Kenakalan Anak dan Penghayatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Penulis : Husni Mubarok
Anak merupakan aset paling berharga bagi sebuah bangsa dan negara. Ini mungkin ungkapan paling tepat dan mudah dipahami menggambarkan pentingnya membahas anak sebagai generasi masa depan.

Tanggal 20 November diperingati sebagai Hari Anak Internasional bertepatan Majelis Umum PBB mengadopsi Konvensi tentang Hak Anak pada tahun 1989 dan ditetapkan peringatanya setiap tahun pada 1990. Konvensi internasional tersebut mengatur hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial, dan kulural anak-anak. Indonesia meratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA) melalui Keputusan Presiden Nomor 36 tahun 1990.

Pada tanggal 25 Mei 2000 ada Protokol Tambahan mengenai Keterlibatan Anak-Anak dalam Konflik Senjata. Membatasi keterlibatan anak-anak dalam konflik-konflik militer, dan Protokol Tambahan Konvensi Hak-Hak Anak mengenai Perdagangan Anak-Anak, Prostitusi Anak-Anak, dan Pornografi Anak-Anak. Melarang perdagangan, prostitusi, dan pornografi anak-anak.

Anak Berhadapan dengan Hukum
Pemerintah Indonesia menempatkan anak sebagai priotitas dalam berbagai kebijakan yang diambil. Diantaranya pengesahan Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).

Pasal 1 ayat 2 UU 11/2012 Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH) adalah anak yang menjadi korban tindak pidana, dan anak yang menjadi saksi tindak pidana. Sementara Anak yang Berkonflik dengan Hukum adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana (Pasal 1 ayat 2 UU 11/2012). Dalam SPPA tercantum kewajiban untuk mengutamakan pendekatan Restoratif Justice (Keadilan Restoratif) dan Diversi dalam menangani Anak Berhadapan dengan Hukum.

Keadilan Restoratif adalah penyelesaian perkara tindak pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku/korban, dan pihak lain yang terkait untuk bersama-sama mencari penyelesaian yang adil dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula, dan bukan pembalasan (Pasal 1 ayat 6 UU 11/2012). Lebih lanjut pada ayat 7 disebutkan Diversi adalah pengalihan penyelesaian perkara Anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana.

Berdasarkan penjelasan diatas maka pemerintah sudah hadir dalam perlindungan anak. Kementerian Hukum dan HAM melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pemasyaraktan (Bapas) menugaskan Pejabat Fungsional Penegak Hukum Pembimbing Kemasyarakatan (PK) untuk hadir dalam setiap perkara anak berhadapan dengan hukum. Pembimbing Kemasyaratan melaksanakan penelitian kemasyarakatan (Litmas), pembimbingan, pengawasan, dan pendampingan terhadap Anak di dalam dan di luar proses peradilan pidana.

Jumlah anak di Kalimantan Barat (Kalbar) yang sedang menjalani hukuman di dalam Lapas dan Rutan per-Oktober 2018 berjumlah 74 anak. Kalbar menduduki peringkat teratas jika dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Kalimantan yakni, Kalteng (19), Kalsel (44), Kaltim (51). Sementara jumlah permintaan pendampingan dan (Litmas) untuk perkara ABH yang masuk dan diselesaikan Balai Pemasyarakatan (Bapas) se-Kalbar hingga November yakni; Bapas Kelas II Pontianak berjumlah 314 dari 316 perkara, Bapas Kelas II Sintang 77 dari 81 perkara. Perkara hukum yang dihadapi antara lain kasus Narkotika, Pencurian, Kekerasan dan Kasus Asusila.

Hal ini menunjukan keseriusan pemerintah melalui UPT Bapas Kemenkumham yang sudah bekerja dengan baik melakukan tugas dan fungsi perlindungan anak dengan menghindarkan ABH dari pidana penjara. Pengalihan penyelesaian perkara melalui Diversi menjadi ujung tombak perlindungan anak di mata hukum pidana Indonesia.

Sumber Masalah Ada di Sekitar Kita
Lalu apa yang menjadi masalah dengan angka-angka tersebut? Tingginya angka anak berhadapan dengan hukum menjadi sinyal perkembangan psikososial dan pendidikan, anak yang kurang baik. Perlu diketahui bahwa anak sebagai pelaku tindak pidana dalam kaca mata SPPA adalah korban dari pola asuh, pergaulan dan lingkungan. Peran orang tua dan masyarakat hingga pemerintah daerah menjadi hal penting dalam meningkatkan kesejahteraan anak.

Masih bisa kita saksikan saat larut malam anak-anak dibawah umur di Jalan Gajah Mada Kota Pontianak menjajakan barang dagangan, semir sepatu hingga mengemis. Seolah pemandangan yang wajar disaksikan, namun sungguh memprihatinkan melihat anak-anak yang mungkin tidak punya pilihan menjalani masa kanak-kanaknya. Sehingga anak kurang pengawasan dan terjebak di lingkungan tidak sehat yang cenderung mengarah pada tindak kriminal.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi saat ini belum mampu dipahami oleh setiap elemen bangsa menjadi peluang sekaligus tantangan bersama menuju Indonesia yang berkemajuan. Elemen terkecilnya adalah keluarga sebagai lingkungan pertama tumbuh kembang anak. Pola asuh orang tua adalah hal terpenting yang harus menjadi perhatian bersama.

Anak memperoleh dan mempelajari cara berperilaku dengan mengalami secara langsung atau mengamati tingkah laku orang dewasa di sekitarnya. Seorang anak yang tidak mempunyai sifat agersif cenderung menampilkan perilaku agresif jika ia telah mempelajarinya dari lingkungannya. Begitu pun sebaliknya, anak yang mempunyai sifat agresif cenderung tidak akan menampilkan perilaku agresif jika lingkungannya tidak mendukung atau mengajarinya.

Menurut tokoh Psikologi Sosial Albert Bandura menyatakan bahwa anak meniru perilaku agresif dari orang dewasa di sekitarnya. Hal ini menujukan bahwa anak adalah pembelajar dan peniru yang baik terhadap lingkungannya. Anak seperti cermin yang mengimitasi melalui melihat model perilaku orang dewasa di lingkungannya.

Muhammad SAW dan Anak
Tahun ini Hari Anak Internasional bertepatan dengan umat Islam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Momentum yang tepat untuk kembali menghayati nilai-nilai luhur Muhammad sebagai teladan dalam mendidik anak. Salah satunya adalah cara mendidik yang terbaik adalah memberikan suri teladan untuk anak.

Muhammad mencontohkan bagaimana cara menyayangi anak, seperti menciumnya, lemah lembut, welas asih, menahan marah dan memaafkan anak-anak. Salah satu pola yang paling terkenal dari beliau adalah tahapan mendidik anak yakni usia 0-7 tahun dengan menanamkan sopan santun. Selanjutnya pada jenjang usia 7-14 tahun menanamkan kedisipllinan, kemudian ajaklah anak bertukar pikiran pada jenjang usia 14-21 tahun dan setelah itu lepas mereka untuk belejar mandiri.

Kembali menghayati perayaan kelahiran Nabi Muhammad serta meneladaninya dalam mendidik dan mengasuh anak bertepatan dengan Hari Anak Internasional menjadi momentum evaluasi untuk menatap masa depan anak-anak Indonesia yang lebih baik. Setiap elemen masyarakat harus disadarkan bahwa kondisi perkembangan psikososial anak kita tidak sedang baik-baik saja. Bahwa kondisi tersebut adalah tanggung jawab bersama, kehadiran pemerintah memerlukan dukungan penuh dari masyarakat.

Mengutip perkataan seorang pujangga Ronggowarsito. “Nalar Ajar Terusan Budi”. Nalar atau pikiran yang sudah belajar dan terdidik harus diimplementasikan dalam bentuk budi pekerti. Kemampuan intelektual, prestasi akademik menjadikan seorang anak juga berbudi pekerti. Maka pendidikan formal di sekolah harus diimbangi dengan mengajarkan budi pekerti anak tidak hanya secara teori namun dengan selalu memberikan teladan yang baik. Sehingga anak tidak kekurangan figur suri teladan yang baik.

*Tulisan ini pernah dimuat di seluang.id dan dimuat ulang dengan izin penulis

*Penulis adalah lulusan Fakultas Psikologi UMS yang sekarang bekerja di Bapas Pontianak. Husni dapat disapa di akun IG nya : @ansichusni

No comments:

Powered by Blogger.