Menunggu Keajaiban

Penulis : Aldian AW
Aku masih ingat dengan jelas pertemuan dengannya. Sore itu saat aku berorasi berdiri di atas bangku taman di depan ratusan aktivis

Saat itu dia berada di tengah-tengah ribuan demonstran yang melakukan pawai, berkulit coklat, berambut hitam dan memakai kaos merah bertuliskan “ Beginilah wajah demokrasi,” dia mengambil foto di depan puluhan polisi yang berjaga di gedung pertemuan IMF dan World Bank di Pulau Dewata.

Aku terdiam memandangnya, dan dia sepertinya memperhatikanku. Seketika hening di telingaku ratusan orang yang meneriakkan kata-kata makian di sekeliling tempat ini. Duniaku terasa berhenti, aku jatuh cinta padanya pada pandangan pertama.

Waktu tidak berpihak padaku. Aku tak berhasil mengejar dirinya untuk berkenalan lebih jauh. Dia hilang di tengah ribuan demonstran lain yang meneriakkan ketidakadilan dunia.

Malam setelahnya, kucoba cari foto perempuan itu di jejaring sosial, Kucari berita aksi kemarin di berbagai media. Nihil, tidak kuketahui namanya, hanya sedikit informasi bahwa masyarakat yang turun aksi kemarin berasal kelompok aktivis salah satu kota di Jawa.

Hari demi hari berlalu belum juga aku bertemu dengan perempuan itu. Di depan massa demonstran seringkali aku selipkan pertanyaan adakah seseorang yang mengenal gadis dalam foto itu.

Namun tak kutemukan jawaban, kebanyakan dari mereka menggelengkan kepala yang semakin membuat perasaanku tidak karuan. Namun aku tidak menyerah, tidak sebelum keajaiban itu datang. Kamu pernah dengar bukan bahwa tidak ada kebetulan di dunia ini?

Aku masih bertahan di sini bersama ribuan demonstran lain. Ini adalah hari kesekianku untuk menentang ketidakadilan ekonomi di republik, dimana perekonomian diatur oleh segelintir orang tamak dengan mengorbankan ribuan lainnya.

Bukan itu saja alasan yang membuatku bertahan disini. Kamu tahu alasannya, aku masih menunggunya tiba. Sampai keajaiban datang menghampiriku maka aku takkan berhenti

Dan jika kau mengenal perempuan itu katakan padanya, aku menunggunya di Pulau Dewata.

Epilog - 
Ada saat saat dimana kau harus memilih dlm hidup, dan pilihan itu seringkali getir dan menyayat hingga kau tak mampu berbuat banyak. Untuk mereka yg menentang ketidakadilan, panjang umur perlawanan.

No comments:

Powered by Blogger.