Kapitalisme Adalah Cita-Cita Yang Semu

Penulis : Wahyu Febrianto
‘Apa yang baik bagi semua orang adalah tidak bernilai; agar mendapatkan penghormatan anda harus memiliki sesuatu yang “lebih baik” daripada orang lain’. Ini adalah kutipan sederhana dari sebuah buku yang menceritakan betapa mengerikannya cita-cita yang dimiliki oleh kapitalisme.

Kutipan tersebut memiliki makna yang sangat dalam bagi kehidupan di saat ini. Hal ini terjadi sekarang dimana kita menjadi sangat jarang berinteraksi dengan manusia lain, memiliki orientasi yang saling menjatuhkan satu sama lain, dan menganggap orang yang tidak mampu berkompetisi adalah orang-orang yang kalah.

Bahkan lebih parahnya ketika sahabat kita terjatuh kita menertawakan terlebih dahulu baru ditolong sedangkan apabila mobil kita lecet sedikit saja kita langsung menghampiri dan menghardik orang yang membuat mobil kita lecet.

Lalu pertanyaan sederhana muncul, apakah manusia makhluk sosial adalah utopis? Bukankah kapitalisme adalah salah satu program politik yang dimiliki oleh negara maju? Bukankah pasar diciptakan hanya untuk memperkaya segelintir orang saja?

Negara maju menjanjikan bahwa negara berkembang dan negara miskin akan menjadi bagian dari mereka, janji ini memiliki syarat bahwa negara berkembang dan negara miskin harus membuat pabrik di negaranya masing-masing. Dengan iming-iming investasi, modal dan membuka lapangan pekerjaan yang besar ditambah dengan sedikit ancaman utang negara, akhirnya negara berkembang dan negara miskin terpaksa meng-iyakan program tersebut.

Negara berkembang dan negara miskin lupa bahwa alasan sesungguhnya di negara maju sudah sedikit bahkan tidak mungkin ada pabrik yang membuat polusi dan merugikan negaranya. Negara maju sudah lebih dulu mengalami persoalan ekologi, di Jerman dan Perancis misalnya, di kedua negara ini sudah pernah mengalami yang namanya masalah dengan polusi udara, polusi air, dan polusi tanah.

Oleh karena itu, negara-negara maju mulai menginvasi negara-negara berkembang dan negara miskin. Hal ini tentu saja untuk mencegah terjadinya polusi di negara-negara maju, selain itu upah tenaga kerja yang murah, bahan baku, dan yang lainnya bisa didapat dari negara berkembang dan miskin hingga akhirnya negara maju yang mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.

Di bawah bayang-bayang kapitalisme, sumber daya alam, alat-alat produksi dan tenaga kerja menjadi faktor utama untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Di mana setiap negara maju melalui perusahaan transnasionalnya yang ingin memiliki masa depan.

Akan sangat mudah mengontrol produksi secara maksimum karena perusahaan-perusahaan tersebut tersebar di berbagai negara berkembang dan miskin yang notabene memiliki SDA yang melimpah yang belum dimanfaatkan sebagaimana mestinya serta tenaga kerja yang siap diperah dan dihargai dengan sangat murah.

Lalu yang menjadi pertanyaan menarik adalah, apa yang didapatkan oleh negara berkembang dan negara miskin selain utang karena membangun infrastruktur untuk menghadirkan perusahaan-perusahaan transnasional dari negara maju ini? Adakah peluang bagi negara berkembang dan negara miskin untuk naik tingkatan menjadi negara maju?

Sebelum kita memikirkan negara ini akan naik level atau tidak, alangkah lebih baiknya apabila kita menyelesaikan permasalahan-permasalahan akibat dari perusahaan-perusahaan transnasional ini.

Pencemaran lingkungan merupakan salah satu contoh yang paling terlihat dari adanya pabrik-pabrik. Udara tidak lagi seperti yang kita hirup seperti biasanya, air tidak bisa kita manfaatkan sebagaimana mestinya,bahkan tanah telah tercemar oleh tumpahan oli dan lainnya.

Belum lagi kita harus menanggung hutan yang botak karena telah digunduli untuk membuka lahan kelapa sawit, karet, dan barang lainnya sebagai barang ekspor. Lahan-lahan pertambangan yang dibuka, seperti contohnya di Papua, mengakibatkan gunung yang tinggi sudah tidak nampak lagi seperti gunung.

Dampak lain dari sistem kapitalisme ini adalah tenaga kerja yang dibayar murah. Hal ini terjadi karena kurangnya lapangan pekerjaan di negara berkembang dan negara miskin. Perusahaan-perusahaan transnasional ini bisa dengan semena-mena menghargai tenaga manusia yang bekerja 8 jam per hari atau bahkan lebih. Imbasnya adalah demo besar-besaran sering dilakukan para buruh di kota-kota besar.

Dengan dampak  tersebut apakah mungkin Indonesia tercinta ini akan menjadi negara maju? Saya katakan ‘Kapitalisme adalah Cita-Cita yang Semu’ untuk membuat negara ini naik tingkat menjadi negara maju.


Sumber Bacaan:
Andre Gorz, Anarki Kapitalisme, Resist Book, 2011

No comments:

Powered by Blogger.