Jalan

Penulis: Wahyu Febrianto
Rindu itu senyap kawan

Rindu itu hanya bayang imajinasi

Mereka yang tak paham

Atau aku yang tak melakukan?


Di pemberhentian ini aku terhenti

Tidak ada jalan didepanku

Terhenti di sebuah persepsi

Yang akupun tak tahu jawabannya apa


Candu ini menelanku

Membawaku jauh kedalaman bualan

Candu ini membuatku tak berdaya

Aku butuh jalan keluar


Aku lupa alamat rumahmu

Tidak banyak yang kuingat

Hanya di persimpangan jalan itu

Tempat kita saling belajar menghujat


Aku harap aku masih ingat alamat rumahmu

Aku rindu tawamu

Aku rindu cara pandangmu

Aku merindukanmu

Akankah kita akan bertemu lagi?


Entah setahun ataupun lima puluh tahun lagi

Aku tetap akan melawan

Sampai keringat ini berhenti bercucuran


Akan kuceritakan satu kisah kawanku

Berdamai dengan manusia lain bukanlah jawaban

Berdamai dengan diri sendiri lebih perlu

Karena akan lebih mengurai beban


Hidupku dan hidupmu mungkin akan berbeda jalan

Namun yang harus engkau tahu kawan

Masa lalu kita hanya kenangan

Kita harus sama sama menunggu tibanya masa depan


Di akhir hidup kita nanti

Siapapun dari kita yang menghujat

Tetaplah saling jabat tangan lagi

Karena hujatanlah kita berbagi rasa dan tempat


Siapapun atau apapun nanti jadinya kamu

Pulanglah ketika sudah mulai terasa lelah

Jalan inilah yang selalu menemui rintangan kawanku

Karena inilah yang disebut dengan rumah


Begitupun denganku kawan

Aku akan ada disini ketika tak sanggup lagi melawan dunia

Suatu saat nanti kawan

Kita akan duduk bersama menikmati ufuk senja


Ufuk senja sore hari

Lalu datanglah malam gelap

Yang menyeruak masuk ke dalam hati manusia

Hingga akhirnya kedengkian itu muncul


Dan kita sama sama tahu kawan

Kedengkian itulah yang membunuh mereka sendiri

Bukan karena manusia lain..

Bukan karena diriku..

Bukan karena dirimu juga, kawan.

No comments:

Powered by Blogger.