Resensi Novel Ronggeng Dukuh Paruk

Penulis : Rizal Abdurrahman
Pembaca pernah menonton film Sang Penari yang dirilis pada 2011 lalu? Film tersebut merupakan film yang diangkat dari novel berjudul Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Novel ini dibuat oleh Ahmad Tohari sebagai trilogi sejak tahun 80-an, dengan judul Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Biang Lala. Namun pada terbitan-terbitan terbaru, ketiga novel ini dijadikan satu dengan judul Ronggeng Dukuh Paruk saja.

Sebagai penulis, Ahmad Tohari konsisten membawa pengalaman hidup di desa dalam karya-karyanya. Ahmad Tohari telah memenangkan beberapa penghargaan seperti penghargaan dari PWI Jateng Award 2012 dan Southeast Asian writers Award karena karyanya.
 
Saya sendiri tertarik membeli dan membaca novel ini dengan ekspektasi awal akan disuguhkan penggambaran kondisi perdukuhan kecil di Jawa dengan segala kekayaan yang ada sekaligus konflik-konflik di dalamnya. Bagaimana Ahmad Tohari menceritakan kesederhanaan sekaligus kekayaan itu dengan bentuk novel? Narasi yang saya sendiri merasa sangat kekurangan, meskipun hidup dan besar di pedukuhan sedari kecil.

Sebenarnya saya kesusahan untuk menceritakan secara singkat apa yang diceritakan dalam novel ini, karena begitu banyak hal yang ingin ditonjolkan dalam novel ini. Untuk mempermudah saya akan membuat sinopsis singkat per-bagian buku.

Buku satu yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk menceritakan ketika anak-anak Dukuh Paruk yang sedang bermain, antara lain Rasus, Srintil, Warta dan Dasun. Mereka melihat bakat Srintil ketika menari. Sakarya, tetua di Dukuh Paruk, pun melihat bakat itu. Ia yakin bahwa Srintil cucunya telah kerasukan indang ronggeng. Indang adalah semacam wangsit yang di muliakan di dunia peronggengan.
 
Ia pun menceritakan hal itu pada Kertareja, dukun ronggeng di dukuh tersebut. Pagelaran pun diselenggarakan, orang-orang Dukuh Paruk yang telah lama menanti hadirnya seorang ronggeng di dukuh tersebut berkumpul untuk menyaksikan. Diceritakan telah belasan tahun sejak ronggeng terakhir di Dukuh Paruk meninggal belum ada lagi penggantinya. Ronggeng sendiri adalah satu-satunya hal yang membuat pedukuhan tersebut merasa hidup di tengah keterasingan, kemelaratan, dan kebodohan yang turun temurun di Dukuh Paruk.

Pertunjukkan ronggeng Srintil malam itu seakan membuat orang-orang Dukuh Paruk lupa terhadap pageblug yang menimpa Dukuh Paruk sebelas tahun sebelumnya. Bahwa bapak Srintil, Sentayib, telah membawa petaka dengan banyak korban, termasuk ronggeng terakhir Dukuh Paruk. Sentayib adalah penjual tempe bongkrek, pada suatu pagi Ia tak menyadari bahwa tempenya telah tercampur dengan zat beracun karena bokor tembaga. Hal tersebut membuat banyak orang di dukuh paruk meninggal. 
 
Sentayib membela diri dengan membuktikan sendiri memakan tempe bongkrek buatannya itu di depan para warga yang telah mengepungnya di rumah. Ia pun tewas bersama istrinya, meninggalkan Srintil yang masih bayi. Sejak itu Srintil menjadi yatim piatu dan di asuh oleh kakeknya Sakarya.

Buku pertama ini juga menceritakan tokoh Rasus, laki-laki yang berusia empat belas tahun. Ia adalah teman bermain Srintil, karena sesama korban petaka tempe bongkrek mereka akrab karena sesama yatim piatu. Tetapi setelah pertunjukan malam itu ia merasa menjauh dari Srintil. Kehadiran Srintil sendiri bagi Rasus telah mengobati kerinduan terhadap sosok perempuan di hidupnya, entah itu sebagai kecintaan, atau sebagai pengganti citra emak yang belum pernah ia rasakan.
 
Namun, meski ia mendapat perhatian, Rasus semakin lama semakin menyadari bahwa Srintil bukan miliknya seorang, sekarang Srintil adalah milik Dukuh Paruk seluruhnya. Hingga di suatu malam di makam Ki Secamenggala, makam leluhur Dukuh Paruk yang menjadi kiblat kebatinan mereka, Srintil berhasil diupacara untuk menjadi ronggeng.

Ada syarat lain dalam peronggengan, syarat terakhir seorang gadis sah menjadi ronggeng adalah dengan Bukak-Klambu. Bukak-klambu adalah semacam sayembara yang terbuka bagi laki-laki manapun. Laki-laki yang dapat menyerahkan sejumlah uang yag ditentukan oleh dukun ronggeng akan dapat menikmati keperawanan Srintil.
 
Ya, Sayembara keperawanan. Rasus pun kecewa mengetahui ada hukum menjijikkan seperti itu yang akan dilakukan sritil untuk menjadi seorang ronggeng. Ia minggat, Ia pergi bekerja ke pasar dawuan, sebuah kota kecamatan di daerah tersebut. Ia mengasingkan diri di sana. Di pasar tersebut ia semakin terbuka pengetahuannya. Ia baru menyadari bahwa di luar dukuh paruk, mencubit pipi seorang perempuan saja bisa jadi masalah.

Ada yang berceletuk ketika ia melakukan itu, “Di sini memang pasar. Perempuan yang datang berbelanja kemari tidak semua berasal dari Dukuh Paruk. Seorang sundal pun jika ia bukan perempuan dukuh paruk, akan marah bila tersentuh pipinya di depan orang banyak. Meski hanya pura-pura, namun demikianlah adanya”. Semakin jauh dari Dukuh Paruk semakin Rasus dilanda nilai-nilai baru dalam hatinya. Bahwa selama ini di Dukuh Paruk sikap cabul begitu wajar, tidak demikian ditempat lain.

Rasus kemudian mendapat pekerjaan lain dari militer didaerah tersebut sebagai pengangkut barang-barang. Setelah lama ia bersama para tentara, ternyata ia juga diperbantukan untuk hal-hal lain. Suatu kali ia juga dapat membantu para tentara untuk menumpas perampokan di Dukuh Paruk, dukuh nya sendiri. Pada malam itu Ia dibangga-banggakan oleh penduduk dukuh paruk. Dengan pikiran sederhana bahwa Rasus dapat menjadi pelindung dukuh paruk. Malam itu ia tidur ditemani Srintil yang tampak semakin cantik dan kaya. 
 
Dari obrolan mereka dapat ditangkap bahwa Srintil mulai menginginkan hadirnya seorang anak. Ia meminta itu pada Rasus. Pergulatan batin tampak terlihat dari Srintil yang mulai mempertanyakan eksistensinya sebagai perempuan yang utuh, bukan sebagai ronggeng atau perempuan dukuh paruk.

Buku Kedua
Bagian buku kedua berjudul Lintang Kemukus Dini Hari menceritakan kesedihan Srintil karena di tinggal Rasus. Kesedihan itu selain membuatnya mogok tak ingin meronggeng juga membuatnya merenungi banyak hal. Ia mulai terganggu dengan pertanyaan dalam hatinya, “Mengapa diriku seorang ronggeng?”. Pertanyaan itu hadir atas perkiraan Srintil bahwa: kalau ia bukan ronggeng, Rasus takkan meninggalkannya.

Pada sore itu, Srintil mendapat tamu dari panitia Agustus-an. Ia ditawari untuk mengisi acara di kantor kecamatan. Sebuah kebanggan bagi dukuh paruk yang terpencil itu. Kegembiraan berkecamuk di Dukuh Paruk. Srintil menerima untuk meronggeng kembali pada peringatan agustusan hari itu. Di hari itu nampaknya hanya sakarya yang tidak larut dalam kegembiraan. Dalam filsafatnya yang sederhana, bahwa segalanya berpasang-pasangan, termasuk kegembiraan yang berlebihan ini. Pastilah pasangannya adalah kesusahan.

Tahun itu adalah Agustus tahun 1963, orang-orang Dukuh Paruk melihat bahwa pada panggung malam itu banyak orang berpakaian merah, di sana sini juga terbentang kata-kata “rakyat korban kaum penindas”, “revolusi”, “kesenian rakyat” dan kata-kata lain yang tidak dikenal oleh orang-orang di dukuh Paruk. 
 
Acara dimulai dengan agitasi dan propaganda yang membakar semangat para pendengarnya. Acara berlangsung meriah. Setelah acara malam itu, Ronggeng dukuh paruk mulai banyak diajak naik pentas ketika acara propaganda-propaganda. Sebuah kebanggan bagi Dukuh Paruk bahwa mereka menjadi selaris itu, meski mereka tak tahu menahu mengenai agenda apa yang dibawa para orator itu.

Sampai suatu ketika berita-berita tidak mengenakkan masuk melibatkan Dukuh Paruk. Bahwa katanya di Jakarta para tentara sedang saling bunuh. Banyak orang ditangkap, termasuk orang-orang dukuh Paruk yang terlibat dalam proganda-propaganda. Rumah-rumah penduduk dukuh Paruk dibakar. Tragedi ini menimbulkan banyak sekali konsekuensi. Menjadikan dukuh yang terpencil itu menjadi semakin diasingkan.

Buku Ketiga
Buku ketiga berjudul Jantera Bianglala. Menceritakan kondisi Dukuh Paruk pasca tragedi pembakaran rumah-rumah, dan sekarang tanpa Ronggeng dan Pemimpin, karena baik Srintil, Sakarya, dan Kertareja ikut ditangkap oleh tentara pada waktu itu. Walaupun beberapa bulan kemudian Sakarya dan Kertareja dibebaskan, tidak demikian dengan Srintil. Ia tetap ditahan.

Suatu ketika, Dukuh Paruk didatangi oleh seorang dengan seragam tentara. Semua orang dukuh Paruk sembunyi ketakutan. Baru setelah tahu kalau tentara itu adalah Rasus dan masih mengganggap dirinya orang dukuh paruk, mereka baru berani menyambutnya. 
 
Ia kembali ke dukuh itu untuk menjenguk neneknya yang semakin tidak sehat. Beberapa hari Rasus di dukuh paruk, neneknya meninggal. Rasus hendak kembali melaksanakan tugasnya sebagai tentara, namun Ia di pesani oleh orang-orang dukuh Paruk untuk membantu membebaskan Srintil. Rasus pun Pamit.

Tak lama kemudian Srintil pulang. Ia menjadi begitu berbeda dari Srintil yang sebelumnya. Pengalaman menjadi seorang ronggeng tenar di penjara membuat sifat Srintil menjadi lebih pendiam. Ia hanya bisa terhibur dengan mengasuh Goder, anak Yu Tampi tetangganya. Tak banyak orang yang ingin menjalin hubungan dengan orang dukuh Paruk, apalagi ronggeng Srintil. Mereka ketakutan jika dihubung-hubungkan dengan peristiwa sebelumnya yang menyeret dukuh Paruk. 
 
Namun masih saja ada yang ingin menjalin hubungan dengan Srintil, yaitu Marsusi dan Bajus. Diceritakan sebenarnya Marsusi adalah orang kaya yang sempat ditolak oleh Srintil beberapa kali. Sekarang Ia duda dan ingin berusaha kembali. Walaupun akhirnya gagal karena kecerobohannya sendiri.
 
Hati Srintil mulai terbuka terhadap Bajus, seorang pekerja kontraktor yang ditugaskan untuk membuat bendungan di sekitar dukuh paruk. Srintil menaruh hati pada Bajus, Ia sangat berharap dapat menjadi Ibu Rumah tangga biasa seperti yang Ia impikan sebelumnya. Srintil menilai Bajus merupakan pribadi yang baik, ia tidak ingin mendekatinya semata-mata karena hasrat seksual seperti laki-laki yang dikenalnya selama ini. Apakah novel ini berakhir dengan happy ending? Silakan baca sendiri selengkapnya. hehe

Bagi saya, untuk dapat membaca novel ini secara nyaman adalah dengan mengerti terlebih dahulu bahwa yang ingin diceritakan dalam novel ini adalah tentang perubahan-perubahan budaya dan kondisi dukuh paruk dalam tiap-tiap dekadenya. Ahmad Tohari nampaknya begitu serius menggambarkan perubahan-perubahan itu dalam novel ini.
 
Saya kira pembaca yang hanya ingin terfokus pada kisah cinta Ronggeng Srintil dan tentara Rasus, ataupun pembaca yang mungkin tidak terlalu familiar dengan kondisi pedukuhan di Jawa akan banyak terganggu dengan penggambaran suasana dukuh yang seakan bertele-tele dan menjenuhkan untuk dibaca.

Namun sebenarnya justru hal itu yang ingin ditampilkan dalam novel, penggambaran alur dan konflik yang terjadi memang tidak secara langsung diceritakan, namun secara tersirat digambarkan melalui alur berpikir dan kepercayaan orang-orang Dukuh Paruk itu sendiri dalam menghadapi masalah yang ada.

Melalui tokoh Srintil kita diajak ikut merenungi eksistensi keperempuanan. Bagaimana ia berusaha mengerti hakikat dirinya sendiri dari karakter seorang ronggeng yang berkali-kali mengalami konflik fisik dan batin. Hal ini juga dapat kita lihat pada karakter Rasus yang mulai terbuka pada nilai-nilai baru setelah keluar dari dukuh paruk. 
 
Karakter-karakter lain juga tak kalah, bagaimana Sakarya sebagai Bromocorah atau Kamitua dukuh melihat tanda-tanda alam yang digambarkan begitu masuk akal, juga tentang filosofi-filosofi hidupnya yang sederhana dalam menghadapi masalah yang menimpa Dukuh Paruk. Saya kira ekspektasi awal saya memang tercapai ketika membaca novel ini.

Kelebihan novel ini bagi saya adalah kecermatan penulis dalam menceritakan situasi, kepercayaan, serta cara berpikir orang-orang dukuh paruk. Ia juga dapat menggambarkan secara tersirat dampak konflik politik yang tanpa sadar membuat orang-orang dukuh yang tak tahu menahu juga ikut terseret. Kelebihan lain adalah begitu banyak filosofi-filosofi hidup yang secara sederhana dapat digambarkan baik melalui perenungan tokoh Srintil, Rasus, ataupun Sakarya.

Jika harus mencantumkan, kekurangannya adalah terlalu banyak konflik yang ingin diceritakan yang kadang proporsinya tidak seimbang, sehingga pembaca mungkin akan kesulitan menemukan mana klimaks ceritanya serta pesan yang ingin disampaikan.
 
Apalagi ditambah penggambaran suasana yang begitu detil. Secara umum, saya tetap merekomendasikan novel ini kepada pembaca yang berminat terhadap novel yang menceritakan kesederhanaan dan kekayaan, konflik, serta filosofi hidup di Pedukuhan.

No comments:

Powered by Blogger.