Resensi Film Bird Box : Fenomena Bunuh Diri Karena Skizofrenia

Penulis : Intan Baretta 
Bird Box kini sedang menjadi perbincangan hangat oleh para pecinta film tak terkecuali di Indonesia. Karena kehebohannya bahkan banyak muncul meme dan bird box challenge di Amerika Serikat yang terinspirasi dari adegan film ini. 

Film besutan Netflix ini juga telah menjadi film paling sukses karena telah ditonton oleh 45 juta orang hanya dalam kurun waktu tujuh hari sejak pertama kali dirilis. Keberhasilan Bird Box tidak lepas dari pilihan mengusung artis Sandra Bullock yang bermain sebagai pemeran utama Malorie.

Film Bird Box sendiri bercerita tentang dunia yang sedang menghadapi kekuatan misterius dan mengakibatkan punahnya manusia secara massal. Diawali dengan adegan Malorie yang memberikan peringatan untuk kedua anaknya ‘girl’ dan ‘boy’ bahwa selama perjalanan tidak boleh membuka penutup mata karena ada entitas misterius dimana orang yang melihatnya akan melakukan tindakan bunuh diri secara mengerikan.

Film ini bercerita dengan alur maju mundur. Sejak Malorie dan kedua anaknya melakukan perjalanan melalui hutan dan sungai yang berbahaya untuk menemukan tempat berlindung dan tidak bisa dicapai oleh entitas jahat tersebut. 

Cerita mundur kelima tahun sebelumnya saat entitas itu mulai menyerang Rusia hingga akhirnya ke Amerika dan perjuangan Malorie yang sedang mengandung bersama teman-temannya secara acak bertemu di suatu rumah untuk saling melindungi diri dari entitas tersebut. 

Bunuh diri disebabkan Scizofrenia
Film Bird Box ingin menjelaskan bahwa bunuh diri bukanlah bersifat alamiah namun memiliki keterkaitan dengan hal mistis, yaitu makhluk yang tak terlihat. Pertanyaan yang terbesit ketika menonton film ini adalah bagaimana entitas ini bisa membuat orang melakukan bunuh diri? 

Hipotesis jawaban di atas adalah adanya kekuatan misterius dikombinasikan dengan penglihatan dan pendengaran dapat menyebabkan orang yang melihat entitas tersebut berhalusinasi. Seperti yang dijelaskan ketika awal terjadinya kekacauan, Malorie berhalusinasi melihat ibunya yang telah meninggal 10 tahun sebelumnya.

Ini terjadi saat ia melihat entitas tersebut dan ingin bunuh diri dengan berjalan ke mobil yang terbakar. Juga di akhir film ketika Malorie dikejar dan dihasut oleh suara-suara orang yang dicintainya untuk membuka matanya dan melakukan bunuh diri.

Jika ditinjau secara umum, bunuh diri memiliki pengertian yakni perbuatan yang secara sengaja dan sadar seseorang mengakhiri kehidupan sehingga menyebabkan kematian. Dalam kebanyakan kasus, orang yang melakukan bunuh diri diakibatkan karena ketidakmampuan individu dalam mengalami tekanan hidup yang dialami.

Delaney dalam jurnalnya menyebutkan bunuh diri adalah pernyebab kematian terbesar penderita skizofrenia. Menurut penelitian oleh Kiran Jakhar terhadap 250 penderita skizofrenia di New Delhi didapatkan pencederaan diri sendiri sebesar 22,59% dan dari angka tersebut 10% juga melakukan percobaan bunuh diri. 

Ide bunuh diri oleh penderita skizofrenia bisa pula disebabkan oleh halusinasi auditorik (pendengaran). Menurut Fialko halusinasi auditorik berhubungan dengan ide bunuh diri yang berasal dari suara negatif dan mendorong tindakan bunuh diri.

Seberapa lama suara tersebut menyebabkan penderitaan dan intesitas penderitaan tersebut akan menyebabkan kecenderungan melakukan tindakan bunuh diri semakin kuat. Penderita ini disebut dengan Skizofrenia Paranoid, biasanya penderita melakukan tindakan bunuh diri karena adanya suara-suara bisikan (halusinasi).

Begitu juga di film Bird Box ini seperti saat terjadi wabah skizofrenia yang disebabkan oleh entitas tersebut sehingga siapapun dapat berhalusinasi seperti melihat sesuatu yang menakutkan atau mengerikan dalam bentuk makhluk ataupun yang memiliki keterkaitan dengan hidup manusia tersebut, sehingga membuatnya terdorong untuk membunuh dirinya. 

Sebelum didorong untuk melihat, manusia-manusia ini juga diberi halusinasi pendengaran dari suara-suara orang yang dicintainya untuk memaksa mereka melihat entitas jahat tersebut. 

Kedua macam halusinasi tersebut terbukti dari segi medis dapat menyebabkan penderita skizofrenia terdorong untuk menyakiti diri sendiri bahkan bunuh diri. 

Di tengah film diceritakan ternyata ada orang-orang yang terkecualikan sehingga tetap dapat melihat entitas tersebut namun tidak melakukan bunuh diri. 

Bisa dianggap mereka pengikut entitas dan mempunyai tugas untuk menghasut dan memaksa orang lain untuk membuka mata dan melihat sehingga membuat mereka bunuh diri secara mengerikan. Hal itu diceritakan ketika Gary (Tom Hollander) memberikan sedikit penjelasan terkait kelompok ini. 

Gary tidak menyebutkan secara spesifik tentang orang ‘gila’ ini namun ia menyebutkan bahwa kelompok ini entah mengapa memiliki kesamaan: mereka tidak menerima efek pengaruh bunuh diri saat melihat entitas tersebut.

Bisa jadi kelompok orang ‘gila’ ini merupakan penderita scizofernia yang terbiasa berhalusinasi sehingga entitas yang bermaksud memberikan efek halusinasi tidak berpengaruh dan mereka justru ikut menjadi pengikut dari entitas ini untuk menyebarkan halusinasi bunuh diri. Sedikit spoiler ternyata Gary juga bagian dari kelompok tersebut, he-he-he 

Kemudian pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah bagaimana dengan orang-orang buta yang tidak pernah melihat entitas tersebut? Selamat! Karena pertanyaan tersebut akan menjurus pada ending dari film ini. 

Tempat akhir yang menjadi tujuan dari perjalanan Malorie dan kedua anaknya adalah sebuah panti tunanetra atau tempat yang berisi dengan orang-orang buta. 

Karena memang entitas ini hanya menyerang penglihatan manusia maka salah satu cara melindungi diri adalah dikelilingi oleh orang-orang yang tidak bisa melihat karena mereka tidak akan bisa mengalami halusinasi.

Di sini yang dimaksud adalah orang tuna netra sejak lahir sehingga tidak bisa mengalami halusinasi penglihatan karena tidak ada bentuk atau pemandangan yang ditangkap. 

Meskipun begitu ada tuna netra terutama yang baru mengalami kehilangan penglihatan karena Charles Bonnet Syndrom atau halusinasi visual. Ini adalah halusinasi biasa yang seakan-akan seseorang bisa melihat sesuatu yang tidak nyata. 

Namun overall, meskipun film horror ini menghasilkan jumlah penonton yang fantastis dalam sejarah Netflix, kesan kengerian yang diberikan film ini masih kurang karena penonton masih bisa menebak-nebak apa yag bisa terjadi selanjutnya. 

Banyak orang menyamakan konsep Bird Box seperti film A Quiet Place, yang membuat berbeda hanyalah di Bird Box entitas jahat ini hingga diakhir film sengaja tidak diungkapkan. 

Terlepas dari itu Bird Box memberikan konsep segar di dunia film horor bahwa ketidakmampuan menjaga kewarasan dan kondisi mental bisa menjadi musuh bersama dan menyebabkan pemusnahan massal manusia.

*Intan Baretta mahasiswi FH UNS yang juga aktivis HMI FH UNS. Penulis dapat disapa di akun IG @Intan Baretta

No comments:

Powered by Blogger.