Resensi Persepolis : Melihat Iran dari Dekat Lewat Novel Grafis

Penulis : Aldian AW

 Judul Buku : Persepolis
Pengarang : Marjane Satrapi
Penerbit : Pantheon Books / Gramedia
Tahun Terbit : 2000 / 2006

Bagaimana kehidupan di Iran dari sudut pandang perempuan Iran sebelum dan setelah revolusi Iran pada tahun 1979? Bagaimana pergulatan batin perempuan Iran yang kuliah di Eropa kemudian merasa asing setelah kembali ke negerinya sendiri pasca revolusi? Novel grafis yang berjudul Persepolis ini menurut saya berhasil menggambarkan kondisi tersebut dengan balutan cerita yang menarik dan tidak membosankan.

Persepolis sendiri adalah novel grafis karya Marjane Satrapi dan diterbitkan pada tahun 2000 di Prancis. Novel grafis ini telah meraih banyak penghargaan dan diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia karena ceritanya yang menarik dan konflik yang ada di dalamnya. Di Indonesia sendiri Persepolis diterbitkan oleh Gramedia sudah lumayan lama yaitu pada tahun 2006 dengan judul Persepolis I : Kisah Masa Kecil. Dalam resensi ini saya membaca Persepolis versi bahasa Inggrisnya yang diterbitkan oleh Pantheon Books yang terbit pada tahun 2000.

Di novel Persepolis kita akan mengikuti perjalanan perempuan bernama Marji dari ia kecil hingga dewasa. Lahir di keluarga yang mempunyai latar belakang sekuler membuat Marji bersikap kritis sejak kecil. Ini bisa dilihat dari pertanyaan-pertanyaan yang kerap dilontarkan ke orang tuanya saat di rumah. Begitu juga di sekolahnya yang seringkali mengagetkan gurunya, termasuk saat dirinya memutuskan ikut demonstrasi pertama kali bersama asisten rumah tangganya yang membuat bingung seisi rumahnya.

Marji dan keluarganya diceritakan mengalami hidup di masa pemerintahan Shah Iran Reza Pahlevi hingga terjadinya Revolusi Islam Iran yang pada waktu itu mengguncang dunia. Bagian ini menjadi menarik karena kisah revolusi ditampilkan dari kacamata keluarga Marji dimana akibat dari revolusi begitu dirasakan bukan hanya di kalangan elit namun juga masyarakat biasa seperti banyaknya berjatuhan korban rakyat sipil, kesulitan keluarga Marji mencari bahan makanan hingga sebagian warga Iran memilih mengungsi keluar negeri sebagai imbas tidak stabilnya kondisi negara tersebut.

Kisahnya kemudian berlanjut setelah orang tuanya mengganggap kondisi di Iran tidak kondusif untuk pendidikan Marji, maka dikirimlah dia untuk melanjutkan pendidikannya di Austria. Di sini Marji mengalami apa yang dinamakan gegar budaya dimana di Austria kondisinya sangat berbeda dengan di Iran. Marji mengalami banyak pertentangan batin baik karena lingkungan barunya maupun dengan eksistensi dirinya sebagai orang Iran di negeri orang.

Setelah pendidikannya di Austria selesai ia pun memutuskan pulang ke Iran dan lagi-lagi menemui kondisi yang berbeda pasca terjadinya revolusi selain karena dirinya juga sudah bertambah dewasa. Iran menjadi negara yang ketat secara agama karena pasca revolusi ditetapkan bahwa Islam yang menjadi dasar negaranya. Cerita Marji menyaksikan perubahan ini disajikan dengan gambaran tentang sekolah, adanya polisi agama dan juga kisah tentang perang Iran melawan Irak yang saat itu terjadi dan menyebabkan banyak kerugian.

Membaca Persepolis membuat saya penasaran dan tidak ingin berhenti membaca meskipun halaman terakhir sudah habis saya baca. Banyak detail-detail kecil tentang kondisi masyarakat Iran digambarkan dengan apik serta cerdas oleh Marjane Satrapi.

Novel Persepolis bagi saya masih layak dibaca pada tahun 2018 apalagi dengan semakin meningkatnya wacana hukum agama yang memasuki ruang-ruang publik seperti terjadi di Iran pasca revolusi. Selain itu novel ini juga menarik bagi pembaca yang ingin mengetahui pergulatan perempuan mencari dirinya sendiri lewat berbagai kisah yang ditunjukkan oleh Marji di dalam novel ini.

No comments:

Powered by Blogger.