Tidak Ada pilihan Menjadi Mahasiswa Kupu-Kupu

Penulis : Thufeil ‘Ammar
Mampu merasakan nikmatnya kuliah merupakan nikmat yang harus disyukuri mengingat begitu banyak remaja yang tidak bisa berkuliah. Kuliah dengan segala kesibukannya mengajarkan mahasiswa banyak hal, seperti manajemen waktu, kerja keras, komunikasi dan kerja sama. 

Definisi kuliah seharusnya begitu mulia jika setiap mahasiswa mampu menguasai ilmu kemudian menerapkannya untuk kebaikan bersama. Harapannya kuliah bukan soal formalitas belaka dimana mahasiswa datang dan duduk di kelas mendengarkan dosen menyampaikan materi.

Tanpa ada diskusi hangat antara mahasiswa dengan dosen untuk mencari solusi permalahan yang tepat. Kemudian kuliah selesai, mahasiswa pulang dengan anggapan ilmu cukup diletakkan di atas kertas saja.  Seolah kuliah hanya tentang datang - dengarkan - pulang. Dikira tugas mahasiswa hanya memikirkan bagaimana caranya mendapatkan IPK cumlaude dan bisa segera lulus menyanding gelar sarjana. Tentu saja tidak

Tidak ada pilihan untuk menjadi mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang) tapi harus ikut organisasi. Mahasiswa harus berkecimpung di dunia organisasi. Tujuannya apa? Apalagi kalau bukan mental dan pengembangan kemampuan diri, menempa diri untuk menjadi lebih baik mengingat kita harus bisa bersaing di era MEA saat ini. 

Bagiku, menjadi mahasiswa berjenis kupu-kupu, kura-kura (kuliah-rapat), kunang-kunang (kuliah-nongkrong), kuda-kuda (kuliah dakwah) adalah sebuah pilihan yang memiliki konsekuensi. Tentu, konsekuensinya bermacam macam sesuai dengan jenis mahasiswa tersebut. Saat ini saya hanya membahas jenis kupu-kupu saja karena tulisan ini untuk menanggapi judul tersebut.

Menurut saya, kita sebagai mahasiswa harus cerdas dalam memilih tindakan mau ikut organisasi atau tidak dengan mempertimbangkan segala konsekuensinya, baik itu positif maupun negatif (jika ada). Begitu pula kita memilih menjadi mahasiswa kupu-kupu atau tidak. Konsekuensinya bermacam macam, misal ia tidak kenal dengan lingkungan kampusnya atau kurang solid antar angkatan karena dinilai kurang berkontribusi. Padahal, pada hakikatnya bisa saja ia berkontribusi tanpa sepengetahuan temannya.

Menjadi mahasiswa kupu-kupu, menurut saya, boleh saja asal ada nilai yang dijual oleh dirinya. Timbul kata mahasiswa “kupu-kupu” itu kan disebabkan oleh mahasiswa A melihat mahasiswa B langsung pulang setelah kuliah. Padahal ia tidak tahu, apa yang dilakukan oleh mahasiswa (B) kupu-kupu tersebut. Bisa saja, mahasiswa kupu-kupu tersebut langsung pulang karena sedang menulis buku, atau membuat animasi video atau apapun yang memiliki nilai jual.

Jika mahasiswa kupu-kupu tersebut membuat hal yang lebih bermanfaat, maka ia lebih baik daripada mahasiswa yang menghakimi itu. Sebagaimana, khoirunnas anfa uhum linnas, sebaik baiknya manusia adalah bermanfaat bagi yang lain. Jika itu lebih baik daripada mengikuti organisasi yang hanya menjadi beban bagi anggota lainnya, mengapa tidak? Sekarang, adakah anggota organsisasi yang malah merepotkan anggota lainnya? Jangan ditanya, banyak! Rasakan sendiri bagaimana bebannya.

Mengikuti organisasi itu hanyalah teknis atau cara untuk bermanfaat bagi orang lain. Namun, poin utamanya adalah bermanfaat bagi orang lain. Jika ia bisa menggunakan cara lain selain organisasi untuk bermanfaat bagi orang lain, menurut saya, boleh-boleh saja. Namun pertanyaannya adalah, bisakah ia bermanfaat bagi orang lain tanpa organisasi?


Biodata Penulis : 
Thufeil ‘Ammar adalah mahasiswa jurusan Teknik Kimia asal Universitas Sebelas Maret semester 3. Pemuda yang lahir di Kota Pekalongan dan sekarang masih sibuk di perkuliahan, organisasi, dan sebagai santri di Kota Solo.

No comments:

Powered by Blogger.