Hemat Dalam Penyelenggaraan Pilpres Indonesia

Penulis : Thufeil ‘Ammar
Pemilihan presiden (pilpres) yang rutin diadakan 5 tahun sekali di Indonesia, merupakan momen yang menyita perhatian masyarakat Indonesia. Bahkan setahun sebelumnya dilaksanakan, isu-isu atau berita mengenai pilpres sudah ramai dibicarakan.

Bagaimana tidak? Pilpres menyangkut masa depan Indonesia. Dari pilpres inilah diharapkan muncul nama yang akan membawa Indonesia yang aman, sejahtera, dan makmur. Tentunya dalam memilih capres dan cawapres, masyarakat mempunyai sudut pandang masing-masing.

Bicara mengenai metode pemilihan presiden di Indonesia, ada beberapa hal yang menurut saya kurang efektif dalam pelaksanaannya sehingga hasil keluarannya pun tidak maksimal. Dalam hal apa saya bilang demikian? 

Pilpres mengeluarkan uang negara yang sangat banyak untuk persiapan dan pelaksanaannya. Uang negara digunakan untuk menyiapkan kertas suara, membayar petugas, dan masih banyak lainnya. Berapa kertas yang digunakan? Berapa banyak spot yang harus digunakan sebagai tempat pemilihan? Tentu banyak sekali dan ini menguras uang negara, tenaga, dan waktu.

Mengapa semua rakyat harus memilih calon presidennya? Padahal tidak semua rakyat mengetahui latar belakang atau karakter calon pemimpinnya. Mengenalnya pun saja tidak. Dan berapa jumlah rakyat di Indonesia? Berjuta-juta. Lalu kenapa kita masih memaksa rakyat yang tidak paham itu untuk memilih?

Memilih Presiden berikutnya bukan perkara sepele dan remeh. Menurut saya, Presiden dipilih memang karena dia mempunyai kapabilitas yang hebat. Bukan sembarang orang yang memilihnya. Menilik pilpres di Indonesia, kita tahu bahwa paslon yang mempunyai suara terbanyak, maka paslon itu yang menang atau berhasil mendapatkan jabatan. 

Konsep politik demokrasi inilah yang menyebabkan terpuruknya perpolitikan Indonesia. Hal ini tidak masuk akal. Pasti setiap paslon dan tim suksesnya akan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan suara terbanyak. Metode pemilihan yang salah akan menghasilkan pemimpin yang buruk.

Lalu bagaimana seharusnya pilpres Indonesia? Pilpres bisa dilakukan dengan musyawarah hangat oleh Presiden sebelumnya dan beberapa orang pilihan. Siapa orang-orang pilihan itu? Mereka adalah pakar dari beberapa ilmu seperti politik, hukum, agama, ekonomi, dan sosial. Mereka bisa Ustadz, dosen, dan Menteri. Saya yakin musyawah ini cukup efektif dan efisien serta akan mengasilkan kesepakatan yang tepat.

Metode pilpres dengan musyawarah tidak akan membutuhkan uang negara yang banyak karena tidak perlu mempersiapkan TPS di berbagai titik di Indonesia. Pilpres cukup mengundang orang-orang penting untuk bermusyawarah. Pilpres tidak akan berlangsung lama dan bisa segera memunculkan nama. Berbeda dengan metode rakyat memilih, pilpres dengan cara ini hanya memerlukan waktu beberapa hari saja. 

Sedangkan lewat cara rakyat memilih maka dibutuhkan waktu lebih dari seminggu karena harus mengumpulkan hasil suara dari berbagai daerah di Indonesia terlebih dahulu. Sekiranya begitu pendapat saya mengenai metode pilpres di Indonesia. Saya hanya ingin pilpres berjalan dengan baik dan efektif serta menghasilkan pemimpin yang berkompeten.


Biodata Penulis : 
Thufeil ‘Ammar adalah seorang mahasiswa jurusan Teknik Kimia asal Universitas Sebelas Maret. Saat ini masih menjalani perkuliahan dan aktif di berbagai organisasi. Hubungi Thufeil untuk diskusi secara langsung melalui thufeil.58@gmail.com & instagram @thufeilar 

No comments:

Powered by Blogger.