Bagaimana Manusia Menalar Tuhan di Masa Depan?




Penulis: Fachri Sakti Nugroho
Di puncak Gunung Lawu, Ibrahim bersiap di awal fajar untuk menyaksikan sang surya merekah dan menyibakkan kegelapan. Ia sengaja mendaki salah satu puncak tertinggi Pulau Jawa tersebut agar tak ada satupun benda yang menghalangi pandangannya menyaksikan sang surya. “Oh, inikah sang penguasa semesta?,” tanya Ibrahim tatkala melihat sinar berwarna oranye menerangi ufuk timur.
Kagum akan kehadiran sang surya, Ibrahim tak melepaskan sedetikpun pandangannya dari sang penguasa hari. Namun Ibrahim terpaksa harus menelan kekecewaan saat hari beranjak senja. Sang surya tenggelam dan cahayanya memudar ditelan kegelapan. “Surya bukan penguasa semesta,” gumam Ibrahim dalam hati kecilnya.
Tak lama kemudian, muncullah purnama yang cahayanya menembus pekat malam. “Dia kah sang penguasa?,” tanya Ibrahim. Namun, Ibrahim kembali dikecewakan, rembulan tinggal separuh menjelang tanggal tua.
“Mungkinkah bintang-bintang yang menguasai semesta?,” kembali Ibrahim bertanya.
“Ku rasa tidak, mereka pun hancur seiring berjalannya waktu,” kata Ibrahim menjawab pertanyaannya sendiri.
Kuldesak! Angan Ibrahim melayang bersama kepulan asap rokok yang berhembus melewati celah bibirnya. Dia kini agak tenang untuk sejenak, efek nikotin yang merasuk dalam otaknya. Tapi semua itu hanya sejenak karena risau itu akan datang lagi.
Dan bersama angin timur yang berhembus kencang, Ibrahim kembali terhempas menuju alam gelisahnya, ”Kenapa aku bertanya?”


Mahluk ‘Kepo’
Kisah Ibrahim di atas adalah gambaran bahwa manusia adalah mahluk bertanya. Bertanya adalah lumrah bagi manusia. Balita, dewasa, tukang becak maupun sarjana, siapapun dia tak akan bisa menahan dorongan kuat yang berasal dari dalam diri manusia, yakni bertanya. Sehingga wajar jika dikatakan bahwa bertanya merupakan dorongan alamiah manusia layaknya libido yang menuntut untuk dipuaskan.
Kenapa manusia bertanya? Karena keingintahuan.
Manusia membutuhkan informasi dari apa-apa yang tidak ia ketahui dan yang ingin diketahui untuk selanjutnya dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan atau sekedar disimpan dalam mind palace. Bahasa gaulnya, manusia itu mahluk ‘kepo’.
Darwin misalnya, terlepas dari kontroversi akan teorinya, ke-kepo-an Darwin telah mendorongnya untuk mencari tahu asal muasal dari mahluk hidup, termasuk asal muasal manusia. Ke-kepo-an tersebut tertuang dalam bukunya On the Origin of Species yang menjawab pertanyaan akan keanekaragaman kehidupan yang saat ini kita jalani.
Teori Darwin terus dikembangkan oleh Darwin Darwin baru. Ke-kepo-an dan kontroversinya seolah diwariskan dan terus dikembangkan hingga lintas generasi. Dan berkat Darwin pula perkembangan di bidang biologi evolusi dapat kita rasakan manfaatnya sampai hari ini, melebihi umur Darwin sendiri.
Bagaimana dengan Ibrahim, siapakah yang menjadi Ibrahim Ibrahim baru hari ini? Yang bertanya tentang penguasa alam semesta dan mencari tahu sebab utama dari semua yang tercipta.
Meminjam istilah mitos dan logos dari Karen Armstrong, pada era mitos, pertanyaan-pertanyaan tentang penguasa alam semesta (Tuhan) dijawab dengan kisah-kisah adikuasa, mistik, dan gaib. Eksistensi Tuhan dan bagaimana cara ia menciptakan alam semesta ini juga dijawab lewat kisah-kisah supranatural. Dulu, jawaban seperti itu diterima saja tanpa protes berlebih dan dianggap sebagai kebenaran. Namun kita saat ini berada di era logos atau era akal, jawaban-jawaban mistik tersebut pasti sukar diterima, setidaknya akan dipikir dua kali sebelum akhirnya ditelah mentah-mentah begitu saja atau ditinggalkan di kubangan peradaban.
Era logos mensyaratkan logika dalam berpikir, rasionalitas dalam menimbang, juga empiris dan ilmiah. Jika tidak memenuhi syarat tersebut, sesuatu belum bisa dianggap sebagai kebenaran. Patokan logos dalam menilai sebuah kebenaran ini kemudian dijadikan tolok ukur baru dalam menilai atau memverifikasi segala hal. Termasuk menilai Tuhan.
Padahal, sebagaimana kita tahu, Tuhan ini wujudnya gaib alias non materi. Artinya, ia tak bisa dinilai dengan hukum-hukum alam yang ilmiah dan empiris karena objeknya (wujud Tuhan) tidak terindera, tak bisa diamati dan diteliti. Akhirnya, Tuhan belum bisa dibuktikan kebenarannya (menurut logos untuk saat ini), atau jika ada yang mengklaim bisa membuktikan kebenarannya, teori atau pemapaarannya pasti banyak diperdebatkan.
Lantas, jika tak bisa dibuktikan kebenarannya, untuk apa kita mengimaninya dan kenapa harus mentaati firmannya?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, menetaslah Ibrahim-Ibrahim baru di muka bumi ini, yakni para filosof ketuhanan. Mereka inilah yang melakukan kajian kritis, objektif, sistematis tentang Tuhan. Dan tantangan para filosof kali ini adalah, menjawab bagaimana manusia beriman dapat mempertanggungjawabkan keimanannya secara logis dan rasional.
Tantangan Masa Depan Manusia Beriman (Percaya Tuhan)
Konsep tentang penguasa alam semesta yang memiliki kemampuan super dalam mengatur ciptaannya adalah konsepsi yang diwariskan dari nenek moyang purba manusia. Tanpa bermaksud menyinggung, keberadaannya bagi beberapa orang dianggap seperti oplet tua di jalanan ibukota. Dan mungkin saja dalam perjalanannya, ada modifikasi-modifikasi berupa penambahan atau pengurangan mengenai konsepnya.
Namun bagi orang beriman, Tuhan itu tidak berubah, Tuhan adalah kebenaran dan berlaku sepanjang zaman, baik di era mitos maupun logos. Dan di era logos yang syarat akan logika dan rasionalitas ini, manusia beriman harus bisa ‘mempertanggungjawabkan keimanannya secara logis dan rasional’.
Franz Magnis-Suseno dalam bukunya ‘Menalar Tuhan’ mengatakan bahwa percaya akan adanya Tuhan sangat masuk akal untuk dilakukan. Dalam buku tersebut, kepercayaan akan adanya Tuhan dibagi menjadi dua arti, yaitu ‘arti lebih lunak’ dan ‘arti lebih keras’.
Arti ‘lebih lunak’ memperlihatkan bahwa percaya pada eksistensi Tuhan (yang tidak kelihatan) sangat masuk akal karena banyak kenyataan alam luar maupun alam batin dapat dimengerti dengan jauh lebih mudah apabila kita menerima adanya Tuhan.
Sedangkan arti ‘lebih keras’ mengatakan, ada beberapa kenyataan alam luar maupun alam batin yang sangat sulit dijelaskan kalau tidak ada Tuhan. Jadi meskipun data-data itu tidak memaksa secara intelektual untuk menerima eksistensi Tuhan, namun kenyataan-kenyataan itu tidak dapat dipahami kalau eksistensi Tuhan disangkal.
Dari dua arti di atas, yang dimaksud ‘mempertaggungjawabkan keimanan secara logis dan rasional’ bukanlah untuk membuktikan adanya Tuhan, melainkan untuk percaya pada adanya Tuhan dapat diajukan pertimbangan-pertimbangan yang masuk akal.


Contohnya, orang beriman kepada Tuhan tidak mungkin bunuh diri karena percaya bahwa mereka akan pindah ke sebuah kapal dari ‘outer space’ yang menunggu mereka di belakang komet Hall-Bopp, sebagaimana yang dilakukan oleh 38 orang di California pada bulan April 1997 silam.
Lebih lanjut, orang beriman mempertanggungjawabkan keimanannya dengan akal sehat, yang mampu bernalar, tidak berkhayal, hidup di alam modern dan menghayatinya sebagai lingkungan kultural biasa.
Apa yang disampaikan oleh Franz di atas memang ditujukan kepada orang yang telah terlebih dahulu beriman, yakni sebagai alternatif pedoman bagi manusia bertuhan di zaman modern.
Nasihat Franz juga mungkin terdengar biasa saja bagi beberapa orang yang acuh pada realitas kehidupan manusia bertuhan. Meski faktanya di kehidupan sehari-hari kita ini, tak jarang kita temui orang-orang yang kehilangan akal sehatnya dalam beriman.
Tanpa bermaksud menyinggung SARA, aksi genosida dan kezaliman atas nama Tuhan masih saja bertumbuh subur di zaman modern ini. Tanpa harus disebutkan satu per satu, jelas terngiang diingatan kita nama Tuhan telah dibawa-bawa oleh segelintir orang dan golongan untuk melukai dan membunuh sesama manusia. Tindakan tersebut jelas-jelas bertentangan dengan akal sehat. Tak jauh berbeda dengan 38 orang yang bunuh diri dalam contoh di atas.
Jika kondisi tersebut tak kunjung dihentikan, tak menutup kemungkinan, Tuhan akan ditinggalkan oleh manusia modern di masa depan, karena dianggap tak sesuai lagi dengan kebutuhan zamannya dan cenderung membawa malapetaka bagi kemanusiaan.
Oleh karenanya, patut dipikirkan ulang, bagaimana seharusnya manusia menalar Tuhan dan mengamalkan firmannya. Jangan sampai nalar manusia modern yang terus berpikiran logis dan rasional justru mengeliminasi keberadaan Tuhan hanya karena Tuhan dianggap tidak relevan untuk ada di masa depan.
Sepatutnya, apapun Tuhan yang kita percaya, menjadikan kita senantiasa berpikir, berkata dan bertindak sebagaimana layaknya manusia yang memiliki akal sehat dan kewarasan di tengah kemajuan peradaban. Sehingga manusia beriman tetap menjadi manusia yang tak kehilangan sisi kemanusiaannya.

No comments:

Powered by Blogger.