Star Wars: Sebuah Manifestasi Cinta Yang Salah

Penulis: Fauzie Nur Ramadhan

Pada tanggal 25 Mei, 41 tahun silam tayang sebuah film sci-fi yang kemudian menjadi sebuah fenomena di seluruh dunia. Film yang menandai dimulainya sebuah drama paling heboh di seluruh alam semesta. Film Star Wars pertama besutan George Lucas yang berjudul A New Hope diputar di bioskop dan menggemparkan dunia perfilman. Bagaimana tidak? Di Tahun 1977 dengan visi se-megah itu, betapa kerennya X-Wing, juga mengerikannya senjata pemusnah milik sang Empire yaitu Death Star, tentunya membuat film tersebut menjadi sangat futuristik.
Tentunya fans Star Wars di luar sana sudah mengerti mengapa penamaan A New Hope disertati dengan imbuhan Episode IV, kemudian dilanjutkan dengan Empire Strikes Back di Episode V dan Return Of The Jedi di Episode VI. Penasaran di mana Episode I, II dan III nya? The Phantom Menace tayang tahun 1999, dilanjutkan dengan Attack Of The Clones di tahun 2002 dan Episode III: Revenge Of The Sith di tahun 2005.

Setelah dibeli oleh Disney, Star Wars kembali dilanjutkan dengan adanya Episode VII: The Force Awakens, film spin off Rogue One di tahun 2016, kemudian The Last Jedi di Episode VIII dan di tahun 2018 ini juga dibuat spin off yang menceritakan tentang Han Solo, sang pemilik Millenium Falcon, lalu dijadwalkan Episode IX akan keluar di tahun 2019 dengan judul yang masih dirahasiakan. Oh iya, penempatan cerita Rogue One di timeline Star Wars terletak di antara Episode III dan IV, begitu juga Solo: A Star Wars Story. Bingung? Jangan.

Usut punya usut, ternyata alasan kenapa dimulai dari Episode IV karena di tahun 1977, om Lucas merasa belum ada teknologi yang bisa membuat visualisasi nyata tentang dunia Star Wars yang ingin dibangunnya, sehingga dimulai dari cerita yang paling memungkinkan. Walau sih memang banyak yang mengkritik prequel dari Star Wars itu sendiri, dikarenakan cerita yang dibangun tidak terkesan kuat dan malah seperti pembenaran dari munculnya salah satu villain paling kuat yang ada di alam semesta, yang disebut-sebut sebagai Darth Vader.

Sebenarnya jika ditelisik lebih jauh, di dalam universe Star Wars terdapat serial animasi, novel dan juga video game yang akan membawa kita lebih dalam memasuki dunia Star Wars. Seperti serial animasi The Clone Wars yang setting ceritanya berada di antara Episode II dan III. Ingin tahu siapa murid dari Anakin? Ingin tahu siapa wanita yang dicintai oleh Obi-Wan? Apakah Darth Maul benar-benar mati ketika dibelah jadi dua oleh Obi-Wan di Episode I? Serial animasi ini wajib ditonton.

Anakin Si Budak Cinta
"Midi-chlorians are a microscopic life form that resides within all living cells,” begitu kata suhu Qui-Gon Jinn. Om Qui-Gon yang diperankan oleh om Liam Neeson ini adalah seorang Jedi Master yang mempunyai murid bernama Obi-Wan Kenobi, diperankan si keren Ewan McGregor di prequel, yang nantinya punya peran besar di dalam drama paling tragis di jagat raya ini. Singkat cerita Qui-Gon bertemu dengan seorang bocah ingusan yang pintar dan dipercaya sebagai “Yang Terpilih” setelah Qui-Gon menyadari Anakin bahkan mempunyai midi-chlorian yang melebihi Master Yoda, dan tidak ada satu Jedi pun yang memiliki midi-chlorian sebanyak itu. Anakin cilik pun bercita-cita menjadi seorang Jedi master yang tangguh, bahkan ia berikrar tidak ingin menjadi masalah. Ya, dia berkata demikian, lihat saja di film The Phantom Menace.

Sayang seribu sayang, ikrar Anakin untuk tidak menjadi masalah dan ingin menjadi Jedi master pun pupus. Rasa cintanya yang mendalam terhadap Padme Amidala (diperankan oleh si cantik Natalie Portman) pun dipertanyakan, setelah mengalami berbagai mimpi buruk yang isinya adalah Anakin mempunyai visi tentang kematian wanita pujaannya itu, ia seperti kalang kabut. Tiba-tiba datanglah ilham yang diberi oleh Palpatine, atau si kakek tua Darth Sidious itu, dengan ceritanya tentang Darth Plaguies The Wise, yang mana Darth Plaguies dikisahkan dapat menggunakan the Force untuk memanipulasi midi-chlorian yang dapat mencegah seseorang dari kematian. Yang kemudian Darth Plaguies mengajarkan ilmunya kepada muridnya, kemudian muridnya membunuh Darth Plaguies di saat tidur. Ironi bukan?

Mendengar kisah tersebut Anakin tentu seperti mendapat harapan untuk menyelamatkan Padme dari kematian ketika akan melahirkan anaknya. Tapi untuk mempelajari ilmu itu Anakin tidak bisa belajar dari seorang Jedi, melainkan dari seorang Sith Lord. Saking cintanya dengan sang kekasih, Anakin pun berpaling ke sisi kegelapan. Mengetahui hal tersebut Padme pun heboh dan kecewa dengan Anakin, bahkan ketika ingin mencegah Anakin, ia pun hampir dibuat mati oleh Anakin yang terbuai dalam amarah. Bodoh sekali kan? Mengaku cinta tapi malah membuat kekasihnya hampir terbunuh oleh tangannya sendiri.

Kemudian setelah kejadian itu terjadilah pertarungan lightsaber yang punya durasi paling lama sepanjang sejarah Star Wars, dan juga digadang-gadang sebagai pertarungan lightsaber paling keren, pertarungan antara Anakin dan Obi-Wan selaku guru dari Anakin, pertarungan yang menyebabkan Anakin kehilangan setengah badannya. Terciptalah Darth Vader, ketika Anakin ternyata masih hidup dan ditolong oleh Palpatine. *disertai backsound The Imperial March*. 

Bagaimana nasib Padme? Naas, ia tetap meninggal ketika melahirkan anak kembar yang akan meneruskan drama Skywalker, yaitu Luke dan Leia. Ramalan tidak dapat dipatahkan ternyata. Anakin ingin menjaga orang yang dicintainya untuk menghindari kematian akibat trauma kehilangan ibunya (yang sampai sekarang masih menjadi misteri siapa bapaknya?), terjerumus ke dalam tipu muslihat, gagal menyelamatkan kekasihnya, dan berubah menjadi salah satu penjahat yang paling kejam di semesta, yang kemudian ia merenggut banyak nyawa.

Padahal jika Anakin memang mengaku cinta dengan Padme, seharusnya Anakin lebih bisa menahan emosi dan sedikit sabar, serta melaluinya dengan tabah. Bukan kemudian berpaling menjadi penjahat dan hampir membunuh kekasihnya sendiri. Cinta seperti apa yang tega memperlakukan kekasihnya seperti itu? Mungkin Anakin memang lemah iman sehingga ia mudah terhasut oleh kegelapan dan kemudian kalap, hilang arah. Itulah jadinya jika cinta tidak disertai dengan iman. Mudah emosi, suka marah-marah dan malah merugikan diri sendiri serta orang lain. Anakin sudah salah dalam memaknai cinta yang sebenar-benarnya cinta. Anakin sejatinya harus belajar lebih jauh lagi mengenai pemaknaan cinta yang sesungguhnya.


Diktator Berhati Hello Kitty
Idiom “preman berhati hello kitty” sering kita dengan simpang siur di tengah masyarakat. Entah muncul dari mana idiom tersebut, tetapi kurang lebih artinya adalah ketika seseorang di luarnya telihat garang dan menyeramkan, tetapi sebenarnya ia merupakan seseorang yang baik hati dan berhati lembut. Idiom tersebut cukup tepat jika disematkan pada Anakin a.k.a Darth Vader. Lihat saja betapa terkejutnya ia ketika bertemu dengan anaknya Luke si petani, hatinya langsung terenyuh dan kegarangan Darth Vader seketika hilang. Bahkan dengan tangan terbuka ia membocorkan rahasia kepada Luke bahwa ia adalah anaknya, yang kemudian peristiwa itu membuat tangan Luke terpotong. Kehidupan Anakin yang penuh drama memang, setelah gagal menyelamatkan kekasihnya, kemudian tangan anaknya sendiri dipotong. Sungguh panutan yang hakiki bagi ayah di luar sana.

Anakin pun cukup bodoh ketika dijadikan martir oleh Palpatine ketika peristiwa Order 66 diberlakukan, ketika dengan beringas ia membantai younglings atau anak-anak kecil yang sedang belajar untuk menjadi seorang Jedi. Ya, anakin membantai segerombolan anak, hampir membunuh kekasihnya, bertarung dengan sahabat dan gurunya sendiri, kemudian ketika menjadi Darth Vader, ia memotong tangan anak laki-lakinya. Ohya, jangan lupa ketika ia juga menginterogasi dan memenjarakan Leia, anak perempuannya.

Kepolosannya, atau mungkin kebodohannya, menjadikan ia sebagai salah satu orang yang berperan dalam runtuhnya Republik dan terciptanya Kekaisaran yang sangat diktator. Bisa dikatakan pucuk kepemimpinan memang berada di tangan Palpatine, namun dalam banyak hal Darth Vader diberikan kepercayaan oleh Palpatine dalam mengurus urusan pemerintahan, seperti melakukan pembantaian dengan cara menembakkan sinar laser dari Death Star ke planet Aldeeran, dan juga main asal bunuh prajuritnya sendiri ketika terjadi kesalahan. Semua perintah yang diberikan harus dilakukan dan berhasil jika gagal, om Vader akan kecewa dan melakukan santet terhadap bawahannya, seperti mencekik dari jarak jauh, atau mungkin melempar mereka ke dinding.

Bahkan ketika Palpatine terbunuh, Anakin meminta maaf kepada Luke karena sudah megecewakannya, sungguh seorang diktator yang keji, namun berhati hello kitty. Dan Star Wars menjadi contoh nyata bagi kita semua, bahwa walau seseorang yang kau lawan adalah ayahmu sendiri, jangan berhenti memberontak dan mengakkan keadilan. Kemudian yakinlah bahwa di setiap hati seseorang yang keji, jauh di dalam lubuk hatinya masih tersimpan sebuah kebaikan, walau itu harus dibayar mahal. 

Tetapi sepertinya Luke tidak belajar dari apa yang terjadi dengan hidupnya dan juga apa yang terjadi dengan ayahnya, karena bahkan ia kemudian menciptakan seorang calon Sith Lord baru. Ben Solo, atau dikenal dengan Kylo Ren, anak dari Leia yang mana merupakan saudari kandung dari Luke Skywalker. Kisah drama keluarga Skywalker yang selanjutnya dimulai dari Episode VII, Ben memang kemudian dikecewakan oleh Luke, selaku paman dan juga gurunya, dan malah terinsipirasi juga ingin melanjutkan warisan dari sang kakek, Darth Vader alias Anakin. Drama keluarga Skywalker masih terus belanjut, setidaknya sampai Episode IX, dan keseluruhan drama paling heboh di galaksi nun jauh di sana memang dimulai dari sebuah manisfestasi cinta yang keliru, cinta yang menggebu-gebu dan kelewat batas.

No comments:

Powered by Blogger.