Pesan dari Pedalaman

Penulis : Aldian AW
Aku menata api unggun di kepalaku

Menyiapkan kehangatan pada setiap kedatangan

Di dalam kemah kusembunyikan remah-remah yang kupungut dari ingatan

Barangkali aku butuh bekal yang cukup nanti malam

"Apakah talinya sudah terikat kencang?" tanyamu, seolah meragukan

"Sudah tentu saja," jawabku

Setelah kau pergi hantu-hantu membantuku menyiapkan semuanya

Kau mengangguk penuh kecemburuan

Mungkin kau berpikir seharusnya aku sendirian selama kau pergi mengutuk siang

Kini tugasku hanya menunggu

Siapa yang akan datang memadamkan bara itu

Kau atau angin gunung yang menggigilkan tulangku

Labirin

"Bacakan aku satu puisimu tentangku" katamu

Aku memilih bisu di hadapmu

Apakah benar aku yang di matamu

Atau orang lain yang serupa aku

Sebab selama ini selalu kusimpan rinduku pada labirin kata-kata

Kupastikan kau tersesat saat coba melintasnya

Jika suatu hari kau memutuskan menari dan berlari

maka kelak aku mungkin menggerutu dan bernyanyi

"Dengarkan puisiku, ini semua kamu"

Enam Belas Tiga Puluh

tanyakan pada kaum urban

apa mereka bersedih saat pulang

ketika lalu lintas berjalan lirih

dan tubuh dilanda letih

belum lagi jika hujan turun kencang

dimana jalan jadi tergenang

sehingga sulit tuk bedakan

mana jalan mana selokan

mana mimpi mana kenangan

Jika bisa menjawab barangkali ini yang mereka serukan

kami rindu kegelapan yang melenakan

kami rindu malam yang mengharukan

kami rindu keramaian tanpa keterasingan

Tentang Musi

Bukan, ini bukan New York seperti yang Aan Mansyur tulis dalam puisinya

Bukan pula Jembatan di San Fransisco yang Sapardi syairkan

Ini adalah aliran Musi yang aku ajak bercengkrama saat senja.

Tentang laut di ujung dan anak-anak nelayan yang mengadu nasibnya

Hiruk pikuk kota dan sunyi sungai tak pernah sepi 

Beradu dari hilir ke hulu

Bercerita kehidupan pada perahu tanpa lampu

Sehari sebelumnya aku membaca berita duka

Nelayan meregang nyawa tak bisa sembunyi dari maut

Tangki meledak, berduka senandungkan kalut

Vorstenlanden

Di kota dimana orang selalu dihantui waktu

Aku tak tahu siapa yang tiba lebih dulu

rindumu atau air mataku

(Semarang - Solo, Akhir 2018)

No comments:

Powered by Blogger.