Fenomenologi Kontemporer: Modernisme vs Konservatisme

Penulis: Zuhal Qolbu Lathof

Problematika kehidupan manusia bukanlah sesuatu hal yang statis. Ibnu Khaldun mengatakan bahwa kehidupan manusia pastilah mengalami sebuah perubahan secara terus-menerus. Perubahan-perubahan ini memiliki semacam hukum sebab-akibat yang secara langsung mempengaruhi pola pikir manusia dalam menghadapi sebuah fenomena. Interpretasi dari sebuah permasalahan memang pada hakikatnya berbeda-beda tergantung dari kondisi historis, sosiologis dan yuridis untuk menemukan solusinya. Hasil dari pemikiran itu menunjukan kecenderungan manusia untuk membuat sebuah pembaharuan terhadap sesuatu yang terkadang menimbulkan sebuah tatanan nilai bahkan tatanan sosial yang baru bagi masyarakat.

Respon dari masyarakat terhadap ide pembaharuan pastinya berbeda-beda dan tak jarang menimbulkan sebuah dikotomi. Pertama, masyarakat menerima setiap ide pembaharuan sebagai sebuah solusi terhadap permasalahan yang ada meskipun dapat menghilangkan sebuah tatanan nilai dan sosial yang ada, paham ini biasa disebut modernisme. Kedua, masyarakat menolak setiap ide pembaharuan yang bertentangan dengan nilai-nilai tradisional meskipun ide tersebut merupakan sebuah solusi, paham ini biasa disebut konservatisme.

Masalah perbedaan paham ini juga menimbulkan pertentangan yang tidak hanya dirasakan oleh negara-negara yang notabene adalah negara berkembang. Amerika Serikat dan Inggris adalah contoh negara-negara maju di dunia yang mengalami hal serupa. Misalnya, bagaimana negara sebesar Amerika Serikat yang dijuluki sebagai the Mother of Capitalism dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan harus ternodai dengan kebijakan-kebijakan populis dari seorang Donald Trump.

Salah satu kebijakan kontroversial dari seorang Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat yaitu membatasi bahkan melarang para imigran untuk masuk ke wilayahnya dengan tujuan untuk menjaga eksistensi warga negara Amerika Serikat dari ancaman para imigran dalam persaingan lapangan pekerjaan.

Inggris juga seperti itu, sebagian masyarakatnya sepakat apabila negara mereka keluar dari Uni-Eropa dengan alasan untuk mempertahankan eksistensi mereka dari ancaman pendatang baru yang ingin mencari pekerjaan di negara mereka. Hasil Refrendum ini dikenal dengan istilah Brexit. Konservatisme Proteksionis yang dilakukan oleh dua negara diatas menunjukkan bahwa ada sebuah ketakutan dari masyarakat dalam menghadapi sebuah modernisasi padahal dahulu, kedua negara ini sangat terkenal dengan jargon- jargon tentang kemajuan dan kebebasan dalam semua aspek kehidupan manusia.

Pertentangan antara kedua paham ini menimbulkan tesis dan anti-tesis yang menurut Hegel seorang filsuf dari jerman, harus dicarikan sebuah sintesis untuk menemukan sebuah titik temu untuk menghasilkan sebuah win-win solution. Konstruksi pemikiran ini lebih dikenal oleh masyarakat luas dengan sebutan moderat. Sebuah pola pikir yang tidak ekstrim pada suatu paham tertentu sehingga gagasan-gagasan tersebut dapat diterima oleh semua elemen masyarakat.

Tak jauh berbeda dengan Amerika Serikat dan Inggris, dikotomi yang sama juga dirasakan di Indonesia meski dengan kompleksitas permasalahan yang berbeda. Menurut penulis, bangsa Indonesia tumbuh dan berkembang dari sebuah negara yang pada dasarnya memegang erat nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Kondisi tersebut mengharuskan bangsa ini untuk adil dalam memandang modernisme. Modernisme tak melulu tabu, dan modernisme juga bukanlah sebuah benda yang anti untuk dipegang.

Perlu digaris-bawahi bahwa nilai-nilai dan budaya lokal (Local Wisdom) merupakan identitas kita sebagai anak yang lahir dari ibu pertiwi ini. Oleh karena itu, bukan menjadi suatu alasan apabila modernisasi menyebabkan hilangnya identitas kita, justru dengan akulturasi dari dua paham ini akan menyebabkan kita menjadi negara yang memiliki karakter dan integritas serta dapat menjadi trendsetter bagi perkembangan arus globalisasi.



*Muhammad Zuhal Qolbu Lathof, Lahir di Ponorogo, 25 Juni 1998. Suka membaca, diskusi dan literasi tetapi memiliki sifat Philogynik dari lahir.  Saat ini berkuliah di Fakultas Hukum Jurusan S-1 Ilmu Hukum angkatan 2017 dan aktif mengikuti beberapa organisasi kampus.

No comments:

Powered by Blogger.