Politik Identitas Dalang Intoleransi dan Perpecahan Menjelang Pemilu

Penulis : Ditarizky Wijayanti
Masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan perbedaan agama masing-masing mulai terusik kedamaiannya tanpa suatu sebab yang jelas. Tiba-tiba saja sekelompok masyarakat yang mendadak menjadi sangat sensitif bila bersinggungan dengan masyarakat dengan golongan agama yang berbeda.

Tidakkah kita semua harusnya bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan bangsa kita? Mengapa masyarakat yang beragama ini tega mengkafirkan, menyakiti, membatasi hak, mengintimidasi masyarakat lain dengan mendalilkan ayat-ayat agama untuk menyakiti sesama?

Benarkah agama mengajarkan perpecahan? Benarkah agama justru mendidik masyarakat menjadi sarana bagi tindakan intoleransi? Contohnya saja kasus pemotongan batu nisan di Jogjakarta atau dijebloskannya Basuki Tjahaya Purnama dengan tuduhan penistaan agama.

Contoh lain terjadi di kota Solo yang termasuk dalam kota 10 besar dengan tingkat toleransi tinggi di Indonesia. Masyarakat mendemo pemerintah kota berkenaan dengan gambar paving di jalan protokol karena diduga membentuk simbol agama dan dinilai sebagai upaya penyebaran agama. Apa yang sebenarnya terjadi dengan masyarakat kita? Apa yang menjadikan toleransi begitu mahal untuk kita rasakan?

Ditinjau dari segi politik, fenomena di atas terjadi karena adanya isu politik identitas. Menurut Eric Heirej politik identitas adalah gerakan yang berusaha membela dan memperjuangkan kepentingan kelompok-kelompok tertentu yang tertindas karena identitas politiknya.

Mengapa politik identitas cenderung berdampak massif dan berpotensi menimbulkan perpecahan? Hal ini dikarenakan adanya politik identitas ini menyebabkan digunakannya identitas untuk menggelitik “nalar” bahwa golongan mereka sedang dalam keadaan under attack. Sehingga timbul keinginan untuk mempertahankan golongan yang merasa diserang.

Politik identitas yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia adalah yang berkaitan dengan agama. Politik identitas tak aral sering digunakan para calon pemimpin mendekati massa pemilihnya guna memenangkan dan memecah belah suara lawan dalam pemilu. Strategi politik identitas ini juga yang membawa pasangan Donald Trump beserta wakilnya memenangi pemilihan presiden di Amerika Serikat.

Politik identitas akan menjadi senjata yang luar biasa kuat untuk menggalang dukungan sekaligus emosi masyarakat secara massif dengan cara menggoreng isu hangat yang menyinggung dan membuat kaum mayoritas terpantik.

Sedangkan bila kita lihat dari kajian psikologis, Erik H.Erikson menjelaskan bahwa pada awalnya manusia dilahirkan dalam keadaan sama. Namun seiring dengan perkembangan, manusia memilah dirinya menjadi berbagai macam adat istiadat, agama, ideologi dan lain-lain.

Kemudian manusia menciptakan kotak-kotak semu. Ketika terjadi perubahan penuh guncangan, maka gagasan menjadi spesies paling unggul dipertahankan melalui ketakutan yang fanatis dan timbul kebencian terhadap kelompok lain.

Hal inilah yang menjelaskan sikap intoleran kaum mayoritas dengan legitimasi nilai-nilai agama yang tidak seutuhnya diserap dengan baik. Sehingga tak aral muncul menjadi tindakan-tindakan yang dipaksakan dan di luar nalar kepada kaum-kaum minoritas.

Buya Syafii bahkan melontarkan kekhawatirannya terkait dengan politik identitas. Menurutnya gerakan-gerakan yang berbasis politik identitas membahayakan masa depan Indoesia, karena cenderung anti pluralisme dan berujung pada anti demokrasi dan anti nasionalisme. Ingat bahwa di balik keributan akan selalu ada pihak yang diuntungkan. Pertanyaan sederhananya, sampai kapan kita mau dimanfaatkan?

Lantas apa upaya terbaik yang bisa kita lakukan? Tanamkan sikap toleransi yang menjunjung tinggi pluralisme. Pluralisme bukan nihilisme dan sinkreteisme. Pluralisme menurut Siti Musdah Mulia adalah perjumpaan komitmen untuk membangun hubungan sinergis satu dengan yang lain.

Dengan demikian, pluralisme tidak bermaksud melebur berbagai identitas yang ada tetapi merangkai dengan indah identitas itu demi tujuan kemanusiaan.

Semoga kedamaian dan logika yang jernih selalu mengiringi langkah kita semua dalam beragama, jangan sampai kita menyakiti kaum lain dengan melegitimasi ayat-ayat agama yang sebenarnya hanya dimainkan oleh segelitir orang guna menggapai tonggak kekuasaan.

*Penulis bernama Ditarizky Wijayanti Mahasiswi FH Universitas Sebelas Maret. Penulis pernah menjabat Kepala Deputi Kajian dan Kebijakan Publik Kementrian Luar Negeri BEM FH UNS 2017 dan sekarang aktif di organisasi KSP Principium, Komunitas Debat Fakultas Hukum dan Business Law Society. Penulis bisa disapa melalui blog: ditarizkyw.wordpress.com Instagram: @ditarizkiu, twitter: @ditarizkiu dan email: wditarizky@gmail.com

No comments:

Powered by Blogger.