Kakek Plaga

Penulis : Mellshana
Setelah hari raya, hujan deras di Gang Timur, aku bolos lagi dan menggambar saja di depan jendela. Kucing berlarian kesana kemari. Lalu, tergeletak seekor capung di kakinya. Membayangkan hidup sesantai capung yang rapuh. Penat ini kadang menyiksa, kadang indah juga. Mungkin, kalau aku terlahir di negara maju Eropa, aku akan seperti perempuan-perempuan petani, herbalis dan ilustrator alam di sosial media. Tapi, takdir melahirkanku di Indonesia negara agraris tapi sudah menjadi negara ekonomi. Pembangunan dimana-dimana. Tapi, takdirku yg lain, masih tetap sama. Mencintai alam bebas. Jadi, para takdir menyilang dan membuat ceritanya sendiri.

Suatu siang, aku ingin menikmati kota yang dianggap suci ini. Tapi, aksesnya harus melewati gerbang dan bapak tua berseragam. Rasanya sedih sekali. Kenapa semua dibatas-batasi? Bahkan untuk orang madaniyah yang tidak menggunakan properti ngaji.

Apakah aku harus lebih terlihat seperti penyihir modern kecil yg berpura-pura menjadi peri?
Tak masalah. Aku tidak butuh jawabannya.

Penat ini semakin menggertak. Lalu, minggu lain. Aku menuju sebuah desa bernama Plaga. Menemukan rumah hangat yang aku intip dari sela lubang pintu kayu. Aku rasa itu dapur, ku lihat nenek sedang menuang air dari tremos bunga berwarna biru muda, terlihat kakek sedang membetulkan kompor.

Sepuluh menit kemudian kakek keluar dengan membawa secangkir teh wuwur. Rupanya aku bertemu dengan seorang kakek indigo yg bisa melihat warna aura, ngobrol dengannya dan sedikit melihat masa depan. Dia membaca beberapa puisiku. Kami berdua merokok. Kakek ini wajahnya manis, rambutnya lurus dan memakai kacamata. Rasanya aku pernah melihatnya di buku Enid Blyton.

Dia bercerita tentang kemampuan istimewanya dan memberitahuku warna auraku adalah ungu lavender yg artinya kreatif, tidak mudah terhanyut, sensitif, simpatik dan seterusnya aku tidak ingat lagi. Aku mengangguk kagum pada suaranya. Rasanya ada benarnya juga. Tak ada anak dan cucu, Ia menghabiskan waktu dengan membuat pigura kayu dan nenek menyulam.

"Sesungguhnya aku seperti terkurung di botol bernama Plaga ini, nak. Sesekali kami membayangkan berjalan ke suatu tempat untuk menjenguk cucuku sembari membawakannya kue. Tapi semakin berpikir ingin berjalan justru semakin tidak tenang. Tanpa kami sadari Plaga ini yang membuat kami damai dan merasa hangat. Berpuluh-puluh tahun terserah Tuhan memecahkan Plaga ini atau mewariskannya kepada mereka yang ingin sederhana"

Setelah bertemu Kakek itu, aku berjalan di trotoar. Entah rasanya lega sekali. Aku merasa aku perempuan aneh dan terlalu perasa. Aku tidak seasik anak muda lainnya, bahkan Kakek sekalipun. Terlalu banyak melamun akan membuatku damai seperti Kakek di dalam botol Plaga. Tidak ada yang tidak mungkin.

Aku hanya ingin bersyukur dan lebih berani menjalani hidup yg cuma satu detik semesta ini.


*Penulis bernama Mellsana dapat disapa di akun Instagram miliknya di  @Mellshana

No comments:

Powered by Blogger.