Review Avenger-Infinity War: Thanos, Ideologi dan Genosida

Penulis : Fachri Sakti N
Film Avengers: Infinity War telah tayang di bioskop di seluruh Indonesia. Film yang bercerita tentang superhero tangguh yang melawan penjahat super tersebut selalu laris di pasaran. Tak hanya anak-anak, orang dewasa pun juga suka dengan film fiksi kepahlawanan tersebut.

Dalam film Avengers: Infinity War, dikisahkan, seorang penjahat gila bernama Thanos sedang berburu enam batu infinity ke seluruh penjuru alam semesta. Dengan mengumpulkan keenam batu tersebut dalam genggamannya, Thanos ingin memusnah separuh dari mahluk hidup berakal di alam semesta.

Keinginan Thanos tersebut bukan tanpa alasan. Menurut Thanos sumber daya alam yang ada di jagad raya ini tak cukup untuk memenuhi kebutuhan mahluk hidup yang menghuni di dalamnya. 

Artinya, ada ketidakseimbangan antara mahluk hidup dengan sumber daya alamnya, yang mana menurut Thanos mahluk hidup berakal terlalu banyak populasinya, sedangkan sumber daya alam kian menipis dan tak bisa diperbaharui lagi. Akibatnya, timbul kemiskinan, kelaparan panjang, penjarahan, perang dan monopoli kekayaan alam di antara sesama mahluk berakal.

Karena tak bisa melihat penderitaan mahluk hidup tersebut, terbesit di dalam hati Thanos untuk menciptakan kembali keseimbangan di jagad raya. Caranya adalah dengan memusnahkan separuh dari populasi mahluk hidup berakal di alam semesta agar sumber daya alam yang ada dapat dimanfaatkan dengan optimal oleh mahluk hidup yang tersisa.

Memusnahkan separuh populasi mahluk hidup berakal di alam semesta tentu bukan tugas yang mudah. Seorang Thanos dengan ribuan bala-bantuannya pasti tak akan mampu. Namun jika Thanos berhasil mengumpulkan keenam batu Infinity dan memanfaatkan kekuatannya, maka ia bisa dengan mudah memusnahkan separuh dari populasi mahluk hidup berakal yang ada di alam semesta. Semudah menjentikkan jari.

Singkat cerita, Thanos berhasil mengumpulkan empat batu infinity yang ada di jagad raya dan tinggal dua batu lagi untuk melengkapi kekuatannya. Dua batu yang tersisa tersebut dimiliki oleh Doctor Strange dan Vision yang tinggal di bumi.

Terjadilah perang hebat antara Thanos melawan Doctor Strange bersama Iron Man, Spiderman, dan The Guardiant di planet asal Thanos. Sayangnya, perlawanan dari pahlawan super Marvel sia-sia belaka. Mereka kalah dan Thanos berhasil merebut batu Infinity dari Doctor Strange.

Di bumi, para pahlawan super Marvel mengalami nasib yang sama. Thor dan pahlawan lainnya tak berhasil melindungi Vision yang memiliki batu Infinity. Sehingga lengkaplah sudah enam batu Infinity di tangan Thanos.

Kini, cukup dengan menjentikkan jarinya, separuh mahluk hidup berakal di alam semesta mati secara acak tanpa pandang bulu, termasuk beberapa pahlawan Marvel. Selengkapnya silahkan nonton filmnya di bioskop kesayangan anda. :)

Thanos: Ideologi dan Genosida
Film ini tentu saja sangat menarik untuk ditonton. Namun yang tak kalah menarik adalah ideologi yang dipegang oleh Thanos.

Thanos jahat atau tidak, itu perdebatan. Namun patut diduga bahwa Thanos mengambil keputusan gila tersebut karena ia ingin melihat tatanan masyarakat yang adil makmur. Ada cinta yang kuat di dalam hati Thanos, sehingga ia rela mengorbankan semua yang dmilikinya untuk melancarkan tujuannya tersebut. Dia benar-benar orang yang memiliki ideologi kuat karena mampu memikul prinsip hidup seberat dan segila itu. Selain berideologi, di beberapa sisi Thanos juga menunjukkan sisi humanis.

Namun ideologi macam apa yang mengajarkan untuk melakukan pembantaian massal? Atau humanis macam apa yang menghalalkan adanya genosida?

Apa yang dicita-citakan oleh Thanos mungkin terasa ada benarnya di satu sisi. Namun di sisi lain, memusnahkan mahluk hidup demi kelangsungan hidup mahluk lainnya juga lebih buruk dari pada kematian massal karena kelaparan berkepanjangan. Dengan pertimbangan tersebut, Thanos harusnya memikirkan ulang keputusannya menghancurkan separuh populasi mahluk hidup berakal di alam semesta.

Bayangkan saja Anda keluarga Anda menjadi satu di antar korban genosida Thanos, betapa sakitnya itu?

Masih segar di ingatan kita, adanya pembantaian PKI, penculikkan para aktivis dan invasi tentara Indonesia ke Timor Timur beberapa dekade silam. Sampai hari ini, para keluarga PKI masih mencari-cari celah keadilan, para keluarga aktivis masih mengikuti aksi kamisan dan Timor Timur berduka atas tewasnya 200.000 penduduk karena pembantaian yang dilakukan oleh tentara.

Apakah mereka semua tewas karena kekuatan batu Infinity Thanos dan cita-cita ideologinya? Atau mereka tewas akibat kepentingan politik segelintir elit penguasa?

Mau dimusnahkan oleh Thanos atau dibantai oleh elit penguasa, yang jelas keluarga yang ditinggalkan pasti merasakan sakit kehilangan yang sama, rasa sakit kehilangan yang tak sebanding dengan harta benda apapun di dunia.

Ideologi yang mengajarkan adanya genosida, seperti yang diusung oleh Thanos bisa menyusup di mana saja selama ada doktrin yang radikal dan fanatisme, baik itu atas dalih ketuhanan, ras maupun nafsu keserakahan.

Dan dalam catatan sejarah, tak ada satupun genosida yang melahirkan tatanan masyarakat adil makmur. Alih-alih membawa kondusifitas, genosida justru membawa masyarakat kepada tatanan kepemimpinan negara yang totaliter. Kondusifitas yang ditampilkan adalah kedamaian semu yang sebenarnya merupakan bentuk dari ketakutan masyarakat atas tindakan represif yang dilakukan oleh pemerintah. 

Masyarakat yang menghuni di dalamnya tidak benar-benar merasa bebas. Mereka diarahkan dan berada dalam ancaman. patriotisme mereka juga palsu, dan lagu-lagu yang mereka nyanyikan hanyalah omong kosong belaka.

No comments:

Powered by Blogger.