadi binatang. Merusak, menjarah, bahkan saling baku hantam dengan aparat. Di saat dia lahir, ekonomi negara ini sedang melemah. Harga menjulang tinggi, seakan tidak peduli dengan rakyat kecil. Si merah melahap gedung-gedung, asap menghiasi langit yang berubah menjadi kelabu.

Mahasiswa yang katanya adalah agent of change, pada puncaknya tahun 1998 melakukan aksi di berbagai tempat, mencoba membela dan berpihak bersama rakyat, mereka jenuh dan sudah tidak tahan dengan kebijakan pemerintah saat itu. Mereka jengah dengan kondisi negara yang carut marut. Banyak saksi sejarah yang menganggap pemerintah saat itu tidak tahu malu.

Rakyat dipinggirkan, seakan negara ini dibiarkan terjung ke jurang, lompat bebas untuk menemui ajalnya. Penjarahan di mana-mana, banyak orang memilih berdiam diri di dalam rumah demi keamanan keluarga. Prahara itu berlanjut berhari-hari. Menjadikan suatu situasi yang mencekam.

Setelah menelan korban, situasi memanas. Aksi besar-besaran digelar di ibukota negara. Gedung parlemen yang berisi wakil-wakil rakyat itu diduduki. Keadaan semakin ricuh dan tidak terkendali. Patung Pancoran yang berdiri kokoh itu ditemani asap hitam.

 Senayan bergemuruh, seakan menjadi tanda rezim otoriter yang jadi sejarah kelam itu sebentar lagi akan runtuh. Rakyat menunggu suka cita itu. Rakyat gerah akan keadaan selama 32 tahun itu, terkungkung di tanah mereka sendiri. Dibungkam oleh wakil rakyatnya sendiri. Bayangkan betapa munafiknya wakil rakyat itu. Bengis. 

Seluruh televisi dan radio di penjuru negeri membuat setiap orang merinding. Kabar yang dinantikan sejak sekian lama akhirnya dikumandangkan. Rezim itu runtuh. Rakyat bersuka cita. Rakyat bergembira. Para aktivis melayangkan kepalan tangan ke udara, tanda kebahagiaan. Namun, kejadian bersejarah tersebut meninggalkan pekerjaan rumah yang tidak sedikit. 

Ya, dia lahir dengan keadaan segudang masalah. Dia lahir di saat kondisi negara yang tidak stabil. Muncul harapan ketika kebebasan berpendapat tidak lagi dibungkam seperti hari kemarin. Demokrasi dijunjung tinggi, katanya. Dia lahir dengan semangat pembaharuan, dengan salah satunya akan hadir pemimpin baru. Pergantian pucuk kekuasaan terjadi selama beberapa tahun, pada awal masa tumbuh kembangnya dihiasi dengan pemimpin kontroversi dari kalangan ulama.

Pada umur yang masih belia, dia juga menyaksikan banyak pelanggaran HAM yang terjadi, seperti terbunuhnya Munir yang sebenarnya hingga sekarang kasus tersebut belum tuntas, namun seakan dilupakan begitu saja. Kemudian dia juga merasakan saat di mana banyak aset negara dijual ke luar negeri. Rakyat yang kembali berisik coba dibungkan dengan kata-kata emasnya, yang tentunya tidak akan pernah dilupakan, yaitu: “Diam itu emas”. 

Setelahnya, pesta demokrasi terjadi, digantikan oleh pemimpin dari kalangan militer. Selama masa tersebut, mungkin terkesan keadaan menjadi stabil, beliau mampu bertahan selama dua periode. Kisah pemimpin tersebut dimulai pada tahun 2004, yang pada selama masa dua periode tersebut juga diwarnai dengan aksi demonstrasi yang bukan hanya sekali atau dua kali, permasalahannya pun kompleks, mulai dari kenaikan harga bahan bakar minyak maupun aksi pada saat Hari Buruh. Di akhir periode kedua pun, dibombardir dengan banyak kadernya yang bermasalah dengan kasus korupsi. 

Media Sosial dan Gerakan Generasi Millennials
Terjadi periode yang menarik selama lima tahun terakhir. Di saat dia mulai memasuki masa remaja. Di umurnya yang ke lima belas tahun, bertepatan dengan tahun pemilihan presiden pada tahun 2014. Tahun tersebut juga telah memasuki masa di mana media sosial berkembang secara pesat dan penyebaran berita tidak hanya melalui televisi maupun radio. 

Berita yang tersebar secara masif dan mudah lewat kanal media sosial menjadikan masyarakat dapat menerima informasi secara aktual dan terpercaya. Loh kok malah terdengar seperti slogan sebuah acara berita ya? Hmm tapi pada kenyataannya belum tentu berita yang tersebar melalui media sosial adalah informasi yang terpercaya.

Nyatanya dalam perkembangannya, banyak hoax yang tersebar, dan warganet menyebarkan informasi tersebut tanpa melakukan verifikasi terhadap kebenaran informasi tersebut. Yang penting menarik dan mengandung judul yang clickbait, klik share, dan voila! Informasi tersebut tersebar! “Puncaknya terjadi saat Pilpres 2014. Itu terus sampai sekarang”, begitu menurut pendapat orang.

Millennials sebagai suatu generasi yang lahir pada tahun 1980an - 2000an, seperti yang tercantum di rumahmillennials.com, yang mana artinya adalah orang-orang Millennials akan berumur pada rentang sekitar 18-38 di tahun 2018. Dapat dipastikan jika pada rentang umur 18-38 tahun setidaknya punya satu akun media sosial, dan selama lima tahun terakhir, hoax telah wira-wiri berselancar di dunia maya, dengan bebas dan tidak terkendali. 

Dapat dimungkinkan jika millennials sadar atau bahkan berpartisipasi dalam tersebarnya hoax tersebut. Ada orang yang apatis, dan di saat yang sama akan ada orang yang termakan hoax lalu membagikannya ke pengguna lain, dan juga setelah masa pemilihan presiden tahun 2014, rakyat Indonesia selalu disuguhi isu yang berbau SARA bahkan fitnah. 

Tentunya sebagai generasi yang tumbuh bersamaan dengan berkembangnya internet secara pesat dan di era keterbukaan informasi ini dapat dengan mudah mencari sumber referensi untuk meningkatkan intelektualitas. Generasi Millennials seharusnya dapat secara bijak memilah informasi yang kemudian bisa mengerti dan mengkritisi informasi tersebut sehingga dapat mempunyai sikap yang tidak hanya berdasar hoax belaka, namun juga berdasarkan keilmuan dan hasil proses pemikiran.

Epilog
Setiap manusia memang perlu berproses dan di tengah proses tersebut pasti terjadi proses trial and error, yang juga membutuhkan waktu. Menjadi dewasa dalam menyikapi suatu informasi memang tidak mudah, dan hal tersebut mempunyai peran penting dalam perkembangan demokrasi, tentunya demokrasi tanpa diskriminasi. 

Di umur reformasi yang menginjak ke dua puluh tahun pada tahun 2018, negara ini memang telah melalui dinamika demokrasi yang tidak bisa dibilang mudah. Kebijakan lintas sektor yang muncul selama dua puluh tahun terakhir telah menciptakan keadaan Indonesia yang ada pada hari ini.

Millennials tentunya terlibat secara langsung dalam kelangsungan proses demokrasi dan pada suatu saat nanti akan menerima tongkat estafet sebagai penerus, bisa saja teman kita yang saat ini masih gemar duduk santai menghisap rokok sambil minum kopi dengan santai, di kemudian hari menjadi pembuat kebijakan yang akan berdampak bagi ummat.

Kita sebagai masing-masing individu memang bisa bergerak dengan perannya masing-masing. Entah itu berkumpul melakukan gerakan dan kampanye sosial, menjadi enterpreneur yang bisa membuka lapangan pekerjaan, atau bahkan menjadi akademisi dan praktisi. 

Tentunya, sebagai warga negara yang baik dan generasi penerus bangsa, jadikan dua puluh tahun umur reformasi ini sebagai suatu refleksi juga jangan apatis dengan realita yang terjadi di tanah airmu sendiri. Dua puluh tahun tidak bisa dibilang sebagai umur yang terlalu muda dan dengan mudah memaklumi kesalahan yang ada, perlu adanya proses pendewasaan dari warga negaranya sendiri sehingga, pada suatu hari nanti impian yang tertuang pada pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 dapat terwujud.

No comments:

Powered by Blogger.