Kelak, Terlambatkah?


Penulis: Evita Ersamayori Ananda

Terkadang benar apa yang dikatakan orang-orang
Kehilangan membuat kita tersadar bahwa seseorang benar-benar berharga
Namun, apakah harus mencicipi rasa kehilangan agar tersadar?
Kelak, entah kapan...
Rasa itu tak dapat kau cegah, percayalah
Sosok manja yang selalu ingin bergelayut mesra di lenganmu
Akan kau rindukan dengan sangat
Sosok yang selalu ingin mendekapmu dalam kehangatan tubuhnya itu
Akan kau inginkan dengan harap
Tak jarang kau anggap hadirnya sebagai “pengganggu” kesenanganmu
Walau seringkali pemikiran liarnya candu bagimu
Tingkahnya tak terkendali saat melihat hadirmu, “berlebihan” pikirmu
Ia selalu percaya bahwa terang ada di dalammu
Bak seorang anak kecil yang tak bisa menyembunyikan rasa dibalik ekspresinya
Seperti itulah dia, sang pengganggu
Pintu selalu dibukanya, membuatmu meremehkan hadirnya
Ketulusannya kau anggap kebodohan semata
Di titik ini, kau tersadar dalam hampa
Dialah yang mencintaimu, kau cintai dengan sungguh
Entah apa yang membuatmu meragu kala itu?
Hingga penyesalan terpatri di benakmu, memburumu
Hatimu bertanya dengan meronta
Masih adakah kesempatan?
Masih adakah dirinya yang membukakan pintu untukmu?
Terlambatkah?
Memang penyesalan letaknya di akhir, kawan
Kalau di awal namanya pendaftaran
Lagi-lagi seperti itulah yang sering dikatakan orang-orang


Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Hukum UNS, bisa menyapa Evita di Twitter @EvitaErsamayori

No comments:

Powered by Blogger.