Pesan Guru Nur

Penulis : Ken Supriyono
Bandul jam menunjuk pukul 12.30. “Teng… teng… teng…” bunyi suara lonceng sekolah. Tanda jam masuk mata pelajaran terakhir. Kantin pojok sudah tampak lengang. Hanya ada beberapa siswa yang masih asyik. 

“Santai saja seh. Buru-buru amat. Mendoan sama es belum juga habis,” celetuk Angga. “Iya ih,” timpal Trio yang masih mengunyah mendoan alias tempe setengah matang itu. Ah suara angin lalu. Buru-buru beranjak menuju ruang kelas. Jaraknya sekira 100 langkah dari kantin. Kelas itu, berada di tepi area agak tengah kawasan sekolah. Menghadap ke barat. Berbatasan dengan ruang kelas dua, yang dibatasi tempat parkir sepeda.

Siang itu, aku sengaja tak ingin terlambat masuk. Itu mata pelajaran terakhir yang diampu Bu Nur. Nama panjangnya, Nur Hidayah. Jika tak salah ingat, maknanya 'cahaya petunjuk'. Pernah kutanyakan itu langsung kepada Bu Nur di ruangannya. Saat menghantarkan buku tugas teman-teman sekelas. Bu Nur memang terkenal agak bawel ke siswanya. Tapi, bukan tanpa alasan. Ia lakukan karena tulus mengajar. Juga mencintai siswanya seperti anaknya sendiri. 

“Kebanggaan dan kebahagiaan Ibu itu saat melihat kalian menjadi orang, karenanya kalian harus belajar sungguh-sungguh,” ujarnya suatu ketika. Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia itu memang jarang terlambat mengajar. Bahkan hampir tak pernah. Selain itu, Bu Bur Wali Kelas 3D di SMP V. Kelas yang konon dijuluki ‘kelas buangan’. 

Julukan yang menjengkelkan. Haruskah, ada pembedaan perlakuan itu. Uh. Tapi sudahlah, meski dianggap buangan -tempat siswa nakal-, toh bukan kriminal. Lagi pula kelas 3D juga punya prestasi membanggakan. Kelas ini pernah menyabet juara umum di ajang Porseni tahunan sekolah. Banyak pula siswanya mewakili di ajang perlombaan minat bakat (olahraga, seni) antar sekolah. Dan itu, tidak lepas dari kesabaran Bu Nur, menghadapi siswa-siswanya.

Nah, lihat itu, Angga dan Trio baru datang. Kelas pasti bakal heboh lagi gegara ulah mereka terlambat masuk. Huhf. “Dari mana?” tanya Bu Nur sembari memegang buku cetak di tangannya. “Dari... dari...,” “Ah sudah,” sergap Bu Nur yang sepertinya sudah hafal alasan siswanya terlambat.

“Jadi kalian ini mau dijewer atau kasih tugas?” tanya Bu Nur yang hanya dijawab saling pandang keduanya. Mereka akhirnya hanya diminta menjelaskan tentang ‘majas atau kiasan’ di depan kelas. Muka mereka memerah. Saling tunjuk. Siswa-siswa lainnya jadi heboh. Tertawa, beberapa terpingkal-pingkal. Melihat tingkah dua anak yang terkenal super bandel itu tampak lugu di depan. 

Ah ayam sayur. Nyali saja kau besar, otak tak pernah diisi. Uh kenapa pula mengumpat. Ini tidak elok. Bukahkah, kita belum tentu lebih baik dari orang yang kita umpat. Sudahlah, kita harus mawas diri. 

“Sudah jangan saling lempar,” lerai Bu Nur. “Kalian juga kenapa menertawakan teman yang lagi kena hukuman,” serunya lagi menenangkan kelas. Selang tak lama, keduanya diberi ampunan. Dimintanya ke tempat duduknya. Dan itu ada di bangku paling belakang. 

“Kalau tidak mau dihukum, jangan-jangan lagi buat perkara,” serunya sembari meminta Angga memasukan bajunya. Kedua anak itu melangkah santai tanpa dosa. “Ingat ya nak, kita itu tidak boleh menertawakan orang lain, meski mereka salah. Kita harus tetap menghormati. Tidak selamanya orang berbuat salah. Kecuali ia yang tidak lebih baik dari keledai,” Bu Nur menasehati.

Pelajaran soal materi majas kembali dilanjutkan. Dimintanya semua siswa membuka buku cetak halaman 16. Di buku itu tertulis penjelasan majas dan beberapa contohnya. Menurutnya, majas atau gaya bahasa itu pemanfaatan kekayaan bahasa. Pemakaian ragam bahasa, yang membuat karya sastra semakin hidup. Tak heran, majas banyak digunakan dalam penulisan sastra, seperti puisi, prosa juga novel.

“Buku adalah jendela dunia. Itu contoh majas apa nak?” “Metafora bu.” jawab Mawar yakin. “Betul” lalu diterangkannya. Majas metafora sebagai bahasa yang membandingkan: suatu benda dengan benda lain karena mempunyai sifat yang sama atau hampir sama. Buku itu disandingkannya dengan jendela dunia. Dengan buku setiap orang memperoleh ilmu pengetahuan. Lewat ilmu pengetahuan itulah manusia mengenal dunia di luar dirinya. Sungguh besar manfaat ilmu pengetahuan untuk masa depan.

“Braaak” tiba-tiba terdengar suara dari bangku belakang yang tidak jelas pangkalnya. “Asu kowe,” suara Angga menyerga Trio yang sebangku dengannya. Tangannya menunjuk hidung. Bu Nur berhenti menerangkan. Didatangi keduanya. “Aih leh, kamu ini yah,” serunya. “Lagi-lagi yah” kesalnya sambil menjewer telinga Angga dan Trio. Dibawanya ke depan. 

“Ampun bu,” meminta iba. Siswa lain hanya melihat sambil menahan tawa. Mereka dihukum di depan menghadap teman-teman sekelas. Kaki mereka diangkat satu, sementara tangannya menjewer telinganya sendiri. “Kamu sadar tidak dengan perkataan itu” cerca Bu Nur geram. Angga diam dan menunduk. Juga dengan Trio yang tidak kalah merasa bersalah. Diam saja tanpa membantah hujah dari wali kelasnya itu.

“Apa pantas teman sendiri disebut binatang?” guru penyabar itu mengakhiri kekesalannya. Ya, guru itu, meski marah ia tidak ingin menggunakan kata-kata kotor kepada anak didiknya. Mungkin saja hatinya bersedih. Terluka, mendengar anak didiknya, wali muridnya, mengeluarkan kata-kata kotor. 

Perbuatan yang sering kali diwanti-wantinya. “Mulutmu harimaumu,” katanya seperti Minggu lalu saat menerangkan materi majas sarkasme. Kelas hening. Bocah caper itu seperti juga menyesali perbuatannya. Tak lama, lonceng berbunyi. Selamatlah keduanya dari hukuman. Tampak keduanya meminta maaf dan mencium tangan guru itu. Siswa lain pun sumringah. Terlebih, lonceng barusan juga membebaskan mereka dari kelas.

Minggu lalu, Bu Nur memang sempat menjelaskan makna majas sarkasme, gaya bahasa untuk mengatakan sindiran langsung. Biasanya juga bernada kasar. Bu Nur juga memberi contoh dari kata majas itu. ‘Mulutmu harimaumu’. Remang-remang jika tak salah ingat, ibu dua anak itu pun memberi penjelasan dengan kiasannya lain. 

“Lidah itu lebih tajam dari sebilah pedang. Jangan sembarangan dengan setiap lisanmu.” Ah, meski sudah lewat 15 tahun, pesan itu seperti selalu hidup. Setidaknya menjadi pegangan kita di tengah zaman edan. Zaman yang setiap hari dengan mudah menemui ujaran caci maki, kebencian, bahkan merasa paling memiliki kebenaran mutlak. Bulsyit.

Bangsa ini sepertinya rindu pelajaran majasnya Bu Nur. Guru yang oleh orang tua dulu disebut sebagai orang yang digugu dan ditiru. Digugu (turut) karena nasihat-nasihatnya, dan ditiru (dalam tindakan) karena keteladannya. Ya, guru bukan hanya soal mengajarkan kepandaian baca dan tulis, lebih dari itu ia mengajarkan persoalan sastra kehidupan. Guru itu pelita hidup. Seperti yang terangkai dalam hymne ‘Guru, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’ karya Pak Sartono tahun 1980. “Terpujilah, wahai engkau ibu bapak guru.” Juga untuk Pak Satono, yang telah berpulang ke pangkuan pemilik semesta, 1 November 2015 lalu.

Kehadiranmu sebagai penyejuk dirindukan bangsa yang sedang sakit. Sakit karena tak pandai menjaga lidahnya. Sekali lagi, terpujilah engkau Bu Nur Hidayah, juga semua guru yang ikhlas mengabdi. Pesanmu seperti arti namamu: cahaya petunjuk. “Tuk pengabdianmu, engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa,” itulah hymne untukmu. Celakalah engkau, bangsa yang mengabaikan guru. Selamat Hari Guru

*Ken Supriyono adalah penulis yang berprofesi sebagai Jurnalis di kota Banten dan juga pengasuh Komunitas INDOFuture . Ken dapat disapa di akun Twitter: @suprigandi atau IG @kensupri

No comments:

Powered by Blogger.