Kepada Santri Googliyah wa Onliniyah, Maaf Sekedar Mengingatkan

Penulis : Ichsan Fathurahman
Sekarang ini Gen-Z dengan segala kemudahan mendapat akses infomasi seperti keran air yang terbuka, mengalir dengan deras. Dengan sekali klik, klik ini klik itu, berita di ujung negeri sana langsung update, semua informasi mudah didapatkan. Tanpa batas.

Dengan sekali unduh, mereka dapat mendapatkan buku-buku populer hingga kitab-kitab klasik karya ulama Salafusshalih. Dunia berada di dalam genggaman, lebih tepatnya dalam genggaman gawai pintar.

Lagi-lagi karena serba cepat dan instan. Serba cepat dan instan itulah yang melahirkan kebiasaan untuk enggan melakukan cek dan recek dari informasi dan cenderung langsung mempercayai tanpa melakukan perenungan panjang dan mendalam terlebih dahulu, atau bahasa pesantrennya tabayyun.

Di tengah jutaan Gen-Z itu lahir pula generasi kaum muda muslim mempunyai kesadaran untuk mencari pengetahuan agama. Namun karena mereka lahir di tengah zaman luasnya informasi, dan enggan mondok di pesantren betulan, akhirnya mereka belajar secara cepat wa instan.

Mereka ini adalah “Santri Google”. Karena membaca dan mencari pengetahuan agamanya lewat Google. Mereka ini berciri me-like dan mem-follow akun-akun ustadz kontemporer, juga senang menghadiri kajian di Youtube atau kajian live Instagram akun tadi.

Bagi mereka prosesi follow mem-follow dan like me-like adalah proses tersambungnya sanad si santri Google. Jalan pintas sanad yang mungkin tidak didapatkan di pesantren umumnya.

Memangnya Salah Mencari Ilmu Lewat Internet?
 
Sebenarnya tidak disalahkan, bukan tempat mereka tahu / belajar Islam yang bersalah. Yang harusnya tersindir adalah sikap dan adab orang-orang ini yang gagah-gagahan. Iya mereka dengan gagah menyatakan orang lain salah, bid’ah dan tudingan negatif lainnya.

Akan lebih heboh lagi ketika pandangan orang lain bertolak belakang dengan pandangannya, maka cenderung untuk menolaknya meskipun dilengkapi dengan data yang lebih valid dan penjelasnya lebih lengkap.

Mungkin yang terjadi adalah sikap gagah-gagahan tadi untuk menyamarkan minimnya ilmu yang mereka pelajari. Ilmu yang mereka dapatkan mungkin hanya setengguk air dari luasnya samudra internet. Luas dan sangat luas.

Mental santri google
 
Kalau di pesantren betulan, diajarkan dengan yang namanya pelajaran adab, bahkan, ada yang berpendapat bahwa indahnya pesantren karena mulianya adab di dalamnya di samping pelajaran agama dan kitab-kitab tentunya.

Mentalitas beradab inilah yang harus dibangun dalam Gen-Z (generasi sesudahnya juga), mereka santun dalam bertutur kata, tidak melukai saudaranya, ber-akhlakul karimah dan yang pasti tidak sombong atas ilmu yang dimiliki. Bukankah ilmu itu ibarat padi, semakin berisi semakin menunduk?

Sebenarnya sindiran ini bukan soal darimana sebuah ilmu diperoleh. Tak masalah ilmu diperoleh dari google, media sosial atau pesantren beneran – melainkan perihal mental, sikap dan perilaku. Sebenarnya soal sikap ini bukan hanya dihindari oleh santri google, tapi juga oleh santri pesantren betulan.

Memang banyak ilmu di internet, namun untuk mengambil ilmu dari internet haruslah punya ilmu. Betapa besar bahayanya ketika mencari ilmu di internet tanpa ilmu. Mungkin masalah tidak akan besar ketika hanya sendirian.

Namun akan menjadi besar ketika ilmu sesat itu juga menyesatkan orang lain. Jika semakin luas hal seperti ini akan menjadi tabungan kekeliruan dan dosa. tidak ada satupun kata yang kita ucapkan melainkan dicatat malaikat


*Penulis bernama Ichsan Fathurahman, Mahasiswa Pendidikan Kimia Universitas Sebelas Maret Surakarta. selain aktif dalam perkuliahan, Ichsan juga aktif dalam berbagai organisasi kampus. Jika ingin menghubungi lebih lanjut silahkan email ke ichsanfath04@gmail.com

No comments:

Powered by Blogger.