Melampaui Aksi Jokowi di Asian Games dan Pelajaran Apa yang Bisa Diambil

Penulis : Aldian

Meriahnya pembukaan Asian Games 2018 diwarnai pro dan kontra bagi masyarakat Indonesia. Terlepas dari permasalahan yang masih mendera masyarakat kita, tak urung hajatan pembukaan yang menghabiskan dana ratusan miliar rupiah tersebut berhasil menampilkan acara pembukaan yang menurut banyak kalangan menampilkan wajah Indonesia yang sebenarnya. 

Baik para pendukung maupun oposisi pemerintah menonton pembukaan event olahraga terbesar di Asia tersebut baik secara langsung maupun lewat layar televisi dan internet. Tulisan ini tidak akan membahas pro kontra seputar penampilan presiden bergaya ala Ethan Hunt di film Mission Impossible, namun apa pelajaran apa yang dapat dipetik bagi mereka yang bergerak di bidang aktivis sosial dan kemanusiaan. 

Alih-alih mengkritisi hal-hal yang kurang penting pada penampilan tersebut (seperti Jokowi diperankan stuntmant atau tidak, plat nomor pada motor yang tidak ada atau kemacetan yang ditimbulkan) maka akan lebih baik mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut untuk kepentingan gerakan sosial ke depannya. Bagaimana kemudian hegemoni citra penguasa di media bisa menutupi tindakan kekerasan yang selama ini dilakukannya (perampasan tanah atas nama pembangunan, penggusuran hutan adat atau contoh yang paling dekat dengan Asian Games tentang atlet yang tidak diperhatikan kesejahteraannya oleh negara). 

Penampilan tokoh negara yang di luar kebiasaan dalam suatu acara sebetulnya bukan pertama kalinya dilakukan di acara Asian Games kemarin. Sebelum Jokowi, Ratu Elizabeth II melakukan atraksi terjun payung bersama Daniel Craig, aktor James Bond pada acara pembukaan Olimpiade tahun 2012 di Inggris. Pesannya jelas, bahwa ratu yang dalam masyarakat Inggris adalah sebuah simbol yang dihormati adalah seorang manusia yang bisa melakukan hal yang dilakukan rakyatnya, dalam hal ini adalah melakukan aksi terjun payung. 

Untuk acara pembukaan Asian Games, Jokowi dalam film menampilkan dirinya sebagai seorang inisiator dengan menaiki motor di tengah kemacetan menuju Stadion GBK. Jokowi juga menampilkan dirinya yang rendah hati dengan menyapa masyarakat di pinggir jalan dan terakhir dia mendahulukan anak-anak sekolah untuk menyeberang jalan. Semua adegan ditampilkan dengan pengambilan sudut yang menarik dan berhasil merebut panggung Asian Games menjadi miliknya, menjadi kurang penting lagi bahwa event Asian Games adalah panggung bagi para atlet yang berlomba bukan panggung politik. 

Di dalam masyarakat tontonan[1], apa yang ditampilkan pada acara pembukaan Asian Games kemarin adalah citra imajinasi yang diharapkan dapat ditangkap oleh penerima pesan yaitu masyarakat luas, meskipun faktanya belum tentu demikian, bahkan bisa jadi berkebalikan. Rekayasa citra tersebut menjadi tambah efektif di era internet dimana kebenaran menjadi nomor sekian, asalkan citra yang ditampilkan sesuai dengan perasaan hati si penangkap pesan maka itulah yang disebut sebagai kebenaran. 

Pelajaran yang dapat dipetik dari fenomena di atas adalah konstruksi atas citra yang berhasil dibangun oleh penguasa dan seharusnya bisa menjadi refleksi bagi pelaku gerakan sosial yang bergerak di isu-isu pembangunan, gerakan sosial dan kemanusiaan. Jika penguasa bisa menampilkan semangat persatuan dan kesejahteraan lewat hal-hal sederhana, mengapa mereka yang mengangkat isu kemanusiaan (yang merupakan hak mendasar bagi masyarakat) tidak? 

Hari ini wajah gerakan sosial dalam setiap aktivitas perlawanannya menampilkan wajah rezim yang brutal, beringas dan sedikit sekali mengangkat unsur kesenangan dalam melakukan propaganda untuk menarik simpati masyarakat. Padahal salah satu unsur keberhasilan dalam gerakan adalah bagaimana isu yang diangkat dapat menarik perhatian masyarakat sehingga tidak mudah tenggelam saat isu yang lain bermunculan dan mencapai tujuannya.

Problemnya adalah bagaimana menerjemahkan pesan-pesan perlawanan ke dalam masyarakat dengan lebih memperhatikan masalah-masalah yang selama ini dianggap teknis belaka, seperti aksi demonstrasi yang teatrikal, pembuatan video atau musik perlawanan, terbitan-terbitan dengan bahasa yang menyenangkan namun tanpa melupakan esensi perjuangan itu sendiri. Bisakah kemudian aktivis sosial yang membela kelompok masyarakat yang tergusur menampilkan bahwa tanpa berdirinya pabrik, bandara ataupun perkebunan kelapa sawit menampilkan kebahagiaan warga tanpa adanya proyek-proyek kapital?

Kerja-kerja aktivisme sosial yang seringkali membutuhkan darah dan air mata dalam perjuangannya memang menimbulkan perasaan simpati saat ditampilkan ke masyarakat baik lewat media digital maupun cetak, namun faktanya hari ini hal-hal yang menyenangkan lebih bisa menarik perhatian masyarakat dan terus dibincangkan hingga ke tingkat akar rumput dan merangkul masyarakat lintas kepentingan. 

Aktivis gerakan sosial bisa belajar dari aksi demonstrasi yang dilakukan berbagai kelompok demonstran saat menolak pertemuan G20 di Hamburg, Jerman[2]. Aksi teatrikal ditunjukkan dengan mengokupasi jalanan dengan pertunjukan-pertunjukan layaknya festival budaya dengan membawa pesan anti globalisasi, alienasi, dan dominasi kapital atas ruang-ruang publik. Peserta demonstran baik dari kelompok kiri, lingkungan maupun anti kapitalisme berpartisipasi dengan kekhasan masing-masing dengan keceriaan menyuarakan bahwa dunia yang lain adalah mungkin. 

Pembuatan film-film alternatif memang sudah dimulai namun daya jangkaunya masih terbatas, padahal kekuatan jaringan yang dimiliki para aktivis baik di dunia nyata maupun media sosial bisa menjadi konter hegemoni yang dapat merebut kuasa wacana, baik itu kekuatan pemerintah maupun kekuatan modal. Pemutaran-pemutaran film dokumenter diperlukan untuk menggalang solidaritas antar gerakan dengan media film yang lebih mudah diterima oleh masyarakat. 

Pelajaran lain adalah masalah terbitan aktivis gerakan sosial yang distribusinya sangat terbatas di baik terbitan cetak maupun digital di era internet yang semakin cepat bergerak. Kelompok aktivis kemanusiaan bisa belajar dari partai alternatif kiri di Spanyol Podemos yang menerbitkan leaflet kampanye dengan gaya brosur IKEA dan situs yang menarik dilihat[3]. Terbukti dengan terbitan yang mengadaptasi gaya korporasi ini berhasil merebut simpati generasi muda Spanyol dengan perolehan suara yang diraihnya saat Pemilu di Spanyol 2 tahun yang lalu. 

Dus untuk memulai semua itu, kita harus mencoba untuk membahas hal-hal sederhana dan selama ini dianggap permasalahan teknis belaka, namun jika dilihat lebih dalam dapat berefek besar bagi gerakan sosial ke depannya. Panjang umur perlawanan!




[1] Filsuf Prancis Jean Baudrillard membahas permasalahan ini dalam bahasan era simulasi dan hiperrealitas dimana tahapan terakhir dari masyarakat simulakra tanda tidak lagi berhubungan realitas sebenarnya.

[2] https://edition.cnn.com/2017/07/08/europe/g20-protests/index.html, salah satu contoh berita tentang aksi demonstrasi anti G 20 yang sebetulnya berjalan meriah seperti festival selama 3 hari berjalan tidak dianggap sebagai berita oleh media media besar. Justru berita tentang kerusuhan demonstrasi yang sebetulnya terjadi di karena tindak represif polisi kemudian dibesarkan oleh media untuk menutupi fakta bahwa G20 lah sumber petaka bagi masyarakat di seluruh dunia.

[3] https://www.theguardian.com/world/2016/jun/09/podemos-manifesto-ikea-catalogue-flat-pack-policies. Terbitan Podemos yang meniru leaflet IKEA (toko furniture modern) menarik perhatian masyarakat Spanyol tentang hak-hak dasar mereka seperti pemenuhan akan isu-isu mendasar seperti perumahan, kesehatan dan lapangan kerja.

No comments:

Powered by Blogger.