Bahasa Campur dan Persatuan Kita

Penulis : Aldian
Belakangan ini sedang menjadi tren penggunaan bahasa Indonesia yang dicampur dengan bahasa Inggris. Di jagad Twitter penggunaan bahasa campur Indonesia dan Inggris menjadi bahan ejekan untuk anak muda yang tinggal di Jakarta Selatan, yang menurut warga internet penggunaan bahasa campuran ini sering digunakan mereka dalam percakapan sehari-hari maupun dalam bahasa tulisan.

Jika melihat sedikit ke masa lalu tentang masalah penggunaan bahasa campur ini pernah terjadi pula saat Indonesia masih menjadi jajahan Belanda. Bahasa Belanda yang kerap digunakan penduduk Hindia Belanda berbeda dengan bahasa Belanda aslinya. Banyaknya perbedaan baik secara kosakata maupun struktur kalimat yang digunakan menjadikan bahasa Belanda dianggap unik. Penggunaan bahasa campur tersebut terutama banyak ditemukan di lingkungan masyarakat Indo Eropa yang menetap di kota-kota besar Hindia Belanda seperti Batavia, Semarang atau Surabaya pada waktu itu. 

Hal ini tidak lepas dari banyaknya orang Eropa yang menetap di Hindia Belanda menikah dengan penduduk pribumi, baik menikah secara resmi maupun tidak. Pernikahan ini menghasilkan keturunan yang setengah Eropa setengah Pribumi yang sering disebut bangsa Indo Eropa. Anak-anak Indo Eropa yang notabene di rumah lebih banyak menghabiskan waktu dengan ibu pribumi mereka akhirnya menggunakan bahasa campuran Belanda, Jawa, Melayu dalam percakapan keseharian mereka.

Dalam buku Kebudayaan Indis karangan Djoko Soekiman memberikan beberapa contoh penggunaan bahasa campuran tersebut dan akrab disebut bahasa Belanda Petjok atau bahasa Melayu Pasar. Di buku ini juga diceritakan orang Belanda saat berkunjung ke Hindia Belanda sering tidak paham dengan penggunaan Bahasa Belanda yang menurut mereka membingungkan. Dari sedikit sejarah ini dapat diketahui bahwa bahasa campur yang belakangan ini marak bukanlah hal yang baru di Indonesia.

Masalah penggunaan bahasa ini juga menjadi jurang antara penduduk Belanda dengan pribumi (termasuk bangsa Indo Eropa) apalagi sejak kebijakan politik etis diberlakukan di Hindia Belanda. Meskipun sekolah-sekolah didirikan di Hindia Belanda untuk mendukung kebijakan politik etis tersebut, namun pada kenyataannya yang bisa menikmati pendidikan barat bukanlah masyarakat pribumi kebanyakan namun hanya mereka yang berasal dari keturunan bangsawan/priyayi saja. Bahkan di awal abad 20 orang-orang Belanda menganggap penduduk pribumi tidaklah pantas menggunakan bahasa Belanda yang dianggap hanya untuk orang Belanda saja. 

Kebijakan penggunaan bahasa Belanda yang sangat sempit jangkauannya di sekolah-sekolah membuat masyarakat pribumi akhirnya tetap bertahan menggunakan bahasa daerah masing-masing dalam kesehariannya. Saat era pergerakan kebangsaan dimulai, kalangan elit pribumi yang mendapatkan kesempatan bersekolah bersepakat menemukan bahasa sendiri sebagai bahasa pemersatu yaitu bahasa Melayu yang nantinya dikenal sebagai bahasa Indonesia.  yang dituangkan dalam Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. 

Menjadi catatan yang menarik opini dari Joss Wibisono yang dimuat di Tirto.id, dia mengatakan bahwa pemerintah Belanda sendiri sengaja tidak menyebarkan bahasa Belanda di kalangan pribumi mengingat biaya yang dikeluarkan akan sangat besar untuk mengajarkan bahasa Belanda ke penduduk Hindia Belanda. 

Kembali kepada penggunaan bahasa campuran yang sekarang menjadi perbincangan, menurut penulis sudah seharusnya kita kembali menggunakan bahasa Indonesia baik di percakapan sehari-hari maupun dalam tulisan. Kita tidak perlu menggunakan bahasa Inggris jika memang belum ada padanannya di bahasa Indonesia. Jangan sampai kemudian bahasa Indonesia justru menjadi bahasa tambahan di samping bahasa asing dalam keseharian kita.

No comments:

Powered by Blogger.