Lucunya Sepakbola Negeriku

Penulis : Abdul Haris Najib
Sepakbola Indonesia memiliki sejarah panjang dalam perjalanannya hingga saat ini. Berbicara mengenai sepakbola nasional, tidak bisa dilepaskan dari adanya kompetisi liga profesional. Sebelum adanya liga profesional (modern) seperti sekarang, Indonesia pernah menyelenggarakan kompetisi sekala nasional dengan nama Galatama dan Perserikatan. 
Kedua jenis kompetisi tersebut memang berbeda sistemnya, namun keduanya tidak pernah bentrok karena tumbukan jadwal. Sampai pada akhirnya kedua kompetisi tersebut digabung menjadi satu dengan nama Liga Indonesia. Pada masa – masa awal, Liga Indonesia dianggap sebagai salah satu liga terbaik di level Asia. Selain itu, prestasi timnas pun bisa dibilang cukup mentereng di level Asia. 
Pada saat itu, timnas Indonesia dikenal sebagai salah satu macan Asia. Kemudian, Liga Indonesia berakhir pada tahun 2007 dan digantikan dengan liga modern, yaitu Indonesia Super League (ISL), yang sesuai dengan format kompetisi AFC dan FIFA. ISL sempat vakum, akibat adanya sanksi dari pemerintah, hingga akhirnya pada tahun 2017, liga dimulai kembali dengan nama yang berbeda, sesuai dengan nama sponsor.

Namun setelah meniti perjalanan yang begitu panjang itu, nampaknya sepakbola Indonesia tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan, justru terkesan stagnan bahkan mengalami kemunduran. Indonesia tertinggal jauh dibandingkan dengan Jepang, Korea, dan Qatar. 
Bahkan untuk bersaing di Asia Tenggara, Indonesia masih kalah dibanding Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Keseriusan Thailand, Malaysia dan Vietnam dalam pengembangan sepakbola modern patut dicontoh oleh Indonesia. Thailand misalnya dalam beberapa tahun terakhir terus memantapkan dominasinya, sebagai kekuatan utama di kawasan Asia Tenggara.

Ada hal lucu yang setidaknya harus menjadi cambuk bagi pihak yang mengurusi sepakbola di negara ini. Jepang yang dulunya bukan negara dimana sepakbola menjadi olahraga favorit, kenyataanya dalam dua dekade terakhir, mampu menunjukkan dirinya sebagai salah satu kekuatan sepakbola Asia yang disegani dunia. Jepang yang dulunya pernah belajar sepakbola dari Indonesia sekarang telah jauh meninggalkan kita.
Bahkan ada orang yang mengatakan bahwa sepak bola Indonesia tertinggal 100 tahun dari Jepang. Ungkapan tersebut, merupakan wujud nyata dari kondisi sepak bola indonesia saat ini. Jepang memulai liga profesionalnya yaitu J League pada tahun 1993. 
Pada awalnya kompetisi tersebut hanya diikuti oleh 10 klub saja. Namun, klub tersebut diwajibkan untuk melakukan pembinaan terhadap usia dini sampai U-12. Dengan keseriusan, kesabaran, kejujuran dan kerja keras untuk mewujudkan impianya, Jepang akhirnya mampu ikut serta dalam ajang sepakbola paling bergengsi yaitu Piala Dunia

Lalu pertanyaanya, bagaimana dengan Indonesia? Pertanyaan yang nampaknya sangat menyayat hati bagi pecinta sepakbola di negeri ini. Jangankan berpikir tentang prestasi, induk sepakbola negeri ini yaitu PSSI masih sibuk dengan urusanya sendiri. PSSI sebagai induk persatuan sepakbola Indonesia, nampaknya harus berguru kepada JFA (Japan Football Association). 
Kemajuan sepakbola suatu negara tidak bisa dilepaskan dari pengurusnya. Minggu lalu, Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi sekaligus Gubernur Sumatera Utara, menyatakan mundur dari jabatanya sebagai Ketua PSSI dan digantikan oleh Joko Driyono, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PSSI.
Namun mundurnya Edy sebagai ketua PSSI oleh sebagian kalangan bukan merupakan solusi bagi kemajuan sepakbola Indonesia. Sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang manajer klub Liga Satu, PSSI butuh perbaikan dengan mengganti pengurus (pimpinan) yang lama dengan pengrurus yang baru, yang dianggap lebih jujur, netral, berintegritas dan punya semangat untuk memajukan sepak bola Indonesia.

Pendapat tersebut jika dicermati bukan disampaikan tanpa alasan. Beberapa waktu yang lalu, publik pecinta sepakbola, dikagetkan dengan adanya kasus match fixing yang melibatkan oknum PSSI. Beberapa orang sudah ditangkap oleh satgas anti mafia bola. Dengan adanya realita seperti itu, sulit untuk dapat berbicara banyak di level Asia Tenggara serta Asia, apalagi cita–cita untuk ikut serta dalam piala dunia.

Padahal sudah tidak perlu diragukan lagi bagaimana kecintaan masyarakat Indonesia terhadap sepakbola. Mereka rela untuk meninggalkan sejenak pekerjaanya, melakukan perjalanan jauh dan membeli tiket, untuk bisa memberi dukungan kepada klub atau timnas Indonesia saat sedang bertanding.
Untuk itulah jika ingin memajukan sepakbola Indonesia diperlukan revolusi di tubuh PSSI. PSSI harus diisi oleh orang-orang yang netral, berintegritas, jujur, dan punya semangat untuk memajukan sepakbola Indonesia. Selain itu, pemerintah dan aparat penegak hukum juga tidak bisa lepas tangan begitu saja. 
Pemerintah harus tetap mengawasi jalannya kepengurusan di PSSI dan aparat penegak hukum juga harus bertindak cepat apabila ada pelanggaran hukum yang dilakukan. Selain itu, suporter juga harus bertindak dewasa, dan tidak melakukan tindakan anarkis yang dapat merusak sikap sportivitas.


*Penulis bernama Abdul Haris Najib, lahir di Kabupaten Pati, Provinsi Jawa tengah pada 15 Februari 1999. Penulis sedang menempuh pendidikan S1 di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret. Selain kuliah, Penulis aktif mengikuti berbagai organisasi kemahasiswaan, beberapa diantaranya yaitu KSP Principium, KDFH, dan FOSMI. Penulis dapat disapa di Instagram :@abdulharisnajib atau via email : abdulnajib1999@gmail.com

No comments:

Powered by Blogger.