Fenomena Mobile Legends dan Potensi Kematian

Penulis : Hikmah Bima Odityo

Tidak dapat dipungkiri, bahwa perkembangan game online sudah sangat menjamur laiknya coffee shop belakangan ini. Bahkan sudah jauh semenjak saya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Para bocah yang tengah hidup kala itu, tumbuh dan berkembang sebagai milenal hari ini, pasti sangat familiar dengan permainan Ragnarok, Rising Force, Point Blank, Audition dan sebagainya.

Tak sedikit pula yang dijewer orang tuanya karena terus-terusan bermain game online, nekat menginap di warung Internet, hingga bolos sekolah. Sebagai anak muda yang berkembang pada masa transisi, saya pribadi pernah mengalami hal tersebut. Candu memang, tapi senang rasanya. Secara bersamaan, di saat itulah pertama kalinya saya berjejaring dengan teman di luar sekolah, belajar komunikasi dan Bahasa Inggris secara intense.

Game online memang menawarkan banyak manfaat, seperti: mengasah kemampuan berfikir abstrak, menguji daya kekompakan dan strategi taktik dalam mencapai kemenangan. Sebagian orang mungkin mengkerdilkan para gamer karena dianggap tidak pernah belajar, juga bersosialisasi terhadap lingkungan sekitar. Tapi percayalah, mereka itu JENIUS! Banyak sekali permainan yang membutuhkan korespondensi otak kanan dan otak kiri, secara cepat dan tepat. Maka dari itu mereka terbiasa untuk berfikir taktis dan kritis, dengan refleks yang cukup tinggi.

Sebelum menyigi lebih dalam, kerap kali kita melihat anak kecil, teman sebaya hingga para orang tua bermain permainan yang dinamakan “Mobile Legends”. Tidak hanya di burjo ataupun tempat tongkrongan lainnya, Mobile Legends kini merebak hingga ke mall-mall besar. Tampilan grafis yang cukup ringan, sangat cocok dimainkan di handphone dengan “spek” rendah. Penggunanya mencapai lebih dari delapan juta jiwa di playstore. Mobile Legends juga masuk dalam kategori E-Sport. Olahraga elektronik pemacu adrenalin dengan tawaran hadiah yang cukup besar.

Jess No Limit misal, pria gundul punggawa squad EVOS itu kini telah berhasil membeli mobil setelah jerih payahnya memenangkan berbagai turnamen, mendapat sponsor dan memberikan tips and trick melalui akun Youtube-nya. Menjadi atlet E-sport adalah sebuah pekerjaan baru yang dapat menggiurkan para gamer saat ini.

Bermain game memang menghadirkan segudang manfaat, namun terlalu sering bermain juga dapat menimbulkan berbagai permasalahan, baik secara psikologi maupun kesehatan. Seorang professor dari Tokyo Nihon University, Akio Mori melakukan kajian mengenai dampak game pada aktivitas otak. Dari penelitian Akio Mori tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat 2 poin penting.

Pertama, konten game yang bernuansa kekerasan dan intensitas waktu bermain dapat mempengaruhi penurunan aktivitas gelombang otak prefrontal. Gelombang otak prefrontal memiliki peranan sangat penting dalam pengendalian emosi dan agresivitas, sehingga para gamer cenderung cepat mengalami perubahan mood, seperti mudah marah, mengalami masalah dalam hubungan dengan hubungan sosial, tidak konsentrasi dan lain sebagainya.

Kedua, penurunan aktivitas gelombang beta yang merupakan efek jangka panjang yang tetap berlangsung meskipun gamer tidak sedang bermain game. Dengan kata lain para gamer mengalami “autonomic nerves” yaitu tubuh mengalami pengelabuan kondisi dimana sekresi adrenalin meningkat, sehingga denyut jantung, tekanan darah, dan kebutuhan oksigen terpacu untuk meningkat.

Selain secara psikologi, bermain game dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang cukup kompleks. Dari mulai obesitas hingga yang terparah adalah kematian. Mobile Legends misal, di setiap waktu, baik siang hingga dini hari selalu ada saja yang bermain ranked mode. Bahkan diantaranya rela tidak tidur berhari-hari untuk mencapai pangkat Mythic. Kasus serupa telah dialami oleh sebagian pemuda di banyak negara, seperti gangguan syaraf pemuda di USA, ataupun kematian pemuda di Cina.

Sebagai sesama gamer muda, sudah selayaknya kita mampu menge-rem pola permainan game yang terlanjur sudah menjadi candu. Saling mengingatkan, dan menjadi lebih produktif, seperti penulis dalam artikel ini.

No comments:

Powered by Blogger.