Sosial Demokrasi Bagi Pemula


Penulis: Hikmah Bima Odityo

Mengenang Sjahrir tentu bukan sekedar Poppy atau Buyung dan Upik, namun juga tentang ideologi yang dibawanya hingga liang lahat. Sosial demokrasi (SOSDEM), sebuah jalan tengah antara kapitalisme dan sosialisme.

Ideologi ini lahir di eropa barat pada abad 19 oleh Eduard Bernstein, melalui bukunya “Evolutionary Socialism”. Bernstein dikenal dengan ajaran doktrinal revisionisme demokratiknya, dengan berbagai variasi dan tetap mempertahankan the primacy of politics, class alliance dan relative autonomy of state.

Ideologi ini secara resmi dikeluarkan dari gerakan kiri internasional pasca Perang Dunia Kedua dan memulai karirnya melalui pembentukan negara kesejahteraan, dengan model utama: negara-negara Skandinavia. Sosdem dianggap kontra revolusioner oleh paham Komunisme, sebab masih mempertimbangkan konsep demokrasi dalam proses pencapaian tujuannya.

Dalam pandangan Bernstein, kaum sosialis harus bertransformasi menuju masyarakat yang berkeadilan sosial dengan cara-cara demokratis, bukan revolusioner seperti yang digagas Marx. Berbeda dengan pandangan Marx yang meyakini bahwa institusi negara akan menghilang digantikan kekuasaan proletariat, Bernstein menyanggah bahwa institusi negara harus dipandang sebagai mitra. Demokrasi politik dalam bernegara dapat mengakomodasi hak-hak ekonomi dan politik kelas masyarakat yang termarginalkan oleh kapitalisme.

Perbedaan kontras selanjutnya adalah bahwa tiap-tiap orang yang hidup di dalam suatu masyarakat memiliki hak untuk mengeluarkan pikiran, kemauan dan cita-citanya tentang masyarakat itu diatur, dengan kata lain pergaulan hidup itu harus diatur secara demokratis (demokrasi sosial).

Sedangkan kaum komunis memandang bahwa demokrasi itu tidak memberi kemerdekaan kepada rakyat. Bagi mereka, pergaulan hidup sosialis dapat dicapai dengan alat “diktaktor proletariat” (hanya kaum proletar saja yang mempunyai suara untuk memberi kekuasaan hidup manusia bagi keselamatan masyarakat).

Lenin, Trotsky dan Zinoview mengajarkan bahwa pergaulan hidup manusia tidak harus tumbuh sebagaimana yang sudah digambarkan dalam teori-teori Marx, tapi dapat dilalui dengan fase-sprong, dimana masyarakat yang masih berada di dalam fase feodal tidak harus melalui fase kapitalisme terlebih dahulu untuk mencapai fase sosialisme.

Sedangkan penganut Sosdem lantang membantah hal tersebut, karena menurut keyakinannya, sosialisme dapat tercapai dengan fase yang runtut dan terstruktur sesuai dengan yang diajarkan Marx. Pergaulan hidup harus tumbuh menurut alam. Kautsky berpendapat fase itu harus dimulai dari fase ur-komunisme, fase feodalisme, fase kapitalisme, fase kapitalisme modern, kemudian baru fase sosialisme.

Indonesia menurut Sjahrir yang selama masa hidupnya dipengaruhi oleh pergolakan pemikiran Barat, memandang bahwa Sosdem cocok untuk diterapkan di negeri ini. Sjahrir menolak obscruantisme (pembatasan ilmu pengetahuan dan pemikiran), chauvisme dan diktaktor seperti yang terjadi di China dan Uni Soviet.

Sjahrir kemudian menegaskan bahwa ajaran Sosdem dan Komunis dalam tataran tujuan dan strategi sangat berbeda. Sosdem sangat menjunjung tinggi martabat manusia, sehingga dalam segala aspek (termasuk pembangunan) harus mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan.

Pembangunan untuk rakyat dan masyarakat dewasa bukan tentang masalah uang, infrastruktur dan suprastruktur, namun tentang manusianya itu sendiri. Manusia diberikan kepercayaan untuk melakukan pembangunan. Pembangunan untuk menyadarkan kembali jiwa masyarakat tentang keinginan bercita-cita.

Sosdem bagi Sjahrir adalah suatu cara memperjuangkan kemerdekaan dan kedewasaan manusia, suatu kebebasan dari penindasan dan penghinaan oleh manusia terhadap manusia lainnya.

Tiada maksud untuk atavis, namun dalam spektrum yang lebih luas, tampaknya negeri ini sedang menghadapi krisis “the end of ideology” seperti yang dikemukakan oleh Daniel Bell. Sebuah nubuat buruk bagi para futuris. Sehingga, sosdem merupakan eksperimen yang masuk akal ditengah dislokasi sosial, kesenjangan ekonomi dan instabilitas demokrasi.

Ketika peran kekuatan politik strategis mengalami kelumpuhan, seperti kaum nasionalis yang dihadapkan pada kemunduran imajinasi kreatif, kaum liberalis yang semakin bersekutu dengan para imperialis, kaum islamis yang semakin tercerai berai dan mengalami divergensi akut, hingga gerakan-gerakan kiri yang semakin kehilangan basis populernya. Sosdem mampu mengisi kekosongan tersebut. Namun, bukan berarti Sosdem bebas dari kritik. Sosdem Indonesia tak ubahnya mengalami kebingungan akan muara tujuan aliran ini.

No comments:

Powered by Blogger.