Mahasiswa Kunci Perubahan Bangsa

Penulis : Hari Kusuma
Menurut data statistik tahunan yang dikeluarkan oleh Kemendikbud, pada tahun 2017 setidaknya ada 1,8 Juta Siswa Lulusan SMA yang tersebar diseluruh Indonesia, di tahun yang sama lulusan SMA yang akhirnya memilih untuk mengikuti SBMPTN ada sekitar 700 ribu calon mahasiswa, sedangkan bangku kuliah yang disediakan pemerintah pada SBMPTN dari semua jalur hanya sebanyak 128.085 kursi atau hanya sekitar 10% siswa yang akhirnya melanjutkan kuliah di PT peserta SBMPTN. Sedangkan sisanya tersebar di kampus swasta atau bahkan mengurungkan niat mereka untuk berkuliah.

Sedikitnya lulusan SMA yang akhirnya melanjutkan studi ke bangku kuliah ini terjadi karena banyak faktor, namun terutama karena mahalnya biaya pendidikan tinggi. Beasiswa yang disediakan pihal universitas pada umumnya hanya diberikan kepada mereka yang berprestasi akademik atau non akademik, sedangkan mereka yang “nanggung” dalam pembelajaran dan kegiatan non akademik akan sangat susah untuk mendapat beasiswa.

Maka 70 tahun setelah kemerdekaan masih dapat disebut bahwa para pemuda yang mendapat akses pendidikan tinggi adalah mereka yang beruntung. Beruntung karena mereka mampu secara biaya atau karena mereka berprestasi dan berbakat.

Setidaknya di tahun 2018 pemerintah mengucurkan dana APBN sebanyak 40 Triliun untuk Kemenristekdikti. Hal dapat dimaknai bahwa pemerintah melakukan subsidi kepada orang-orang yang beruntung. Subsidi itu datang dari rakyat yang tak pandang kaya maupun miskin mereka berkontribusi secara tidak langsung lewat uang pajak untuk dapat mensubsidi para mahasiswa.

Semenjak terbit novel Max Havelar (1860) muncul banyak kritik dari dalam negeri Belanda dan memicu Belanda memberlakukan politik etis kepada rakyat Hindia Belanda. Semenjak tahun itu muncullah segelintir pemuda beruntung yang akhirnya dapat mengenyam pendidikan tinggi. 

Efek dari pendidikan ini para pemuda terpelajar di generasi itu akhirnya mulai sadar bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Memang tidak sedikit generasi muda terpelajar di era itu yang tetap kooporatif kepada Belanda untuk sekedar memperkaya diri atau mengamankan posisi, namun kalau kita runut generasi inilah yang akhirnya memulai pergerakan bangsa menuju kemerdekaan. Mereka yang berani menyatakan sikap kemerdekaan mulai memilih perannya.

Kelompok pemuda terpelajar itu dari generasi ke generasi selalu tak henti berdiri di posisi melawan kepada ketidakadilan, berpihak kepada kebenaran, serta berani kepada siapapun yang melakukan penindasan. Kelompok pemuda terpelajar ini bisa saya sebut sebagai mahasiswa. Mahasiswa, dapat dimaknai hanya mereka yang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, tapi dapat pula dimaknai seperti halnya pemuda terpelajar di era Hindia Belanda yang mengambil sikap keberpihakan untuk kemerdekaan.

Seperti halnya generasi-generasi sebelumnya, bahkan sebelum kemerdekaan. Tidak semua pemuda terpelajar yang beruntung telah mendapatkan akses pendidikan mau memposisikan diri sebagai wakil rakyat, berbicara atas nama nilai kebenaran juga berani melawan penjajahan dengan dasar akal budi.

Setiap identitas selalu melekat kewajiban dan tugas, semisal sebagai seorang muslim dia memiliki kewajiban untuk sholat, zakat, puasa dan haji, serta memiliki tugas sebagai kholifah fil ardh. Sebagai seorang muslim tentunya mereka menjalankan semua kewajiban tersebut, namun sering lalai bahkan tidak tahu menahu soal tugas mereka. Begitu pun dengan identitas mahasiswa.

Pada tiap mahasiswa melekat kewajiban dan tugas yang mereka emban. Kewajiban seorang mahasiswa yakni menjalankan Tri Dharma perguruan tinggi yakni : harus menyelesaikan jumlah SKS tertentu (Pendidikan), harus menyusun karya ilmiah (Penelitian) serta harus melaksanakan KKN atau program pengabdian masyarakat lain (Pengabdian)

Dari kata pengabdian kita bisa mengambil makna bahwa mahasiswa mempunyai dua peran yaitu sebagai Agent of Change dan Agent of Social Control. Dari masa ke masa dua tugas ini selalu dibebankan kepada pemuda terpelajar yang bukan tanpa alasan, karena secara struktur sosial masyarakat para pemuda ini berada di tengah : Tidak lagi bergantung kepada orangtuanya secara aturan namun di satu sisi juga belum masuk ke dunia pekerjaan. Dengan begitu kelompok inilah kelompok yang mampu independen dalam menentukan sikap.

Posisi yang independen serta merdeka ini dapat membuat sudut pandang mahasiswa terhadap sesuatu dapat objektif, bebas, mandiri, ideal serta kritis. Maka tak heran Gie sempat menulis bahwa idealisme adalah kemewahan terahir yang hanya dimiliki oleh pemuda. Karena posisi independen ini akan susah didapat sebelum dan sesudah melewati masa pemuda. 

Kelompok yang kritis, objektif dalam mengawasi pemerintahan sangatlah diperlukan. Lord acton pernah berdalil Power tends to corrupt, Absolut Power Corrupt absolutely. Akan sangat berbahaya jika kekuasaan diberikan secara absolut, tanpa ada kelompok yang berdiri di posisi independen, jauh dari kepentingan praktis serta bertindak atas dasar nilai.

Maka disini akan muncul pernyataan jika mahasiswa yang berada di posisi independen memilih untuk tidak merdeka (dalam arti yang luas). Maka bagaimana nanti jika mereka sudah tidak lagi independen?

*Hari Kusuma mahasiswa Pascasarjana Universitas Sebelas Maret yang sekarang aktif berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Islam. Hari dapat disapa di akun IG : hariku_

No comments:

Powered by Blogger.